DetikHot

music

Phum Viphurit Bicara soal Skena Musik ASEAN dan Kurosuke

Rabu, 12 Sep 2018 13:10 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Phum Viphurit Bicara soal Skena Musik ASEAN dan Kurosuke Phum Viphurit (Asep/detikHOT)
Jakarta - Phum Viphurit menjadi magnet bagi sejumlah anak muda yang menonton festival Soundrenaline 2018 hari kedua di Garuda Wisnu Kencana, akhir pekan lalu. Ia menyanyikan sejumlah lagu miliknya, mulai 'Strangers in a Dream', 'Lover Boy', hingga 'Long Gone'.

Bila kamu kerap mendengarkan musik di YouTube, keberadaan Phum Viphurit mungkin tak asing. Lagu-lagunya kerap menjadi lagu yang ada kolom Suggestion platform tersebut.

Dalam waktu singkat, ia menjadi idola para remaja. Pria kelahiran Thailand yang besar di Selandia Baru tersebut juga turut mengisi album 'Head in the Clouds' bersama 88rising.



Soundrenaline 2018 bukan panggung pertama Phum di Indonesia. Pria bernama asli Viphurit Siritip tersebut pernah menggelar konser di Jakarta pada 11 Agustus 2018 di Grand Kemang, Jakarta Selatan.

"Tapi ini kali pertama aku datang ke Bali," ujarnya saat ditemui seusai manggung di Bali baru-baru ini. "Maksud saya, rasanya sangat ajaib bisa ada di sini, melakukan tur internasional. Saya sangat bersyukur bisa ada di sini," sambungnya.

Phum Viphurit di Soundrenaline 2018. Phum Viphurit di Soundrenaline 2018. (Asep/detikHOT)

Dalam obrolan tersebut, Phum mengatakan 'berutang' banyak kepada internet. Ia mengatakan musik di Thailand dan negara-negara Asia Tenggara lainnya semakin kaya semenjak adanya platform musik yang bisa membuat para musikus memasarkan karyanya ke berbagai belahan dunia.

Berbagai eksperimen musik, menurut Phum, akhirnya melahirkan genre-genre sampingan yang baru. Musik-musik eksperimental itulah yang, menurutnya, membuat industri musik semakin kaya.

"Kini semakin mudah untuk semua orang mengunggah musiknya. Untuk saya sendiri, saya menggunakan internet dan akhirnya bisa sampai di sini. Ada berbagai subgenre yang berbeda-beda bermunculan," tuturnya.

Sebagai contoh, di negara asalnya, Phum melihat orang-orang Thailand kini mendengarkan musik yang semakin beragam.
Phum Viphurit di Soundrenaline 2018. Phum Viphurit di Soundrenaline 2018. (Asep/detikHOT)

"Bukan hanya Coldplay dan band lain yang didengarkan di Thailand, tapi juga band-band independen. Orang-orang Thailand mulai mendengarkan musik-musik alternatif, misalnya Cuco. Semua orang semakin optimistis dalam menciptakan musik," terangnya.

Tinggal dan besar di Selandia Baru membuat Phum kerap menulis lagunya dalam bahasa Inggris. "Kini orang tak akan lagi bertanya, 'Apa yang kamu lakukan' bila kamu bernyanyi dalam bahasa Inggris," kisah Phum.

"Sekarang musik semakin dipandang sebagai sesuatu yang global dan internasional," sambungnya.

Mengidolakan Kurosuke

Selain skena musik di Thailand, Phum Viphurit cukup mengamati pergerakan musik independen di negara-negara Asia Tenggara lainnya, salah satunya di Indonesia.

Ia mengaku mengidolakan lagu-lagu karya Kurosuke. Kurosuke yang dimaksud tak lain adalah proyek solo vokalis dan gitaris Anomalyst, Christianto Ario, yang telah menghasilkan album debut dengan sejumlah lagu, sebut saja 'Tapestry' hingga 'Fantasy'.

Phum Viphurit di Soundrenaline 2018. Phum Viphurit di Soundrenaline 2018. (Asep/detikHOT)

"Semalam aku diperkenalkan oleh seorang musisi dari Jakarta, namanya Kurosuke dan aku menyukai lagu-lagunya," kata Phum.

Ditanyai apakah ia ingin berkolaborasi dengan Christianto Ario bila mendapat kesempatan suatu hari nanti, Phum menjawab, "Tentunya aku ingin."

"Aku belum terlalu banyak mendengarkan musisi indie lainnya di Indonesia. Kurosuke pun aku tak sengaja menemukannya ketika lagunya muncul saat aku meminta diperdengarkan lagu-lagu indie Indonesia di sini. Untuk saat ini, aku belum punya rencana (berkolaborasi dengan siapa pun), namun aku ingin," katanya.
(srs/tia)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed