detikHot

music

Bagaimana Membangun Ekosistem Musik yang Adil dan Berkelanjutan?

Selasa, 19 Nov 2019 21:51 WIB Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Foto: KAMI / Dyah P Saraswati Foto: KAMI / Dyah P Saraswati
Jakarta - Lebih dari satu tahun telah berlalu sejak Konferensi Musik Indonesia (KAMI) pertama diadakan di Ambon pada Maret 2018. Dari pertemuan tersebut lahir 12 poin rumusan masalah di industri musik Tanah Air.

Poin tersebut menjadi acuan untuk perbaikan ekosistem musik dan mencakup pada persoalan pengarsipan dan tata kelola, kesejahteraan musikus, pengarusutamaan pendidikan musik, kesetaraan gender di industri musik, dan lain-lain.

Meski telah berselang satu tahun, menurut Glenn Fredly selaku musisi dan salah satu penggagas KAMI, masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki dari industri musik untuk membentuk ekosistem yang sehat di dalamnya.

"Bicara soal ekosistem musik itu tidak terlepas dari persaingan global juga Kalau membicarakan soal persaingan global mau nggak mau harus dilakukan pembenahan agar sustain," kata Glenn ditemui di M Bloc, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019).



"Karena itu akhirnya menggiring adanya konferensi musik pertama yang di Ambon, yang dibicarakannya komperhensif, yang pertama kebijakan, private dan pelakunya. Bahan evaluasi dari konferensi itu bisa menjadi referensi bagi musik industri dan bisa men-support yang non industri, dan yang non industri itu banyak sekali, ada yang tradisi, dan banyak lagi," jelas Glenn lagi.

Nyaris senada dengan Glenn Fredly, anggota Koalisi Seni yang juga pendiri Amita Asia Agency, Nadia Yustina juga mengungkapkan harus adanya tindakan lanjut untuk memperbaiki industri musik untuk mewujudkan iklim yang inklusif dan adil untuk semua.

Bagi Nadia, perbaikan tersebut bisa dimulai dengan upaya pemerataan industri. Sebab menurutnya, segala aktivitas musik masih terlalu berfokus di Ibu Kota dan belum terlalu menyentuh kota-kota lainnya yang sebenarnya memiliki potensi.

"Kalau dibilang apakah industri musik sudah adil? Itu masih belum. Karena industri musik Indonesia masih berpusat di Jakarta. Kita belum punya kantong-kantong industri musik di kota lain yang sehat dan berkelanjutan," tuturnya.

Nadia melanjutkan, "Harusnya banyak kota-kota yang bisa berdiri sendiri membentuk ekosistem industri musik mereka, misalnya Bandung atau Yogyakarta, jadi gimana caranya menciptakan ekosistem industri musik di kota lain selain di Jakarta."

Menurut Nadia, hal tersebut bisa diwujudkan dengan mengembangkan kantor label rekaman dan publisis musik di kota-kota lain selain Jakarta, sebagai contohnya.

Untuk membicarakan persoalan tersebut, bakal diadakan Konferensi Musik Indonesia (KAMI) kedua yang akan berlangsung di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang, Kabupaten Bandung pada Sabtu, 23 November 2019.

Acara tersebut terbuka untuk umum dan aksesnya dapat didapatkan secara gratis dengan registrasi terlebih dahulu.





Simak Video "Manggung di Akhir Tahun, Glenn Fredly Tak Dikomplain Istri"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/kmb)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com