'Personal Record' Eleanor Friedberger: Kamuflase untuk Patah Hati

'Personal Record' Eleanor Friedberger: Kamuflase untuk Patah Hati

- detikHot
Jumat, 02 Agu 2013 10:46 WIB
Personal Record Eleanor Friedberger: Kamuflase untuk Patah Hati
Jakarta - Saya akan memperkenalkan Eleanor Friedberger kepada Anda melalui sebuah lagu. Pernah mendengar lagu berjudul 'Eleanor Put Your Boots On' milik Frans Ferdinand? Perempuan asal Amerika Serikat ini dahulu memang pernah kencan dengan Alex Kapranos, vokalis Franz Ferdinand. Lagu 'Eleanor Put Your Boots On' disinyalir mengenai perempuan itu. Oke, tidak tahu juga kebenarannya, semua hanya dugaan orang. Tapi, mungkin akan lebih mudah saya perkenalkan Eleanor Friedberger sebagai personel dari duo The Fiery Furnaces, salah satu band indie rock asal New York City yang cukup bergengsi.

The Fiery Furnaces mengusung indie rock yang mengandung banyak elemen psychedelic dalam aransemen musiknya, namun album solo Eleanor bertajuk 'Personal Record' ini mengambil sound ’70-an yang lebih kuno dan terdengar lebih organik. Dan, pada kenyataannya, album ini terdengar ringan dan bahagia. Walaupun ketika diperhatikan setiap liriknya, banyak yang bercerita mengenai patah hati berkepanjangan atau dendam yang masih meninggalkan jejak di hati. Bagaimanapun Friedberger mampu membungkusnya dengan manis dan ceria. Ia menulis album ini bersama Wesley Stace (alias John Wesley Harding, seorang musisi folk dan penulis lagu).

Dalam sebuah wawancara Friedberger mengatakan bahwa satu cerita besar di album 'Personal Record' adalah lagu cinta kepada siapapun. Bisa kepada kekasih, mantan kekasih, atau siapa saja. Salah satu track yang terdengar sentimental adalah 'Echo Or Encore' yang berlirik, "I want you all around me, envelop me in sound/ Smother me, pummel me, cover me, humble me/ The silence with noise with a song in your voice/ I adore you as before, your echo or your encore..." Terlantun sempurna dengan aransemen bosas yang diiringi gitar akustik serta piano.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun salah satu lirik terbaik menurut saya ada dalam lagu 'I Am the Past' yang berbunyi, "I am the past you’ll never forget me/ I’d probably come back and stay if you let me… I’m your first time, I’m the worst/ I’m the first time you’ve ever rehearsed/ I’m the ghost and ex-girlfriend/ But mostly I’m me, I’m the past to infinity..." Sebuah lirik yang sangat jumawa, dinyanyikan dengan santai diiringi aransemen musik akustik yang sangat indah dan ringan. Ia bagai melantunkan sebuah dendam dalam bungkusan yang sungguh manis.

'I Don’t Want To Bother You' merupakan lagu pembuka bertempo medium yang tidak berusaha terlalu keras. Sementara 'When I Knew' merupakan sebuah cerita bagaimana ia tergila-gila terhadap seseorang dan gencar mengejarnya. Satu lagi ratapan nasib hadir dalam track 'I’ll Never Be Happy Again'. Sementara 'Stare At The Sun' adalah lagu tentang menolak putus cinta yang sangat menarik. Simak liriknya, "If that was goodbye then I must be high/ You know I’ll be seeing you soon/ If that was goodbye, then I must be high/ You must be the sugar I need/ I’ll try not stare at the sun..."

Apabila dapat disimpulkan, sebagian besar dari lagu-lagu dalam album ini berisi mengenai gengsi seorang perempuan ketika dihadapkan pada perpisahan dan patah hati. Bagaimana ia menolak untuk mengakui bahwa cinta sudah bertepuk sebelah tangan dan dengan keras kepala mencoba menghapus jejak sakit hati yang sudah melekat di jiwa dan raga. Sebuah kamuflase yang unik, diiringi oleh aransemen musik yang keren dan Friedberger melantunkannya cerita-ceritanya dengan sangat baik.

Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.


(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads