Menilik Geliat Musik Tradisional, Pop Jawa dan Koplo Jadi Paling Potensial

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Rabu, 29 Sep 2021 12:35 WIB
ilustrasi microphone
Ilustrasi musik. Foto: thinkstock
Jakarta -

Meski jarang dilirik dan kerap kali tak terjangkau oleh radar masyarakat perkotaan, musik dari berbagai daerah di Indonesia selalu memiliki daya pikat dan pasarnya sendiri. Hal itu terjadi dari masa ke masa.

Tiap daerah di Indonesia hampir selalu memiliki pahlawan musiknya sendiri, sebut saja mendiang Elly Kasim yang memperkenalkan pop Minang, Nining Meida, Kang Darso, dan sejumlah nama lainnya yang menjadi penggawa bagi pop Sunda, Lilis Karlina yang memperkenalkan dangdut pantura, dan lain-lain.

Belakangan, pop Jawa pun kian menarik perhatian. Dimulai dengan naiknya nama mendiang Didi Kempot dengan sejumlah tembang patah hati berbahasa Jawa. Jejak sang maestro pun diikuti oleh sejumlah musisi dari generasi berikutnya, sebut saja Ndarboy Genk hingga Denny Caknan.

Tak jarang pula, musisi yang membawakan lagu bercorak tradisional, misalnya dangdut koplo atau pop Jawa, justru mendapat jumlah pendengar lebih banyak ketimbang musisi pop pada umumnya. Hal itu menjadi pertanda bahwa karya dari musisi daerah selalu diminati oleh sejumlah massanya.

Menurut Direktur Industri Musik, Film dan Animasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI yang juga merupakan dosen dan penulis buku Musik Itu Politik, Dr. Amin Abdullah, mengatakan bahwa musik tradisional selalu potensial.

Amin Abdullah pun menolak menggolongkan musik yang bercorak tradisi sebagai musik daerah, karena baginya label itu terbilang mengkotak-kotakan. Ia lebih suka menyebutnya dengan istilah world music.

"Ternyata musik daerah itu bukan beban, tetapi daya tawar. Saya tidak suka menyebutnya musik daerah, tapi lebih suka menyebutnya sebagai world music, karena kata itu merupakan penggambar bahwa sesungguhnya penggunaan-penggunaan musik tradisi itu sangat marak dalam dunia saat ini," ujar Amin dalam diskusi virtual Breakfast with Resso yang berlangsung baru-baru ini.

"World music dalam artian penggunaan musik tradisi dalam song form, itu sesungguhnya adalah apa yang saya maksud dengan world music kita yang potensial," jelasnya lagi.

Ia mengakui bahwa musisi daerah memang memiliki keterbatasan berupa kesenjangan akses dan teknologi. Tetapi, musik demikian selalu mempunyai pasarnya sendiri.

"Ada kesenjangan antara ekosistem musisi kota dengan daerah, kalau di kota biasanya memiliki akses yang lebih mudah, mau informasi, akses, peralatan, dan komunitas. Keterbatasan akses musisi daerah memang menjadi kendala. Tapi, world music dari daerah itu sebenarnya bukan beban, tapi daya tawar, kenapa? Karena kami sering main di luar negeri, ada sesuatu niche yang ditawarkan, bukan suatu pasar yang terbuka lebar, tetapi semacam outlet. Jadi banyak lagu daerah yang potensial, tapi belum terdokumentasi," urainya.

Amin Abdullah pun mengatakan adanya pertumbuhan musik tradisi sehingga kini diketahui dan digemari oleh lebih banyak masyarakat turut terbantu oleh munculnya digitalisasi dalam musik. Orang-orang kini dapat menjangkau musik yang berasal dari berbagai tempat dan wilayah.

"Ketika ada disrupsi ekosistem musik melalui digital, maka pasar musik menjadi lebih terbuka. Memudahkan musisi untuk masuk ke pasar, memudahkan akses bagi musisi daerah menjadi lebih terbuka," ungkap Amin.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Country Director Believe Indonesia, Dahlia Wijaya. Dia sepakat mengatakan bahwa sebenarnya potensi musik pop daerah sangat besar. Hanya saja masih banyak musisi daerah yang perlu diedukasi terkait hak cipta, distribusi musik digital, dan bagaimana mempromosikan serta mempublikasikan karya mereka.

Edukasi itu yang Dahlia Wijaya coba lakukan dalam kurun tiga tahun terakhir ini.

"Kami aktif turun ke berbagai kota melakukan edukasi agar musisi daerah lebih paham bagaimana platform digital dapat menjadi jalur karier bukan hanya untuk memproduksi, tapi juga untuk me-monetize karya-karya mereka," kata Dahlia.

Kemenparekraf, menurut Amin Abdullah, juga tengah melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi musik tradisional yang dimiliki Indonesia. "Kami sedang melakukan program akselerasi musik di destinasi (wisata) superprioritas. Ini kegiatan pendampingan dan penciptaan di destinasi wisata superprioritas," kata dia.



Simak Video "Musik Tradisional Pulau Selayar Sulawesi, Gampang-gampang Susah."
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dar)