Musik dangdut kembali ramai dan viral di Indonesia. Kemunculan genre hipdut perpaduan musik dangdut dengan sentuhan musik kekinian ikut menarik perhatian generasi muda, khususnya Gen Z.
Fenomena tersebut, turut dikomentari tiga penyanyi dangdut senior yang tergabung dalam grup 3 Kembang, yakni Ikke Nurjanah, Cici Paramida, dan Kristina.
Cici Paramida bahkan merasakan langsung bagaimana lagu lawasnya kembali populer setelah hampir tiga dekade dirilis. Lagu Jangan Tunggu Lama-Lama yang dirilis pada 1995 kini kembali viral dan banyak dibuat dalam berbagai versi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, nggak tahu kenapa di akhir tahun 2025, masuk tahun 2026, kok lagu itu sekarang muncul lagi," kata Cici Paramida saat ditemui di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).
Menurut Cici, lagu tersebut kembali mendapat perhatian setelah banyak orang meng-cover-nya. Menariknya, lagu tersebut juga ikut digemari oleh generasi Z.
"Dan alhamdulillahnya lagu itu bisa viral dengan berbagai macam versi. Nah, akhirnya dari lihat banyaknya yang meng-cover lagu itu... Iya, dengan Gen Z juga. Akhirnya nggak mau ketinggalan dong. Aku akhirnya buat juga dari label Musica dengan versi hipdut Jangan Tunggu Lama-Lama yang musiknya memang lebih dibuat ke Gen Z," beber Cici.
Kristina punya pandangan tersendiri mengenai kembali ramainya musik dangdut. Menurutnya, dangdut sebenarnya tidak pernah benar-benar sepi.
"Dangdut dari dulu sampai sekarang itu tidak pernah mati. Waduh, mantap ya kan. Tidak ada matinya," kata Kristina.
Ia pun kurang setuju jika fenomena hipdut disebut sebagai tanda dangdut baru kembali populer. Sebab, menurut Kristina, musik dangdut selalu memiliki tempat di tengah masyarakat.
"Jadi kalau dibilang sekarang dangdut ramai lagi, nggak, dari dulu udah ramai. Karena setiap pertunjukan selalu ada dangdut. Kalau tidak ada dangdut, sepi," tuturnya.
Kristina kemudian menceritakan pengalaman ketika menghadiri berbagai acara. Ia mengaku, beberapa kali justru diminta tampil untuk meramaikan suasana meski acara tersebut awalnya tidak secara khusus menghadirkan penyanyi dangdut.
"Pasti dia nanya, 'mana dangdutnya?' gitu lo. Misalkan ya, aku selalu kalau aku memang penyanyi dangdut ya nyanyi untuk meramaikan suasana kan," ujarnya.
"Tapi pada saat aku misalkan ada di acara, beberapa kali nih aku rasain ya, dia tidak memanggil penyanyi dangdut, dia lihat ada Kristina, ditarik aku. Suruh ngeramein. Eh bener, itu berapa kali, sering banget," kata Kristina.
Bagi Kristina, hal tersebut menjadi salah satu bukti dangdut masih dibutuhkan dalam berbagai momentum.
"Jangan bilang dangdut itu sepi. Tidak ada kata sepi. Acara-acara pilkada kek, acara kawinan kek, acara apa kek, itu selalu ada dangdutnya," tegas Kristina.
Ikke Nurjanah menilai perkembangan musik dangdut merupakan bagian dari dinamika musik dan kehidupan masyarakat. Menurut Ikke, musik pada dasarnya merupakan pilihan dan selera masing-masing orang. Namun, dangdut tetap memiliki peran dalam berbagai acara dan suasana.
"Iya, jadi musik itu sebenarnya kan pilihan ya, selera dan sebagainya. Tapi, dangdut itu pasti mewarnai di setiap percikan-percikan acara gitu," kata Ikke Nurjanah.
Ia menilai dangdut memiliki kemampuan untuk menggugah suasana, bahkan mengubah situasi yang awalnya serius menjadi lebih santai. Ikke juga melihat dangdut bukan hanya berdiri sebagai satu genre, tetapi turut memberikan warna terhadap genre musik lainnya.
"Jadi aku ngerasa bahwa ini apa ya, musik yang menggugah orang dari yang serius banget, bisa jadi nggak serius banget ya. Jadi dia bagian dinamika dari kehidupan, dan dinamika juga bagian dari musik. Jadi dangdut itu mewarnai dari genre musik lainnya juga," pungkas Ikke Nurjanah.










































