Album 'Coexist' The XX: Sebuah Momen Janggal yang Indah

Album 'Coexist' The XX: Sebuah Momen Janggal yang Indah

- detikHot
Senin, 19 Nov 2012 16:08 WIB
Album Coexist The XX: Sebuah Momen Janggal yang Indah
Jakarta - Sejak kemunculan mereka pada 2009, The XX menyuguhkan sesuatu yang jarang dijamah oleh para grup atau musisi lain yang telah ada. Mereka memaksimalkan atmosfer sepi sebagai latar belakang dari musik minimalis yang mereka ciptakan, sehingga menghasilkan track-track yang membius. Tidak perlu riff gitar yang rumit, atau beat yang dipoles oleh berbagai layer.

Cara Oliver Sim dan Romy Madley Croft menyanyi pun sunyi, mengendap-endap, dan cenderung berbisik. Hebatnya, ramuan superminimalis itu menghasilkan hits yang menohok, seperti 'Islands' atau 'Crystalised'. Album debut mereka termasuk sangat impresif, tanpa harus menghasilkan hits yang terkesan dibuat dengan berusaha terlalu keras, bahkan berhasil mendapatkan Mercury Music Prize.

Album kedua mereka, 'Coexist' ini seperti meneruskan perjalanan album self-titled mereka yang akan menyeret Anda ke dalam sebuah ruang yang lebih sepi dan kosong. Entah bagaimana caranya, mereka telah melakukan kekuatan magisnya sekali lagi. Nyanyian berupa bisikan dengan lirik-lirik merunjam tetap menjadi kekuatan grup asal London ini. Sound-sound yang mereka suguhkan terdengar lebih terpoles tanpa harus membumbuinya terlalu berlebihan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

'Sunset' merupakan cerita kisah cinta yang berkepanjangan seolah tak berujung, namun tidak pernah menemukan titik temu, ...I always thought it was sad, the way we act like strangers/ After all that we had, we act like we had never met/ We make believe, I've never seen your face, you neither mine/ And catch my eye, don't register a smile/ You were more than just a friend, oh but the feeling...It never came to an end, I can't bear to see you....

Duet Oliver Sim dan Romy Madley Croft bersahutan menyerukan kalimat-kalimat galau yang jarang diliputi gengsi merupakan salah satu elemen terindah dari keseluruhan materi yang ada dalam album ini. Contohnya dalam 'Fiction' ketika mereka bernyanyi, I wake up alone, with only daylight between us/ Last night the world was beneath us, tonight comes, dear love/ Were we torn apart by the break of day?/ You're more than I can believe, would ever come my way....

Atau, dalam 'Reunion' ketika terdapat seruan semacam, If I wait too long, I'll lose you from my sight/ Maybe tonight I could stop dreaming, and start believing in forever/ And it's burning inside 'til you give it up/ How long should I wait?/ There's no need to hide, from this...Only you in here.

Jika diibaratkan, Coexist merupakan teman yang pas dalam menyertai perjalanan hangover Anda setelah mengalami suatu malam penuh hingar-bingar gegap-gempita. Sebuah dimensi mengawang mereka hadirkan, seiring dengan aransemen yang lebih minimalis dan kadang menghantui. Seperti sebuah perasaan yang selalu berkecamuk dalam hati, namun enggan untuk diakui dan dinyatakan.

Namun, setiap kali fajar datang, perasaan tersebut menyerbu, membuat jiwa seketika menjadi gamang. Namun, bagaimanapun, Anda tetap menikmati sebuah momen janggal yang indah tersebut.

Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.


(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads