Day 1 Nugrossinema, Meet The Director
Senin, 14 Mar 2005 08:10 WIB
Jakarta - Kali ini giliran film maker, Nugrossinema yang nongkrong di my zone Detikhot. Jadi selama lima hari kedepan kita akan lihat apa saja aktivitas mereka sehari-hari baik kegiatan yang berhubungan dengan film maupun enggak. Organisasi yang beranggotakan Fajar, Darwin, Anas dan Hasyim ini berdiri sejak tahun 2002 lalu. Mereka telah menghasilkan beberapa film independent. Siang itu sekitar pukul 13:00 detikhot janjian ketemu Fajar di Rumah Kopi, salah satu tempat hang-out yang lumayan ngetop di Yogya. Tapi berhubung lagi sibuk detikhot agak telat nih, pukul 13.00 tepat detikhot baru meluncur ke lokasi dengan sedikit ngebut. Benar saja, sampai di sana Fajar sudah menunggu bersama dua temannya. Detikhot langsung mengenalkan diri, dan dengan ramah mereka membalas, "Fajar, eh kenalin ini Hasyim, marketingnya Nugrossinema dan ini temenku Rudy," katanya mengenalkan.Tak butuh waktu lama, detikhot segera berbincang akrab sekaligus wawancara dengan cowok-cowok film maker ini. Mereka bercerita tentang berbagai pengalaman bikin film yang sudah lumayan sering mereka lakoni. Termasuk film terakhirnya 'Jogja Needs a Hero' yang merupakan film dokumenter perdana mereka. "Film dokumenter ini terinspirasi dari isu badai Harvey yang akan memporak-porandakan kota Jogja," ungkap Fajar memulai cerita. Menurut Hasyim, tadinya tahun ini mereka berniat vakum untuk menyelesaikan kuliah yang sempat terbengkalai, "ceritanya tahun ini kita pingin lulus kuliah dulu, baru nanti bikin film lagi. Tapi berhubung ada momen yang menarik, ya sayang kalau nggak dimanfaatkan," ujar Hasyim. Nugrossinema yang menjadi payung mereka selama ini, namanya diambil dari nama belakang Fajar yaitu Nugroho. Nah biar tambah keren, akhirnya dipakai nama Nugros yang terispirasi dari Tyo 'Dewa' yang punya nama Nugros dibelakangnya. Komunitas film ini terbentuk pada tahun 2002 ditandai dengan film perdana berjudul 'JakJogLik'. Film ini bercerita tentang sepasang kekasih yang berpacaran jarak jauh. Tahun 2003 mereka kembali dengan 'Dilarang Mencium di Malam Minggu' dan 2004 dengan 'Sangat Laki-laki'. Dari ketiga film yang pernah dibuat, Fajar berperan sebagai sutradara. Tapi, meski begitu, cowok yang satu ini enggan disebut sebagai sutradara,"aku nggak punya basic penyutradaraan soalnya," katanya menjelaskan.Tahun 2005 ini Fajar cs dateng lagi, kali ini ia akan meluncurkan sebuah film dokumenter. Seperti yang udah dijelasin diatas, film yang menghabiskan waktu satu bulan untuk pra produksi, produksi dan pasca produksi ini terispirasi dari ancaman badai harvey yang sempat membuat masyarakat Jogja panik."Suatu malam, 4 Februari 2005 adikku masuk ke kamarku dengan membawa selebaran dari kepolisian yang bertuliskan 'Peringatan Siaga Satu Untuk Jogja'. Dia terlihat sangat panik, " katanya. Waktu itu ia mengaku masih cuek, tapi tiba-tiba ia mendapat ide cemerlang. Ia berfikir bahwa kemungkinan besar seluruh masyarakat Jogja panik setelah membaca selebaran tersebut. Maka dengan cekatan ia menyambar handycam warisan ayahnya yang bisa dibilang cukup tua dengan kekuatan batere cuma 5 menit. Dengan modal kamera tersebut ia keluar rumah, dan benar saja hampir sebagian masyarakat terlihat panik. Berawal dari situ, Fajar berniat untuk menjadikan momen-momen tersebut dalam sebuah film. Selama kurang lebih 11 hari dengan 11 buah handycam yang dipinjam bergantian, ia berusaha semaksimal mungkin merekam segala bentuk kepanikan dan kejadian yang ada di kota Jogja. So, mau tahu lebih banyak tentang 'Jogja Needs a Hero', baca aja wawancaranya disini. Oke deh, waktu udah menunjukkan pukul 15:00 wib dan saatnya Fajar, Rudy dan Hasyim harus ke sebuah seminar yang diadakan di salah satu gedung di jalan Solo. Besok di hari kedua, kita bakal lihat bagaimana diskusi seru antara Fajar cs dan Sutradara film Brownies, Hanung Bramatyo. Nggak mau ketingggalan kan? Simak besok ya guys..! (fta/)











































