Hari Musik Nasional di Satu Tahun Pandemi

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Selasa, 09 Mar 2021 08:44 WIB
ilustrasi microphone
Ilustrasi. Foto: thinkstock
Jakarta -

Hari Musik Nasional dirayakan setiap 9 Maret. Tahun ini, perayaan Hari Musik Nasional berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bila musikius dan para pekerja industri musik biasanya merayakan hari musik dengan suka cita dan harapan akan perbaikan industri musik, tahun ini, para pekerja dan penggiat musik merenungi industri musik di satu tahun pandemi.

Pada 2 Maret 2020, kasus Corona pertama di Indonesia diumumkan. Mau tidak mau, pertunjukan musik menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Bagaimana tidak, untuk menghindari penyebaran virus COVID-19, keramaian adalah hal yang paling dihindari. Sedangkan konser, pastilah mengumpulkan orang banyak.

Jakarta International Java Jazz Festival 2020 yang berlangsung pada 28 Februari hingga 1 Maret 2020 menjadi festival musik berskala besar terakhir yang diadakan. Selebihnya, sejumlah festival yang telah dijadwal harus mundur atau batal sama sekali.

Omar Apollo di BNI Java Jazz 2020Omar Apollo di BNI Java Jazz 2020. Foto: Omar Apollo (Saras/detikcom)

Head in the Clouds Jakarta yang diadakan 88rising dan seharusnya berlangsung pada 7 Maret 2020 menjadi salah satu festival pertama yang mengumumkan pembatalan setelah kasus Corona pertama diumumkan. Selebihnya, We The Fest dan Synchronize Fest berubah format ke virtual, Soundrenaline tidak diadakan, dan Hammersonic mengalami beberapa kali penundaan.

Hal ini tentunya menjadi pukulan berat bagi para musikus dan pekerja musik. Selain karena beberapa musisi masih sangat bergantung pada pendapatan dari jadwal off-air, pekerja musik (selain musisi) juga merupakan pekerja harian yang dibayar per proyek kerja, misalnya pekerja panggung, pekerja tata lampu, teknisi suara, kru band, dan lain-lain.

Pelaku industri musik memutar cara, panggung dipindah ke rumah masing-masing. Format virtual menjadi primadona dan 'juru selamat' sementara. Di awal pandemi, format konser virtual bagaikan coba-coba dan kemudian terus memperbaiki wajah.

Konser pada awalnya diadakan secara gratis melalui live YouTube maupun Instagram. Musisi tampil dari rumah masing-masing hanya dengan peralatan sederhana. Memasuki minggu-minggu berikutnya, konser virtual menjadi semakin berkembang.

Diciptakanlah platform streaming konser virtual berbayar dengan penampilan yang lebih baik. Para musisi merekam pertunjukannya dari studio, baik secara langsung maupun rekaman, dengan tim yang diminimalisir dan proses syuting yang memberlakukan protokol kesehatan.

Flavs 2020 hingga DWP-V bahkan menjadi festival musik yang berhasil menyajikan beberapa panggung di waktu yang sama dalam format virtual.

We The Fest VirtualWe The Fest Virtual. Foto: We The Fest Virtual

Sebagai bentuk lain dari konser virtual, NOAH juga mengadakan konser dengan teknologi unreal engine yang biasa digunakan untuk membuat game dan virtual reality dengan kamera 360 selama pandemi berlangsung.

Selain itu, muncul konsep konser drive-in yang berlangsung di Jakarta pada 29 dan 30 Agustus 22020 dengan Kahitna, Afgan dan Armand Maulana sebagai bintang tamu. Selain itu, ada pula konser drive-in di Sleman, Yogyakarta pada 19 dan 20 September 2020 dengan Kotak dan Jikustik sebagai pengisi acara.

