Wake Me Up When September Ends dan American Idiots yang Berisi Banyak Masalah di AS

Tim Detikcom - detikHot
Kamis, 02 Sep 2021 07:05 WIB
LOS ANGELES, CA - OCTOBER 17:  Musician Billie Joe Armstrong of Green Day performs at the Hollywood Palladium on October 17, 2016 in Los Angeles, California.  (Photo by Kevin Winter/Getty Images)
Green Day. Foto: Kevin Winter/Getty Images
Jakarta -

Setiap bulan September tiba, ada satu lagu Green Day yang langsung dibahas, yakni Wake Me Up When September Ends. Lagu itu merupakan salah satu nomor dari album American Idiot.

American Idiot merupakan album studio ketujuh dari Green Day. Album itu rilis pada 21 September 2004. Rob Cavallo menjadi produser dari album tersebut bersama Green Day.

Album American Idiot direkam di Studio 880 yang bertempat di California, Amerika Serikat pada 2003 dan 2004.

Terdapat 12 lagu di dalamnya, dibuka dengan American Idiot, dilanjutkan dengan Jesus of Suburbia, Holiday/ Boulevard of Broken Dreams, Are We the Waiting/ St. Jimmy, Give Me Novacaine/ She's Rebel, Extraordinary Girl/ Letterbomb, Wake Me Up When September Ends, Homecoming, Whatsername, Too Much Too Soon, Shoplifter, dan Governator.

Materi dari album tersebut menggambarkan kekecewaan dan pemikiran dari generasi yang tumbuh ketika Amerika Serikat memiliki berbagai persoalan, mulai dari tragedi 9/11 hingga Perang Irak.

Untuk menyampaikan kritiknya secara jelas, Green Day mencoba pendekatan baru ketika merekam album tersebut. Mereka menyajikannya dengan trasisi yang menggabungkan antara lagu ke lagu, tiap lagunya bagaikan babak dari sebuah cerita dan beberapa lagu sengaja dibuat panjang.

Salah satu contoh lagu yang panjang di album tersebut adalah Jesus of Suburbia yang berdurasi 9 menit 6 detik.

Sementara itu, Wake Me Up When September Ends adalah lagu yang diangkat dari pengalaman pribadi sang pentolan band, Billie Joe Armstrong.

Dalam lagu itu, Billie Joe Armstrong mengenang peristiwa meninggalnya sang ayah yang disebabkan oleh kanker esofagus (kanker kerongkongan) pada suatu hari di September 1982. Saat itu, Billie Joe Armstrong masih berusia 10 tahun.

Billie Joe Armstrong pernah membuka kisah pilu itu dalam wawancara di The Howard Stern Show di SiriusXM pada 2019. Dirinya mengatakan bahwa judul Wake Me Up When September Ends adalah kalimat yang ia ucapkan pada sang ibu selepas ayahnya dinyatakan telah tiada.

Saat itu, dirinya merasakan kesedihan yang teramat mendalam. Sejak itu, ia selalu mengenang September sebagai bulan kematian ayahnya. Sehingga ia rasanya tidak ingin melewati bulan itu.

"Aku rasa itu adalah hal yang tinggal bersama, bulan September selalu menjadi peringatan atas peristiwa itu. Aku tak tahu, mungkin sejenis kekecewaan," tuturnya dikutip dari NME.

"Rasanya begitu aneh. Ketika hal semacam itu terjadi ketika kamu sangat muda, rasanya seperti hidupmu mulai lagi dari nol," sambungnya.



Simak Video "Olla Ramlan Hadirkan 2 Saksi di Sidang Cerai "
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dar)