'The Search of Everything': Album Ter-baper John Mayer

Rendy Tsu - detikHot
Minggu, 23 Apr 2017 13:14 WIB
Foto: John Mayer/Columbia Records
Jakarta - Setelah digoda oleh John Mayer dengan 2 EP yang diperdengarkan lebih dulu, akhirnya album penuh ketujuh miliknya, 'The Search of Everything' dirilis juga. Meski 8 dari 12 lagu yang ada bukanlah lagu baru lagi, bukan berarti John Mayer menghilangkan unsur kejutan di dalamnya.

Ia memilih untuk merilis albumnya dengan cara yang tidak lazim, membaginya kedalam beberapa gelombang, karena menurutnya terlalu banyak lagu yang akan dirilis sekaligus. Well, mungkin ini ternyata ada benarnya juga, para pendengar dapat lebih menghayati perasaan yang dicurahkan di setiap bagian, satu per satu, tidak hanya single-nya 'Love on The Weekend'.

Bicara tentang perasaan, mungkin 'The Search of Everything' merupakan album ter-baper milik John Mayer. Di album ini, John membahas soal kerinduannya bersama mantan pacar (kode keras untuk sosok anonim yang saya yakini sebagai Katy Perry) dalam lagu 'Still Feel Like Your Man' yang mencuri simpati.

John Mayer, yang selama ini dikenal dengan image playboy-nya, bahkan mengakui bahwa ini pertama kalinya ia merekam sesuatu berdasarkan apa yang ia benar-benar rasakan, tentang pertemuan, serta perdamaian dengan rasa sakit dan kehilangan. Studi tentang cinta yang tidak ada.

Meskipun keseluruhan tema album ini adalah tentang patah hati dan perpisahan, studi tentang cinta yang tidak ada, tapi musiknya sesungguhnya tidak menyedihkan. Misalnya 'Moving On and Getting Over', dengan standing applause khusus dari saya kepada trio lama nan setia dari John Mayer Trio, Pino Palladino (bassist) dan Steve Jordan (drummer) yang menjadi alasan mengapa album ini memiliki groove renyah dan aransemen lentur.

Beberapa orang mereferensikan album ini terdengar mirip Continuum, salah satu album tersukses milik Mayer di tahun 2006; jembatan R&B, pop dan balada soul yang seimbang, tanpa meninggalkan soul seperti album live, Try (2005) yang dirilis John Mayer Trio. Jelas lebih disukai ketimbang dua album sebelumnya Paradise Valley (2013) atau Born And Raised (2012), egoisme tingkat tinggi dari seorang John Mayer yang kala itu sedang terobsesi dengan musik country dan folk.

'The Search of Everything', akan terdengar bagus jika pada dasarnya anda menyukai John Mayer di era awal. Namun, sesungguhnya album ini akan menjadi jauh lebih baik, seandainya tidak dipaksakan menjadi bentuk penyesalan yang disengaja.

Mungkin John Mayer harus belajar dari Robin Thicke yang pernah melakukan hal serupa; mengajak balikan sang mantan istri, Paula Patton, dengan merilis album cengeng bertajuk 'Paula' beberapa tahun silam. Sayangnya ia tidak berhasil, malah terkesan menertawakan diri sendiri. Hati-hati, John.

Rendy Tsu (@rendytsu) saat ini bekerja sebagai Social Media & Content Strategist. Selain aktif sebagai penulis lepas, ia juga pernah menjadi Music Publicist di salah satu perusahaan rekaman terbesar di Indonesia. (dal/dal)