Penonton menyaksikan penampilan band Jikustik dari dalam mobil saat konser musik drive-in di Sleman City Hall, D.I Yogyakarta, Minggu (20/9/2020). Konser musik drive-in pertama di Yogyakarta itu digelar dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww.Penonton menyaksikan penampilan band Jikustik dari dalam mobil saat konser musik drive-in di Sleman City Hall, D.I Yogyakarta, Minggu (20/9/2020). Konser musik drive-in pertama di Yogyakarta itu digelar dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww. Foto: Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko

Bottlesmoker juga sempat membuat konser untuk tanaman bertajuk Plantasia pada 25 Juli 2020 di Lou Belle Space, Bandung.

Berbagai donasi pun digalang untuk pekerja musik harian. Hanya saja, hampir semua sepakat bahwa solusi paling tepat untuk kembali menghidupkan industri pertunjukan musik adalah dengan mengakhirinya virus Corona.

Sayangnya, mengakhiri pandemi Corona tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, satu tahun pandemi berlangsung, kondisi tidak kunjung membaik dan menunjukkan pandemi akan segera berlalu. Para promotor musik dan pekerja acara pun mulai 'gerah' karena sudah tidak lagi bekerja selama setahun.

Mereka kemudian menyurati Presiden RI Joko Widodo, memohon agar diperbolehkan untuk bekerja kembali. Dalam surat itu, mereka menyatakan siap menjalankan protokol kesehatan dan melangsungkan acara secara adaptif apabila diberi izin penyelenggaraan. Para promotor juga mengaku siap bila harus memberlakukan serentetan peraturan secara disiplin pada pengunjung acara mereka.

Di tengah redupnya panggung musik, di tahun ini, sejumlah karya yang baik justru lahir. Di tengah pandemi, rupanya kreativitas musisi tidak lantas luntur meski tahun terasa sulit. Justru, musik yang lahir dari para musisi adalah yang menghibur masyarakat melalui masa-masa sulit pandemi.

Mei 2020, Goodnight Electric mengeluarkan album Misteria. Selain memperkenalkan formasi baru, Misteria merupakan album yang dinanti oleh para penggemar mereka, sebab sebelumnya, sudah 13 tahun lamanya mereka tidak merilis album penuh sejak Electroduce Yourself pada 2007.

Goodnight ElectricGoodnight Electric. Foto: Goodnight Electric

Di hari ulang tahunnya, Nadin Amizah juga mengeluarkan album perdana berjudul Selamat Ulang Tahun yang menceritakan pengalamannya beranjak dewasa. 10 lagu yang terkandung di dalamnya berisikan cerita-cerita personal tentang dirinya.

Interaksi virtual yang meningkat seakan mengilhami Petra Sihombing untuk merilis album dengan tema spesifik berjudul Semenjak Internet, Mikha Angelo yang merupakan personel The Overtunes pun menjajal bersolo karier dan merilis album perdana bertajuk Amateur.

Bagai merangkum tahun yang sulit dengan lagu-lagu yang justru membuat hati ceria, White Shoes & the Couples Company merilis album 2020 yang berisikan 11 nomor lagu yang dibuka dengan Rumah dan ditutup dengan Halaman Ekstra.

White Shoes & the Couples Company tidak merilis albumnya di platform streaming kebanyakan dan hanya memperjualbelikan rilisan fisiknya dalam kemasan istimewa yang diperjualbelikan bersamaan dengan buku foto dan CD dari B-sides tracks dan single yang belum memiliki album. Album itu bisa didengarkan secara digital hanya oleh mereka yang memiliki format fisiknya dan mendapatkan kode unik untuk mendengarkan di aplikasi milik demajors, selaku label rekaman yang mendistribusikan album tersebut.

White Shoes & the Couples Company (WSATCC)White Shoes & the Couples Company (WSATCC). Foto: Reza Fauzi / dok. White Shoes & the Couples Company

Sederet musisi lainnya juga melakukan kreativitas untuk menyiasati pandemi sepanjang satu tahun ini. Karya-karya mereka yang tak putus di tengah berbagai keterbatasan adalah oase di tengah padang tandus, menghibur hati para pecinta musik di masa-masa yang sulit untuk dilalui.

Terima kasih para pekerja musik Indonesia, selamat Hari Musik Nasional!



Simak Video "Makna Hari Musik Bagi Isyana Sarasvati dan Rizky Febian"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dar)