Berkibar sendiri lewat album 'I Cry When I Laugh', apakah susah bagi Jess untuk menentukan blueprint untuk musiknya sendiri? Dalam sebuah wawancara, ia mengakui bahwa dirinya memang sempat kesulitan menentukan konsep musiknya. Namun berangkat dari menjadi vokalis tamu di beberapa single yang sudah disebut tadi, nampaknya ranah house dan dance pop memang paling cocok dibawakannya.
Terbukti lewat single andalan 'Right Here', sebuah dance track yang sangat pas dengan karakter vokalnya. Sebagai kacang yang tak lupa kulit, ia pun mengajak Clean Bandit untuk mengiringinya dalam track bertajuk 'Real Love'. Tak dapat dipungkiri, suaranya masih sangat menyatu dengan gaya bermusik Clean Bandit. 'Donβt Be So Hard On Yourself' juga dikemas dalam konsep dance pop yang catchy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Glynne juga menghadirkan ballad manis berjudul 'Saddest Vanilla' di mana ia berkolaborasi dengan Emeli Sande. Sebuah track yang menampilkan sisi lain yang bisa diproduksi dari vokalnya, membuat lagu ini sedikit menyerupai lagu-lagu Adele. Dalam dan menyentuh. Namun hal ini tidak terlalu berhasil lewat ballad 'Take Me Home' yang tanggung dan cenderung membosankan.
Nampaknya Jess memang masih meraba, konsep musik mana yang kira-kira pas untuknya. Apakah itu lagu-lagu berbau dance yang upbeat atau lagu-lagu galau ala Adele, Emeli Sande, dan Sam Smith, yang mana sudah terlalu banyak pelakunya. Walau begitu 'I Cry When I Laugh' masih termasuk kategori album debut yang sukses dan memiliki banyak lagu andalan untuk dijadikan hit.
Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.
(mmu/mmu)











































