10 Album Terhot di 2020

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Rabu, 30 Des 2020 12:19 WIB
Ardhito Pramono
Foto: Ardhito Pramono / dok. Istimewa
Jakarta -

Beberapa tahun ke belakang, digitalisasi membuat cara orang mendengarkan lagu berubah begitu drastis. Beberapa di antara pendengar musik tidak lagi mendengarkan lagu melalui rilisan fisik, tetapi membeli musik dengan cara berlangganan di layanan streaming.

Pergeseran cara mendengarkan musik itu membuat beberapa musisi melihat mengeluarkan lagu demi lagu secara eceran lebih efektif ketimbang menggelontorkan satu album penuh.

Meski demikian, bagi detikcom, album tetaplah relevan. Bagi redaksi kami, album adalah penanda suatu fase bermusik dari musikus. Kegelisahan yang sedang dirasakan, ketertarikan pada suatu nuansa musik, hingga apa yang terjadi pada diri sang musisi ketika proses penulisan album dapat kita ketahui dengan mendengarkan lagu demi lagu, satu per satu dengan seksama pada sebuah album.

Album adalah arsip, maka itu bagi detikcom mencoba memilih 10 album terpopuler pada 2020. Namun, redaksi kami mencoba mendefinisikan ulang makna album. Dengan cara baru mendengarkan musik, album tidak lagi harus berbentuk album penuh. Lebih dari itu, mini album, bagi kami tidak lagi sekadar perpanjangan dari album penuh atau extended play (EP).

Lebih dari itu, kami -- seperti halnya yang dilakukan banyak musisi ketika meluncurkan mini album -- memaknainya sebagai suatu karya yang bisa berdiri sendiri dan memiliki nilai yang sama dengan album penuh.

Berikut 10 daftar album paling hot tahun ini versi detikcom.

Craziest Thing Happened in My Backyard - Ardhito Pramono

Di awal tahun, Ardhito Pramono mengeluarkan mini album Craziest Thing Happened in My Backyard yang berisikan lima lagu. Dibuka dengan Trash Talkin', dilanjutkan dengan 925, Here We Go Again / Fanboi, Plaza Avenue, dan ditutup dengan Happy.

Meski masih kuat dengan nuansa jazz dan bebunyian piano khas Ardhito, di mini album tersebut, dia bereksplorasi dengan menambahkan unsur rockabilly dalam track pertama dan bossa nova dalam 925.

Lewat lirik dari lagu-lagu yang terdapat dalam Craziest Thing Happened in My Backyard, Ardhito Pramono bagai mengajak para pendengarnya untuk berbincang mengenai hal personal dan gelap.

Menurut Ardhito Pramono dalam wawancara dengan detikcom, lagu-lagu dari mini album itu terinspirasi dari tujuh dosa besar atau seven deadly sins. "Ada greedy, ada anger, ada disappointment-nya. Jadi sebenarnya di album ini, gue ingin bikin yang denger tuh, ayo jangan pergi ke kegelapan, follow me into the light," ujarnya.

Misteria - Goodnight Electric

Pada Mei 2020, Goodnight Electric mengeluarkan album bertajuk Misteria. Album itu terdiri dari delapan lagu yang dibuka dengan Labuh, dilanjutkan dengan Misteria, -Dopamin, Arah, Saksikan Akhir Dunia Denganku, Saturn Girl, Erotika, dan ditutup dengan VCR.

Goodnight ElectricGoodnight Electric. Foto: Goodnight Electric

Ada sejumlah hal yang membedakan Misteria dengan karya-karya terdahulu Goodnight Electric, salah satunya delapan lagu dari album tersebut berbahasa Indonesia dan musik yang terasa lebih santai.

Selain menandai momen kembalinya Goodnight Electric ke industri musik, Misteria juga merupakan momentum bergabungnya Vincent Rompies, Priscilla Jamail, dan Andi Hans dalam band tersebut.

Dalam wawancara dengan detikcom, beberapa lagu dalam Misteria berangkat dari imajinasi Henry Foundation atau Batman ketika melihat anaknya bermain dengan teman imajinernya.

