Wawancara Eksklusif

Harta, Tahta, dan Lenka

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Minggu, 11 Jul 2021 17:08 WIB
Lenka
Lenka Foto: dok. Lenka/ Skipalong Records
Jakarta -

Suatu hari, Lenka membayangkan apa yang ada dalam pikiran Ivanka Trump, perempuan yang sangat kaya dan berkuasa hingga lupa dan tak lagi peduli akan sekitar. Sebagai seorang musisi yang peduli dengan berbagai persoalan sosial, terutama lingkungan, ia merasa tidak dapat memahami apa yang ada dalam benak orang-orang sejenis Ivanka Trump.

Lenka lalu menuliskannya dalam Ivory Tower yang kemudian menjadi single barunya. Dalam lagu yang ia garap bersama Dave Jenkins itu, penyanyi asal Australia tersebut memberikan kritik secara satir. Narator dari lagu itu adalah seseorang yang memiliki harta dan tahta hingga mengabaikan sekitarnya.

Meski demikian, Lenka membalut Ivory Tower dengan nuansa musik 1980-an yang terdengar riang.

"Ketika lagu itu dikirim padaku, aku berpikir ini adalah sejenis lagu sebagaimana yang ada di era 1980-an, mirip lagu-lagu Cyndi Lauper. Ini membuatku ingin bernyanyi sebagai karakter imajiner dan aku mendapatkan ide, aku sedikit melihat sosok Ivanka Trump dan membayangkan, bagaimana rasanya menjadi orang yang sangat kaya, berkuasa, dan tidak tersentuh yang tidak peduli dengan keadaan dunia," ujar Lenka dalam wawancara dengan detikcom, baru-baru ini.

Perempuan kelahiran 19 Maret 1978 itu merasa sosok yang kaya raya dan berkuasa itu kerap kali lupa bahwa mereka telah cukup memiliki dalam banyak hal. Terkadang, sosok seperti itu bertingkah serakah dan menutup mata dengan apa yang terjadi di sekitar meski telah punya segalanya.

"Aku mencoba menjadi karakter yang merasa aku harus selalu melindungi diriku sendiri meskipun aku sudah memiliki segalanya. Aku mencoba menulis dari sudut pandang itu, tetapi lagu ini sebenarnya adalah kritikku untuk orang-orang semacam itu. Tapi di waktu yang sama, ini adalah ide yang bisa ku kembangkan untuk bersenang-senang," sambung dia.

Bagi Lenka, ini adalah kali pertama dirinya menulis mengenai isu sosial. Dia mengaku, selama ini, dirinya seringkali peduli dan memperhatikan berbagai permasalahan yang terjadi di dunia. Apalagi, dirinya adalah sosok yang peduli pada isu lingkungan hidup.

Hanya saja, Lenka belum pernah menuangkan pemikiran dan kegelisahannya terhadap permasalahan sosial dalam lagu.

Namun, pandemi mengubah cara pandangnya. Dirinya kini tidak ragu untuk menuliskan hal-hal yang berkesan politis dalam lagu.

"Aku sering memikirkan hal-hal seperti ini. Aku bukan seseorang yang sangat politis tapi aku peduli akan isu terkini dan lingkungan, aku percaya pada kesetaraan dan hal-hal semacamnya. Kadang aku berbicara tentang kegelisahanku terhadap dunia tapi tidak pernah secara personal menuangkannya pada pada musik. Aku belum pernah menulis lagu yang politis sebelumnya," tutur Lenka.

Dia pun mengungkapkan ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. "Karena karantina wilayah dan semua rencana batal, aku tidak bisa pergi kemana pun, aku rasa sudah tidak ada lagi aturan yang ku buat untuk diriku sendiri," ucapnya.

"Aku mengikuti caraku sendiri, aku bisa membuat lagu pop dan menjadi kreatif untuk menjaga diriku tetap merasa bahagia," sambung Lenka.

"Sedikit banyak, aku ingin memasukkan beberapa isu dalam laguku dan ketika aku melakukannya aku merasa telah membebaskan diriku," kata Lenka lagi.

Walau kini Lenka telah menulis lagu bernuansa politis, dirinya mengatakan tidak akan meninggalkan gaya penulisan lamanya. "Aku biasanya menulis perasaan personalku, bagaimana mencoba menjadi orang baik, kesehatan mental, cinta," ungkapnya.



Simak Video "Camilan Wajib James Arthur saat Manggung"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/nu2)