Dua Penglaras Gamelan Asal Klaten Tembus Luar Negeri, Ini Kisahnya

Achamd Syauqi - detikHot
Senin, 02 Nov 2020 20:49 WIB
Penglaras Gamelan asal Klaten
Wagimin dan kawan-kawan sedang membenahi gamelan Pemkab Klaten. (Achmad Syauqi detikcom)
Klaten -

Dua penglaras (penyetel) gamelan asal Kabupaten Klaten, Wagimin Siswo Pradonggo (72) dan Nur Jayanto (55) bisa menembus pelanggan luar negeri. Dua penglaras itu bahkan sudah berkeliling ke beberapa negara di dunia.

"Tidak hanya di sekitar Surakarta tapi ya kadang keluar negeri. Belum lama ke Jepang dan Taiwan sebelum ada pandemi Corona ini," ungkap Nur Jayanto pada detikcom saat ditemui sedang nglaras seperangkat gamelan Slendro Pelog milik Pemkab Klaten, Selasa (2/11/2020) siang.

Nur Jayanto mengatakan dirinya dan Wagimin biasanya bekerjasama untuk menyetel dan memperbaiki gamelan. Dirinya dan Wagimin sejak kecil sudah bergelut dengan gamelan.

" Saya sejak kecil sudah bergelut dengan gamelan. Wagimin itu sejak kecil juga bergelut dengan gamelan, kalau pak Wagimin itu membuat gamelan sejak kecil tapi kalau saya nyetel," kata Nur Jayanto.

Menurut Nur Jayanto untuk pekerjaan nglaras di luar negeri biasanya dari lembaga. Lebih sering dari universitas.

"Gamelan di luar negeri itu biasanya milik dari universitas, jarang ada perorangan yang punya. Sering juga kedutaan besar kita di luar negeri," jelas nur Jayanto.

Lebih jauh, ucap Nur Jayanto, selain ke Jepang dan Taiwan, pernah juga ke Finlandia, bahkan pernah di Timur Tengah. Untuk menggeluti profesinya yang dibutuhkan rasa senang.

" Modalnya senang. Pokoknya senang terus dengan pekerjaan ini, dapat uang atau tidak senang terus," ujar Nur Jayanto.

Nur menceritakan, keahliannya tentang gamelan didapat dari kakeknya Dalang Gondo dari Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan. Sempat lulus jurusan pedalangan dari Institut seni Indonesia (ISI).

" Kuliah saya pedalangan tapi malah senang gamelan. Kalau diminta ndalang ya ndalang kalau tidak ya begini," papar Nur Jayanto.

Penglaras Gamelan asal KlatenWagimin dan kawan-kawan sedang membenahi gamelan Pemkab Klaten. (Achmad Syauqi detikcom)

Untuk menyelesaikan satu set gamelan, tambah Nur Jayanto, minimal dibutuhkan dua pekan. Apalagi jika gamelan lengkap Slendro Pelog dengan 24 instrumen/ ricikan.

"Slendro Pelog saya catat ada 24 ricikan/ instrumen. Beda dengan alat musik barat sebab gamelan harus menentukan jarak nada Slendro dan Pelog, baru menentukan mbat (setelan nada awal)," terang Nur Jayanto.

Gamelan Jawa, sambung Nur Jayanto, perlu kesabaran untuk mendapatkan nada yang baik. Sebab pembuatan gamelan dibakar dan dipukuli, membutuhkan waktu agar gamelan mati dampak panasnya.

"Gamelan itu baru mati dampak panasnya saat pembuatan butuh 10 tahun. Tapi untuk nyetel tidak ada ideal waktunya, yang penting saat sudah tidak bagus dilaras lagi," ujar Nur Jayanto.

Tarifnya, ucap Nur Jayanto, tergantung kondisinya. Jika hanya melaras tidak membenahi atau menganti kerusakan, bisa Rp 5 juta.

"Melihat kasusnya. Jika tidak parah ya bisa Rp 8 juta untuk satu set gamelan selesai dibenahi," pungkas Nur Jayanto.

Wagimin menjelaskan sejauh ini dirinya sudah ke Jepang lima kali dan ke Amerika. Sebab rata - rata pemilik gamelan di luar negeri tidak bisa merawat.

" Gamelan itu semua sama dari Jawa. Di Indonesia dan di luar negeri juga sama, bisa punya gamelan tapi tidak bisa merawatnya," jelas Wagimin pada detikcom di Pemkab.

Menurut Wagimin, keahlian menyetel dan memperbaiki didapatkan dari kakeknya Karto Wiguno di Solo. Selain itu juga karena bekerja di isi Yogyakarta menjadikan akrab dengan gamelan.

"Jadi akrab dengan gamelan. Pensiun dari ISI Yogyakarta 2004 tapi masih tetap diminta memperbaiki gamelan, padahal anak saya sudah bisa semua," ucap Wagimin.



Simak Video "Merdunya Suara Gamelan Kaca Inovasi Seniman Pacitan"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)