detikHot

new-release

Totalitas Hollywood di 'Foxtrot Six'

Kamis, 21 Feb 2019 21:15 WIB Silvia Galikano - detikHot
Foto: Foxtrot Six Foto: Foxtrot Six
Jakarta - Hanya satu generasi dari sekarang, tahun 2031, perubahan iklim memenuhi nubuatnya. Ekonomi dunia ambruk.

Tanah nyaris tak lagi dapat ditanami. Harga makanan meroket, sama mahalnya dengan minyak. Manusia tak bisa makan setiap hari. Itu pun hasil mengais di tempat sampah.

Di antara sangat sedikit lahan yang masih subur dan dapat ditanami adalah Indonesia, yang membuat negara ini melaju jadi calon kuat negara superpower ekonomi dunia.

Adalah Angga Saputra (Oka Antara), mantan Marinir yang jadi anggota kongres dari partai politik berkuasa di Indonesia, Piranas. Dia spesialis menangkal setiap gerakan pemberontakan terhadap Piranas.

Angga mendapat tugas dari atasannya di pemerintahan, Soeganda (Cok Simbara), untuk menumpas kelompok kuat yang memberontak, Reform. Dia harus kembali terjun ke militer dan berkoordinasi dengan Wisnu (Edward Akbar), pemimpin paramiliter yang terkenal kejam.

Untuk menjalankan tugas barunya, Angga mengumpulkan kembali lima koleganya di Marinir dulu: Oggi (Verdi Soliman), Bara (Rio Dewanto), Tino (Arifin Putra), Ethan (Mike Lewis), serta Spec (Chicco Jerikho).

Tim ini bekerja cepat dan efektif. Namun dalam suatu serangan, Angga tertangkap dan disekap di sebuah tempat rahasia.

Di penyekapan ini Angga bertemu tunangannya yang lama hilang dan dia kira sudah meninggal dalam tugas peliputan, Sari Nirmala (Julie Estelle). Sari, yang ternyata bergabung dalam Reform, meluruskan kelompok macam apa sebenarnya Reform.

Benarkah rakyat kelaparan semata-mata karena sumber daya alam yang habis ataukah juga karena partai yang berkuasa demikian korup? Lantas ke mana Angga akan berpihak, ke Reform bersama Sari atau tetap Piranas?

Film laga Foxtrot Six sepenuhnya disampaikan dalam bahasa Inggris. Sejak awal, penulis skenario dan sutradara Randy Korompis sudah menulisnya dalam bahasa Inggris.

Hal tersebut dapat ditangkap dari idiom-idiom yang hanya pas jika diucapkan dalam bahasa Inggris. Akan mustahil kalau asalnya bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Penggunaan bahasa Inggris ini tak lepas dari keinginan rumah produksi MD Pictures memasarkan Foxtrot Six ke mancanegara, termasuk Hollywood. Ongkos produksi pun tak tanggung-tanggung, mencapai Rp70 miliar, dan merangkul 20 produser.

Untuk tujuan itu ditunjuklah Mario Kassar sebagai produser eksekutif. Kassar adalah produser film-film action Hollywood era 1980-an dan 1990-an, seperti First Blood (1982), Total Recall (1990), Terminator 2: Judgement Day (1991), Universal Soldier (1992), Stargate (1994), dan Terminator Salvation (2009).

Tak heran jika kita dapat jumpai kecanggihan-kecanggihan Terminator di sini, juga jokes para jagoan Foxtrot Six sama menggelikannya dengan dulu Arnold Schwarzenegger di seri Terminator.

Teknologi computer graphics interface (CGI) dikerahkan di hampir sepanjang film untuk menghadirkan suasana masa depan, juga senjata-senjata canggih nan mematikan.

Di tengah kemegahan tampilannya, Foxtrot Six luput memperhatikan sejumlah detail. Seperti banyak film Hollywood yang bertema kehancuran di masa depan (doomsday), film ini keder ketika menggambarkan rakyat miskin di masa depan.

Orang berbaju compang-camping mengais isi gerobak sampah, delman-delman yang ditinggal kudanya, serta satu karung goni berisi makanan digantung di pucuk tiang yang hanya dapat diperoleh dengan memanjat tiangnya yang licin (seperti lomba panjat pinang) dan mengalahkan para lelaki lain secara brutal. Apa iya demikian? Ini masa depan apa masa lalu?

Belum lagi gambaran ganjil api yang dinyalakan di tong-tong sampah jalanan galibnya gelandangan di Amerika mencari hangat. Di Indonesia yang gerah ini, kita tidak perlu sampai membakar sampah atau ban di dalam tong untuk menghangatkan diri.

Selain itu, sah-sah saja menggunakan bahasa Inggris sepanjang film, namun penting diingat bahwa latar belakang ceritanya di Indonesia dengan karakter orang Indonesia.

Kekhasan Indonesia, terutama lewat gestur manusianya, absen di sini. Tinggal bayangkan jika seluruh pemainnya diganti pemain Hollywood, film ini juga jadi.

Dengan karakter-karakter orang Indonesia yang di-Hollywood-kan tanpa ada rasa Indonesia, apa nilai tambah film ini sebagai produksi Indonesia? Belum lagi pemunculan sponsor yang provokatif di awal, tengah, serta akhir film, yang 'nggak gitu juga kali'.


(dal/dal)

Photo Gallery

screenshoot-movie

Aksi Iko Uwais di 'Mile 22'
Aksi Iko Uwais di Mile 22

screenshoot-movie

Aksi Iko Uwais di 'Mile 22'
Aksi Iko Uwais di Mile 22

screenshoot-movie

Aksi Iko Uwais di 'Mile 22'
Aksi Iko Uwais di Mile 22

screenshoot-movie

Aksi Iko Uwais di 'Mile 22'
Aksi Iko Uwais di Mile 22

screenshoot-movie

Aksi Iko Uwais di 'Mile 22'
Aksi Iko Uwais di Mile 22

screenshoot-movie

Aksi Iko Uwais di 'Mile 22'
Aksi Iko Uwais di Mile 22

screenshoot-movie

Aksi Iko Uwais di 'Mile 22'
Aksi Iko Uwais di Mile 22
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com