Promotor Nakal dan Lalai Bahayakan Penonton Konser Musik

ADVERTISEMENT

Promotor Nakal dan Lalai Bahayakan Penonton Konser Musik

Tim detikcom - detikHot
Sabtu, 05 Nov 2022 07:05 WIB
Penampakan lautan manusia di festival musik Bedendang Bergoyang di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10/2022). Puluhan orang dilaporkan pingsan.
Foto: Penampakan lautan manusia di festival musik 'Bedendang Bergoyang' di Istora Senayan, Jakarta Pusat. Puluhan orang dilaporkan pingsan. (Foto: Dok. Polisi)
Jakarta -

Promotor diimbau untuk tidak lalai dan nakal dalam hal menjaga ketertiban, keamanan, dan keselamatan penonton yang menyaksikan acara musik gelaran mereka. Hal ini masih menyangkut kejadian di festival musik Berdendang Bergoyang beberapa waktu lalu.

Berdendang Bergoyang disorot karena kehebohan di lokasi konser. 27 orang pingsan saat menyaksikan acara ini. Polisi kemudian turun tangan dan mengusut kasusnya. Ada dugaan promotor menjual tiket melebihi kapasitas dari venue acara.

Polisi menilai jatuhnya korban dalam acara ini merupakan tanggung jawab promotor. Mereka lalai sehingga mengakibatkan penonton berada dalam situasi yang membahayakan.

"Ya korban itu, korban akibat kelalaian menempatkan orang pada situasi berbahaya," tegas Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Komarudin.

Berdendang Bergoyang awalnya meminta izin keramaian ke Satgas COVID-19 sebanyak 5000 penonton. Kemudian perizinan ke Polres Metro Jakarta Pusat sebanyak 3000 orang.

Kenyataannya, Berdendang Bergoyang sampai hari pelaksanaan masih menjual tiket sehingga penonton yang hadir sejumlah 27 ribu orang. Di hari kedua dan ketiga pun festival tersebut dihentikan.

Kelalaian dan nakalnya promotor Berdendang Bergoyang berimbas pada konser musik lainnya di Indonesia. Salah satu yang hangat dibicarakan adalah konser 30 tahun Dewa 19 yang harus ditunda sampai tahun depan. Ahmad Dhani, pendiri band itu berharap tak ada lagi promotor yang nakal.

Menyoal promotor Berdendang Bergoyang yang dinilai nakal dan lalai, APMI (Asosiasi Promotor Musik Indonesia) membenarkan. Kata Emil Mahyudin selaku Sekjen APMI menjelaskan, banyak promotor kemudian mengadukan dampak yang dirasakan usai kejadian keramaian di festival musik Berdendang Bergoyang.

"Kondisinya kurang lebih seperti itu (festival musik usai Berdendang Bergoyang terancam batal)," ujar Emil di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2022).

Kini perizinan buat acara musik pun jadi lebih rumit dari sebelumnya. Karena kasus over capacity Berdendang Bergoyang, pihak kepolisian menjadi khawatir jika hal itu terulang lagi pada festival musik selanjutnya.

"Kita sekarang lagi di dalam situasi penuh ketidakpastian. Apakah izin itu boleh jalan? Kalau boleh bagaimana, apakah tidak boleh jalan? Apakah boleh di indoor, apakah boleh di outdoor? Apakah boleh sampai 12.00 malam? Sekarang tuh lagi penuh ketidakpastian," tegas Emil.

Beberapa acara musik yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini tampak ketar-ketir perihal perizinan yang sudah mereka peroleh. Contohnya, SoundFest di Bekasi, Joyland Festival, sampai Pasar Kaget.

"Hampir semua, hampir semua (promotor)," kata Emil.

Selain itu, Emil menegaskan festival musik tak bisa disamakan dengan pertandingan bola, jika ingin dikaitkan dengan tragedi Kanjuruhan.

Emil pun menegaskan, pihak APMI sudah memiliki kesepakatan yang diberi nama CHSI dan sudah disetujui Kemenparekraf.

"Nah kan kita nggak mau ya misalnya contohnya lagi kejadian di sepakbola misalnya disamakan dengan kejadian di konser, karena konser itu dia punya SOP. Orang masuk juga semua dicek dengan sangat baik, kita juga punya crowd control, dan kita sendiri juga waktu itu kan bareng sama Kemenparekraf sudah menyusun CHSI Event, jadi standar prosedur pelaksanaan event gitu," jelas Emil.

(aay/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT