detikHot

premiere

'Bangkok Traffic (Love) Story': Kisah Cinta yang Dewasa

Senin, 03 Mei 2010 07:45 WIB - detikHot
Jakarta - Bila ini kisah cinta mestinya aku berhasil mengejar pesawatnya, keluh Li dengan sedih. Kisah cinta yang baik memang selalu berakhir di bandara, ketika sang dambaan membatalkan keberangkatannya pada detik-detik terakhir. Tapi, itu tidak terjadi pada Li.

Ini memang kisah cinta yang berbeda. Saya menyebutnya sebagai kisah cinta yang dewasa, di mana kencan-kencan tidak harus berakhir di ranjang dan acara nonton film bisa diganti dengan melihat bintang di planetarium sambil berdiskusi tentang komet yang melintasi bumi 75 tahun sekali.

Li (Sirin Horwang) adalah perempuan kota tengah berada di puncak kegelisahannya karena masih lajang pada usianya yang sudah mencapai 30 tahun. Film ini dibuka dengan adegan-adegan awal yang tidak meyakinkan bahwa alur akan berkembang menjadi sedemikian kuat, intens dan menarik. Usai menghadiri pernikahan temannya, Li mabuk dan ikut menginap di hotel tempat mempelai melewatkan malam pertama. Saya sempat merasa, ini kok kayak bokep Thailand yang pernah saya beli di Glodok. Pulangnya dini hari, mobil yang dikemudikan Li mengalami kecelakaan. Peristiwa itu menjadi jalan pertemuan bagi Li dengan cowok ganteng yang punya nama unik, Paman (Theeradej Wongpuapan), seorang teknisi di perusahaan kereta api listrik BTS.

Li yang tak pernah pacaran kesulitan mencari cara untuk menindaklanjuti pertemuan itu agar bisa mengenal Paman lebih dekat. Belakangan, dia belajar dari ABG cantik tetangganya, Plerd, bahwa memberikan nomor telepon merupakan cara yang mudah dan efektif untuk mengawali sebuah hubungan. Perilaku konyol dan norak Li sebagai cewek kolot yang kurang pengalaman untuk urusan cowok menjadi bahan eksplorasi untuk memberikan bumbu humor yang menggelitik bagi film ini. Begitulah, dengan perkembangan alur yang pelan dan agak datar, film ini dengan sabar mencuri dan melibatkan emosi penonton untuk masuk ke dalam cerita.

Sutradara Adisorn Tresirikasem merekam kehidupan sehari-hari Bangkok, dengan segala kemacetannya yang mirip Jakarta, dan kehidupan masyarakat urbannya, berikut sosiologi keluarga-keluarga kelas menengah yang disibukkan dengan menonton sinetron dan acara gosip di televisi. Sederhana, dekat, real dan natural.

Dengan durasi dua jam lebih 6 menit), film ini mengingatkan kita pada film-film 'komedi-romantis' Prancis yang panjang, tabah dan detil dalam menyelami psikologi tokoh-tokohnya. Paman adalah karakterisasi yang menarik. Insinyur teknik yang pernah berpacaran dengan artis terkenal, lalu menjalani kehidupan seorang diri, bekerja pada malam hari dan tinggal di sebuah rumah unik di tepi kanal dengan pemandangan siluet gedung-gedung tinggi dan perahu-motor yang melintas.

Sedangkan Li berasal dari keluarga urban Cina yang pulang-pergi kerja harus berganti 4-5 kali angkutan umum, dan di rumah harus menghadapi ayah-ibunya yang galak ditambah neneknya kadang cerewet. Kisah cinta Li dan Paman menjadi tidak mudah karena dua-duanya sudah sama-sama bukan remaja lagi, tidak menggebu-gebu dan sama sekali tidak ada yang agresif.

Bahkan, Paman yang ternyata akan dikirim studi ke Jerman pun, sampai hari menjelang keberangkatan tidak memberi tahu Li, dan hal itu membuat cewek itu marah, sedih dan putus asa. Sampai di sini, film ini mestinya tertebak, dan kita pun menggumam, "klise!" sambil membanting punggung ke sandaran kursi. Tapi, ketika Li ternyata tak berhasil mengejar pesawat Paman, kita pun sama putus asanya dengan Li, dan ikut menangis bersamanya.

Dan kehidupan Li berlanjut setelah kepergian Paman, dan kita tanpa rasa bosan sedikit pun menunggu sambil menebak-nebak bagaimana akhir dari ini semua. Seperti menunggu komet yang hanya melintasi bumi 75 tahun sekali, bahkan ada yang lebih lama lagi. Paman adalah komet yang melintasi di kehidupan Li dan begitu pun sebaliknya, Li bagi Paman. Bagi komet, berapa juta tahun pun waktu yang diperlukan untuk melintas, tidaklah menjadi masalah.

Satu hal yang membuat kita iri pada film ini adalah kejeliannya untuk mengangkat sesuatu yang sederhana dan dekat dalam kehidupan urban yang kita jalani sehari-hari, yakni sistem transportasi kota. Sutradara Thailand bisa melakukannya karena memang ada BTS yang bisa dibanggakan. Di sini, ada KRL dan busway yang semakin hari makin membuat kita sedih...

Mumu Aloha: pengulas film.
(iy/iy)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com