Dari Balik Jendela - Monita Tahalea

Tahun ini, Monita Tahalea mengeluarkan album penuh berisikan 10 lagu yang dibuka oleh Pada Waktu dan ditutup dengan Sayonara. Tidak hanya membawakan lagu baru, Monita Tahalea juga menginterpretasikan ulang Sound of Silence milik Simon & Garfunkel.

Monita Tahalea di Synchronize Festival 2016Monita Tahalea. Foto: Ismail/detikHOT

Menurut Monita Tahalea, musik yang ia usung dalam album tersebut adalah folktronik yang merupakan gabungan antara folk dan elektronik.

Dalam album tersebut terdapat track kolaborasinya dengan Ananda Badudu. Selain Ananda Badudu, dia juga dibantu oleh Bayu Risa, Theoresia Rumthe, Yosua Gian, Bernardus Ajutro Moa, Gerald Situmorang, hingga Lie Indra Perkasa.

Killchestra - Burgerkill

Burgerkill mendaur ulang lagu-lagu mereka dalam balutan musik orkestra. Pada mulanya, konsep itu mereka bawa dalam konser. Tetapi, Burgerkill merilis pula hasilnya dalam bentuk album yang diedarkan dalam format piringan hitam dan cakram padat.

BurgerkillBurgerkill. Foto: Istimewa. dok. Burgerkill

Dalam album tersebut, terdapat enam lagu milik Burgerkill yang diaransemen ulang dengan orkestra. Enam lagu yang terdapat di album tersebut antara lain Anjing Tanah, Penjara Batin, An Elegy, Only the Strong, Angkuh dan Tiga Titik Hitam.

Untuk menggarap orkestra dalam album itu, mereka berkolaborasi dengan Alvin Witarsa. Aransemen orkestra dalam Killchestra direkam di Praha, Ceko dan dikerjakan oleh kurang lebih 60 musisi.

Identitas - KOTAK

Setelah pada album-album terdahulu KOTAK selalu bekerja sama dengan produser untuk menggarap albumnya, kini mereka mengerjakan album baru mereka secara mandiri. Dalam artian, mereka tidak bekerja sama dengan produser mana pun.

Kotak merilis lagu baru berjudul Hoax.Kotak. Foto: dok. Kotak

Lahirlah album Identitas. Menurut para personel KOTAK, judul album tersebut menggambarkan mereka yang ingin menunjukkan jati diri mereka dalam album tersebut.

Ada beberapa nomor menarik dari album yang berisikan 10 lagu itu, di antaranya Di Atas Cinta yang merupakan lagu persembahan untuk orang tua dan anak mereka. Selain itu adapun kolaborasi KOTAK dengan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dalam Manusia Manusiawi.

Persembahan dari Masa Lalu - Romantic Echoes

Romantic Echoes adalah moniker dari proyek solo J. Alfredo yang merupakan vokalis Pijar. Tahun ini, dia mengeluarkan album Persembahan dari Masa Lalu yang berisikan 12 lagu.

Romantic Echoes / J. AlfredoRomantic Echoes / J. Alfredo. Foto: dok. Instagram @romanticechoes

Album itu dibuka dengan Permataku, dilanjutkan oleh Romansa Mengejar Mimpi, Yang Tercinta, Tahiti, Tentang Bunga, Rindu Membawa, Mengapa Bercinta Jika Berpisah, Merana, Arungi, Persembahan dari Masa Lalu, We Might Get Along hingga ditutup dengan Mikasa.

Sepintas, albumnya memang didominasi oleh lagu bertemakan cinta. Tetapi, Romantic Echoes mengambil berbagai tema dalam cinta dan mengutarakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pendengarnya berpikir mengenai apa sebenarnya makna cinta.

Bilal Indrajaya, Noh Salleh, Dalilektra, dan MaxxNara adalah musisi yang turut terlibat dalam album tersebut.

