Empat pria Inggris kembali mengguncang musik dunia. Bukan, mereka bukanlah The Beatles. Keempat pemuda dengan pakaian yang seronok aneh ini memainkan musik folk-rock dengan cara yang mengagumkan. Terdiri atas Marcus Mumford, Ted Dwane, Ben Lovett, dan Winston Marshall, mereka menamakan diri Mumford & Sons.
Mereka mungkin memang tidak bisa berdandan. Tapi, jelas sekali mereka bisa bermain folk, bahkan lebih bagus dibandingkan orang Amerika pada umumnya. Baru mengeluarkan 2 album, dua-duanya langsung menyabet gelar 'Album of The Year' di dua ajang yang berbeda. Album pertama 'Sigh No More' (2009) berjaya di BRIT Award 2011, dan album kedua 'Babel (2012) belum lama ini mengguncang Grammy Awards. Sebuah catatan sejarah dalam musik folk-rock.
Awalnya, 'Babel' yang bertempo lebih cepat, lebih bertenaga, dengan melodi yang lebih populer dianggap telah melakukan penghinaan terhadap musik folk. Tapi, sebagian yang lain menggangap 'Babel' sebuah pencapaian yang lebih tinggi dibandingkan 'Sigh No More'. Mulai dari menjadi album dengan penjualan tercepat di UK (lebih dari 159.000 album di minggu pertama), menjadi album terlaris yang mencetak penjualan 600 ribu keping CD pada minggu pertama dirilis di Amerika, hingga puncaknya ketika naik ke podium untuk menerima Piala Grammy. Apa sebenarnya isi dari "lbum terbaik tahun ini"tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Lovers of The Light' dan 'Whisper In The Dark' yang dibuka dengan lebih sendu juga tidak kalah menarik. Dua lagu itu cukup untuk membuat Anda merasakan pengalaman folk yang menyenangkan dan serius menjadi satu. Jika mencari materi yang lebih lokal, 'Loversβ Eyes' menjadi salah satu pilihan yang saya sarankan. Dengan melodi yang paling familiar (setidaknya jika dibandingkan dengan lagu lainnya), 'Loversβ Eyes' mengalun lembut dengan petikan akustik, hingga akhir reff pertama, suasana langsung berubah ketika aksen gitar yang menggagetkan langsung mengubah suasana menjadi 180 derajat. Drastis dramatis.
Mumford & Sons juga masih sering memasukkan lirik tentang hubungannya dengan Tuhan dalam albumnya ini. Seperti dalam 'Below My Feet' dan 'Not With Haste'. Walau ada juga yang digabungkan dengan umpatan, I took the road and I f*cked it all away/ Now in this twilight how dove you speak of grace dalam lagu yang berjudul 'Broken Crown', mirip dengan lirik kontroversinya dalam hits 'Little Lion Man'. Romansa dalam 'Reminder' juga masih memuat unsur religius.
Memang, tidak belebihan memberikan predikat 'Album of The Year' pada 'Babel'. Mumford & Sons menggabungkan unsur folk rock, melodi pop, lirik gospel dengan semangat indie yang membentuk sebuah ekspresi musikal yang baru ke dalam album ini. Perfecto! Dan, satu hal yang bisa dicontoh dari mereka adalah sikap mereka dalam bermusik. Tidak peduli dengan pandangan orang terhadap musik apa yang mereka mainkan, atau pakaian yang mereka kenakan. Yang penting, hasilnya folk tidak pernah seindah ini sebelumnya.
Rendy Tsu (@rendytsu) music director radio, album reviewer dan blogger yang mendedikasikan tulisannya untuk musik.
(mmu/mmu)











































