Kini Indonesia Punya Pusat Kajian Dangdut!

Idham Aulia Shaffansyah - CXO Media - detikHot
Sabtu, 10 Apr 2021 08:45 WIB
CXO Media
Foto: CXO Media
Jakarta -

Dangdut memiliki sejarah panjang seiring perkembangan bangsa Indonesia sejak masa kemerdekaan hingga era modern sekarang. Bermula dari kemunculan musik irama Melayu yang sarat akan alat musik kendang dan perkusinya, juga memiliki tiga ragam irama yaitu keroncong, gambus, dan hawaian di era 1940-an.

Istilah dangdut mulai muncul ke dunia musik Indonesia pada 1970-an. Bermula dari tulisan Putu Wijaya di koran Tempo pada 27 Mei 1972 yang menyebutkan bahwa lagu 'Boneka India' adalah campuran musik melayu, irama pasir, dan dang-ding-dut, tercetuslah 'Dangdut' sebagai sebuah nama untuk penyebutan musik Melayu yang dipengaruhi musik India.

Dangdut, seiring perjalanannya dan perkembangan zaman memiliki banyak kesan terhadap para pendengar musik di Indonesia. Meski sering dianggap musik receh, dapat dipastikan masyarakat dari kalangan mana pun familiar dengan lagu dangdut. Akan tetapi, Bagaimana kehadiran literasi pada musik dangdut? Pernahkah kita sebagai orang yang familiar dengan dangdut, memikirkan bahwa dangdut adalah sebuah ladang basah yang memiliki potensi yang besar untuk dikaji dalam ranah literasi. Hal ini telah berhasil dilakukan oleh Michael HB Raditya bersama gagasannya yaitu Dangdut Studies Center atau Pusat Kajian Dangdut.

Di tengah judgement masyarakat Indonesia terhadap dangdut, Michael bersama Dangdut Studies Center membuat sebuah kanal yang dikhususkan untuk mewadahi berbagai kajian tentang dangdut. Dalam sebuah web dangdutstudies.com, semua orang dapat melihat betapa dangdut memiliki nilai akademis dan literasi yang kuat.

Dalam laman tugas akhir, misalnya, berbagai kajian tentang dangdut yang dituangkan oleh berbagai mahasiswa ke dalam penelitian dalam bentuk skripsi, tesis, hingga disertasi dapat ditemukan. Bukan hanya itu, laman Dangdut Studies Center juga menyediakan berbagai artikel yang ditulis oleh berbagai kontributor dengan berbagai topik yang menarik dan judul yang cukup tajam.

Misalnya dalam sebuah artikel/jurnal yang berjudul Hibriditas Musik Dalam Masyarakat Urban yang ditulis oleh Michael HB Raditya. Dari segi judul bisa dilihat web ini mampu mengarahkan pembaca pada stigma dangdut yang berkelas dan merupakan sebuah aliran musik asli Indonesia yang paling bertahan dan mampu merangkul semua kalangan. Michael dalam artikelnya tersebut juga mengatakan Dangdut adalah musik yang paling bisa mewakili masyarakat Indonesia dengan proses hibriditas yang dimilikinya.

Pada kenyataannya, dangdut memang sering mendapatkan judgement dari masyarakat terutama mereka yang merasa berkelas. Padahal tak dapat dimungkiri siapa pun yang mendengar dangdut rasanya sulit untuk menahan hasrat berjogetnya. Dangdutstudies.com juga tak henti-henti membagikan poster melalui lamannya demi memberi tahu para audiens di mana acara dangdut bisa disaksikan.

Dengan adanya Dangdut Studies Center, ada harapan bahwa dangdut tak bisa lagi dianggap remeh. Terutama karena dangdut sangat bisa diterima oleh masyarakat Indonesia secara umum tanpa memandang status sosial. Tidak hanya itu, dengan kehadiran Dangdut Studies Center, patut disadari bahwa dangdut tidak hanya perlu didengarkan dan dinikmati, tetapi juga perlu dicatat, dikaji, dan direfleksikan. Dengan begitu, semua orang dapat membaca masa lalu, menelusuri masa kini, dan membayangkan masa depan musik dangdut.



Simak Video "50 Tahun Berkarya, Rhoma Irama Ungkap Impian yang Belum Tercapai"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)