'Under The Tree', menghadirkan tiga plot berbeda. Masing-masing plot itu dibalut dengan tradisi yang dilakoni masyarakat Bali. Maharani (Marcella Zalianty) adalah perempuan yang mencari ibu kandungnya. Ia mengetahui ibunya adalah seorang penari yang tinggal di Bali. Di sana, ia tinggal di sebuah perkampungan penari. Namun bukan bertemu sang ibu, Maharani malah jadi tersangka di kasus penjualan bayi.
Plot yang satu lagi berkisah tentang seorang gadis, Nian (Nadia Shapira) yang berlatar belakang dari keluarga kaya. Ia pun jatuh cinta kepada seorang laki-laki tua (Ikranagara). Namun laki-laki itu sebetulnya sudah dianggap meninggal dan telah diupacarakan lewat upacara Ngaben.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat 'Under The Tree' kita seperti menyaksikan rangkuman kebudayaan masyarakat Bali. Mulai dari pentas tari Calonarang yang bisa menyebabkan kematian para pemainnya hingga upacara Ngaben tersuguh dengan apik di film tersebut.
Semakin kental budaya lokal, ketika kita mendengar dialog dalam bahasa Bali yang terlontar dari mulut para pemainnya. Hanya Marcella yang bertutur dalam bahasa Indonesia, sementara Nadia menggunakan bahasa slang khas remaja Jakarta. Garin tidak memberikan skenario kepada para pemainnya. Sang sutradara membebaskan para pemainnya untuk mengeksplorasi kemampuan akting. Alhasil, akting para pemainnya pun terasa natural.
Di 'Under The Tree', Garin Nugroho menampilkan maestro-maestro seni asli Bali. Di antaranya, sang maestro tari yang kini telah berusia 80 tahun Ni Ketut Cenik, Ayu Ketut Muklen, Ni Ketut Arini, I Ketut Rina dan Dr. Bulan Trisna Djelantik.
Berbeda dengan film-film Garin sebelumnya, 'Under The Tree' menyajikan gambar yang lebih dinamis. Lewat gambar yang terus bergerak, Garin berusaha untuk menyuguhkan karakter-karakter para pemainnya. Namun sayang warna yang ditampilkan terasa suram, sementara kebudayaan Bali akrab dengan warna-warna mencolok. (hkm/eny)











