Selamat Ulang Tahun - Nadin Amizah

Di hari ulang tahunnya, Nadin Amizah memberi kado manis untuk dirinya sendiri dengan mengeluarkan album perdana bertajuk Selamat Ulang Tahun. Ada 10 track dalam album tersebut yang terdiri dari intro dan sembilan lagu.

Nadin AmizahNadin Amizah. Foto: dok. Nadin Amizah

Mendengarkan album tersebut bagai mendengarkan berbincang dengan Nadin Amizah mengenai pertanyaan dan perenungannya dari masa remaja menuju kedewasaan. Tidak berlebihan bila detikcom menyimpulkan album ini adalah kisah coming of age.

Selain lagu-lagu tentang pendewasaan, sebut saja Kereta Ini Melajut Terlalu Cepat dan Beranjak Dewasa, dalam album itu, Nadin Amizah juga bercerita mengenai orang-orang terdekat dalam hidupnya, misalnya cerita tentang ibu dalam Bertaut.

Solipsism - Pamungkas

Pamungkas mengeluarkan album berjudul Solipsism pada Juni 2020. Album itu berisikan 11 lagu yang terdiri dari Queens of the Hearts, dilanjutkan dengan Intentions, Be My Friend, Live Forever, Deeper, Be Okay Again Today, Higher Than Ever, Riding the Wave, Still Can't Call Your Name, I Don't Wanna Be Alone, dan ditutup oleh Closure.

PamungkasPamungkas. Foto: dok. Pamungkas (Instagram @pamunqkas)

Seperti judulnya, lewat Solipsism, Pamungkas ingin berbagi cerita tentang dirinya dan pandangan-pandangannya. Album itu digarap selama masa karantina pada masa pandemi di sebuah apartemen.

Bagai layaknya hasil perenungan di masa pandemi, Pamungkas membungkus albumnya dengan kisah romantis tapi ada pula lagu yang terdengar melankolis dan muram. Solipsism menjadi album ketiga dari Pamungkas setelah Walk the Talk (2018) dan Flying Solo (2019).

Pelita Lara - Ify Alyssa

Proses dalam mencapai tujuan mungkin membutuhkan waktu yang lama dan penuh dengan naik-turun, barangkali itu yang dirasakan Ify Alyssa ketika menggarap album perdananya yang berjudul Pelita Lara.

Ify AlyssaIfy Alyssa. Foto: dok. Ify Alyssa

Proses penggarapan album itu tidak sebentar, melainkan memakan waktu tiga tahun. Akan tetapi, toh penantian membuahkan hasil. Ada 10 lagu manis bernuansa folk dan jazz yang tertuang dalam albumnya.

Pelita Lara dibuka dengan Kabar Baik, Far Away, Bermain Hujan, Wind, Seirama, Paper Kites, Dua Insan, Gitar, What About Us?, dan Pelita Lara.

Dalam album itu, terdapat pula lagu hasil kolaborasi, di antaranya Dua Insan bersama Adhitia Sofyan dan Gitar bersama Gerald Situmorang.

Semenjak Internet - Petra Sihombing

Album dengan tema yang spesifik, apalagi yang temanya memberikan potret zaman, selalu menarik untuk disimak. Hal itu terjadi dalam album milik Petra Sihombing yang bertajuk Semenjak Internet.

Petra Sihombing.Petra Sihombing. Foto: Istimewa

Semenjak Internet berisikan serba-serbi dunia maya dan siber dari kaca mata jujur Petra Sihombing. Lagu-lagu dalam itu merupakan berwujudan rasa cinta, benci hingga terima kasihnya pada internet.

Ada 12 lagu dengan topik yang berbeda dari album itu, dibuka dengan Canggih dan ditutup oleh Cinta Digital.

Hal lain yang menarik dari album tersebut adalah keterlibatan 10 musisi lainnya dalam proses penulisan lagu, mereka adalah Sal Priadi, Sheryl Sheinafia, Baskara Putra, Kunto Aji, Tulus, Ben Sihombing, David Bayu, Pamungkas, Danilla Riyadi dan Teddy Adhitya.



Simak Video "K-Talk Ep.51: Reaction BLACKPINK 'The Album'"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/doc)