Lika-Liku The Fly Arsipkan Album dalam Digital

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Jumat, 19 Feb 2021 18:52 WIB
The Fly
Foto: dok. Sony Music Indonesia/ The Fly
Jakarta -

Bagi musisi maupun penggemar, adanya arsip musik adalah sesuatu yang penting. Dengan adanya arsip musik yang jelas, mereka dapat memperpanjang usia dari karya tersebut karena pendengar pun tahu kemana harus mencari bila ingin mendengarkan lagu-lagu mereka.

Dengan kesadaran tersebut, The Fly akhirnya merilis album mereka di berbagai layanan streaming. Ada tiga album yang kini dapat didengarkan secara digital, yakni THE FLY (2000), If Loving You is Wrong, I Don't Want to be Right (2007) dan A New Beginning from Another Beginning's End (2011).

Selain itu, band beranggotakan Kin Aulia (vokal, gitar) dan Levi Santoso (bass) juga mengaku kerap ditagih penggemar yang menanyakan kapan mereka merilis dalam platform digital.

Namun rupanya, merilis ulang katalog album lama mereka tidak semudah membalikan telapak tangan. Ketika niatan untuk mengarsipkan lagu-lagu mereka di layanan digital sudah bulat, mereka melewati proses cukup lama untuk mencari keberadaan master mereka.

Pasalnya, label rekaman yang menaungi mereka saat album tersebut dirilis telah tutup. Mereka pun kemudian mencoba menghubungi beberapa pihak hingga akhirnya menemukan bahwa kepemilikan master album mereka di label rekaman Sony Music Indonesia.

"Kepikiran remaster itu karena banyak banget fansnya The Fly yang loyal sama kami selalu nanyain, kok nggak ada sih di streaming A, streaming B, mereka nanyanya DM instagram The Fly dan DM pribadi, komen di YouTube segala macem. Lama-lama, oiya bener juga ya, semua katalog kami harusnya sudah ada di layanna streaming harusnya," tutur Levi Santoso dalam wwawancara virtual dengan detikcom, baru-baru ini.

"Akhirnya cari cara gimana caranya kami bisa publish. Mungkin kesulitan utamanya itu adalah dulu album kami keluar, (label) musik kami itu BMG. Jadi hak kepemilikan master rekaman itu di label itu. Label itu sudah bubar, tapi pernah merger sama Sony Music, tapi akhirnya melepaskan diri, tinggal Sony aja. Kepemilikannya itu ada sama Sony ternyata," kisah Levi lagi.

Sepanjang 2020, akhir The Fly merilis segala sesuatunya untuk merilis ulang album tersebut. Namun, tidak ingin sekadar merilis ulang albumnya begitu saja, mereka merasa ada kualitas suara yang harus dibenahi. Opsi melakukan remaster pun akhirnya diambil oleh mereka.

"Bisa dibilang (dulu) kami rekaman masih pake pita tape, itu kualitasnya beda lah sama sekarang. Jadi kami harus perbaiki dulu, biar kualitasnya bagus dibandingin sama album-album yang dirilis sekarang," cerita Levi.

Proses remaster itu dilakukan oleh Levi Santoso dalam kurun waktu tiga hari. Menurut Kin, remaster itu lebih dititikberatkan untuk menyamakan kualitas suara.

"Lebih jernih, lebih detail lah sekarang. Karena teknologinya sudah bisa membuat detail-detail lebih menonjol. Kalau dulu mungkin di pita, di kaset, terbatas medianya, jadi yang sekarang lebih nyaman lah, lebih lebar (dari segi sound) dari yang dulu," tutur Kin.

"Dulu kan (lokasi) rekamannya juga beda-beda, jadi sekarang kami samakan. Selain itu, ada kebutuhan-kebutuhan dari digital platform yang mereka minta, nah kami sesuaikan," sambung dia.



Simak Video "Curhatan Syam Permana yang Pertanyakan Royalti dari Lagunya di YouTube"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dal)