Begitu dirilis, album itu langsung menempati posisi terhormat, baik di chart Billboard Heatseekers Albums maupun di UK Albums Chart. Tidak hanya industri musik yang terpikat oleh kharismanya, ranah fashion juga memujanya sebagai salah satu penyanyi stylish dengan gaya yang unik dan sekejab dijadikan panutan.
Musik yang ditawarkannya merupakan alternative/indie rock dengan twist yang unik dan karakter yang kokoh. Mengambil esensi art rock klasik dari Kate Bush, sedikit roh dari PJ Harvey dan Cat Power, lalu menggabungkannya dengan sedikit gaya baroque nan megah, sehingga terciptalah suguhan musik yang megah dan beda dari yang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhir Oktober 2011, Florence and the Machine meneruskan perjuangannya di kancah musik dengan merilis album kedua, 'Ceremonials' yang tak kalah dahsyat. Masih dengan benang merah sama, album ini menampilkan lagu-lagu yang bernuansa epic dan teatrikal, dengan choir, harpa, drum dengan echo yang membahana, serta lirik-lirik yang menggetarkan.
Tidak terlalu ambisius seperti album pertama, memang. Di sini ia terasa lebih effortless namun hasilnya justru jauh lebih indah. 'Ceremonials' langsung menempati posisi 1 di UK Albums Chart ketika baru dirilis, dan dalam dua hari pada minggu pertamanya berhasil terjual sebanyak 94.050 kopi. Album ini pun bertengger di posisi puncak Billboard 200 (yakni di chart Rock Albums, Digital Albums, serta Alternative Albums).
Florence yang kadang menyanyi dalam nuansa mencekam mampu membungkus semua lagunya menjadi terdengar impresif. Simaklah dalam lagu-lagu seperti 'Only If For a Night', 'Remain Nameless', 'What The Water Gave Me', dan sebagian besar dari lagu-lagu yang ada pada album ini.
Jika Anda sempat mengalami euforia saat mendengarkan 'Dog Days Are Over', maka di album ini 'Shake It Out' jelas bisa menjadi substitusi untuk lagu tersebut. Lagu ini memiliki reffrain yang super-catchy, aransemen nan eksplosif, lengkap dengan shout-out khas Florence Welch. Sementara 'Breaking Down' yang teatrikal terdengar seperti The Divine Comedy versi perempuan.
Atau, mungkin Anda akan jatuh cinta pada 'All This And Heaven Too', sebuah lagu yang mencoba melukiskan satu kata yang sangat sulit untuk diucapkan secara gamblang βdan saya menebak itu adalah cinta. Florence menyanyikannya dengan sepenuh hati, didukung aransemen musik yang benar-benar menjelaskan perasaan penuh cinta dan berbunga-bunga. Simak liriknya yang manis namun penuh gengsi:
And the heart is hard to translate, it has a language of it's own/ It talks and tongues and quiet sighs and prayers and proclamations... But with all my education, I can't seem to commend it/... And I would put them back in poetry/ If I only knew how, I can't seem to understand it... And I would give all this and heaven too,I would give it all if only for a moment/ That I could just understand the meaning of the word you see/ 'Cause I've been scrawling it forever, but it never makes sense to me at all...β
Saya rasa lagu tersebut adalah lagu terindah yang ada di album ini. Jadi, jika Anda rasa album 'Lungs' belum cukup memuaskan, maka 'Ceremonials' merupakan pelengkapnya. Dan saya yakin, Florence Welch masih merayakan masa kejayaannya untuk periode yang cukup lama lewat album ini.
(mmu/mmu)











































