Film ini pun memberi kesan seorang laki-laki atau wanita dengan mudahnya menikah. Di film ini rasa-rasanya menikah sama halnya dengan menu cepat saji dimana cukup pergi ke counter makanan, langsung pesan, jika menu masih ada maka makanan siap di konsumsi.
Intrik dalam film ini pun sangat biasa saja seperti kematian ibu Furqan dan ketika Ana bercerai. Cerita yang terlalu memaksakan Ana berdamping dengan Furqan, sementara mantan suami Ana yang sangat dipaksakan bersama dengan Artis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekedar masukan setidaknya ceritanya akan lebih baik jika Ana mendampingi, mendoakan bahkan memberi kekuatan suaminya yang divonis AIDS sampai sembuh. Toh ternyata suaminya hanya tertipu. Begitu mudahnya istri menceraikan suami dalam film ini, seperti kisah artis jaman sekarang.
Dari akting sangat bagus dengan penampilan pemain senior yang ada namun menjadi hambar dengan kualitas film yang serba dipaksakan panjang tetapi jalan cerita yang datang dan biasa saja. Semoga film Indonesia selanjutnya bisa lebih baik dalam cerita dan kualitasnya. Jaya terus film Indonesia!
oleh: freddie.ljuenberg@gmail.com (Makasar)
(hkm/hkm)











































