15 Grup Musik Tuna Netra di Jateng Berfestival

15 Grup Musik Tuna Netra di Jateng Berfestival

- detikHot
Rabu, 27 Jul 2005 15:45 WIB
Semarang - Tidak bisa melihat bukanlah hambatan bermain musik. Seperti 15 grup musik di Jateng ini. Untuk memamerkan kebolehannya, mereka berama-ramai mengikuti festival musik pada 31 Juli mendatang di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh), Jl. Sriwijaya Semarang.Festival ini memperebutkan Piala Gubernur Jateng dan hadiah total Rp 2,5 juta. Juara I mendapat Rp 1,25 juta, juara II Rp 750 ribu dan III Rp 500 ribu. Tiap grup dibatasi 5 personel yang terdiri dari vokalis, gitar, bass, drum dan keyboard.Selain itu, panitia juga meminta setiap grup menyanyikan dua lagu. Lagu ciptaan almarhum Gombloh 'Gebyar-gebyar' terpilih sebagai lagu wajib. Sedangkan lagu Sheila On 7, Peterpan, dan Simple Plan sebagai lagu pilihan.Ketua Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Jateng Suryandaru menyatakan, festival itu diadakan agar orang awas (orang yang tidak buta) lebih tahu sisi lain dunia tuna netra. "Kami juga ingin golongan kami lebih dihargai," katanya di sela-sela promo Festival Musik Tuna Netra di Mal Ciputra Semarang, Kawasan Simpang Lima, Rabu (27/7/2005).Lelaki yang ternyata lulusan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang ini menjelaskan, selama ini, kaum tuna netra hanya bekerja di sektor pijat-memijat atau pekerjaan lain yang seadanya. Melalui festival musik, pihaknya ingin membuktikan keahlian lain. Suryandaru menambahkan, ke-15 peserta festival adalah perwakilan DPC Pertuni se-Jateng. Ke depan, pihaknya akan memperluas keangggotaan agar setiap acara bisa lebih meriah. "September mendatang, anggota kami bertambah satu, jadi 16 DPC. Kami ingin menggelar MTQ (Majelis Tilawatil Qur'an)," imbuhnya.Sementara itu, Wakil Ketua Pertuni yang juga panitia festival Dewi Rinawati menyebutkan, sebelum festival digelar, pihaknya menyiapkan instruktur pertandingan. Tujuannya, agar peserta bisa diuji benar tidaknya sebagai tuna netra. "Peserta yang naik panggung akan diperiksa instruktur. Kami juga menyiapkan beberapa orang untuk menuntun peserta ke panggung," katanya. Mengenai dana, Dewi mengeluhkan sedikitnya sponsor. Sebagian besar sponsorenggan mendanai festival tersebut karena yang jadi peserta tuna netra. "Mereka (sponsor) bilang, siapa yang mau nonton festival seperti itu," kata Dewi.Dalam promo Festival Musik Tuna Netra se-Jateng, panitia menyuguhkan sejumlah grup musik tuna netra yang tampil bergantian. Tanpa canggung, pemusik tuna netra tersebut bermain layaknya orang biasa. Mereka menyanyikan lagi Koes Plus, Panbers, dan lain-lain.Selain itu, panitia juga memamerkan tuna netra yang sedang bermain catur. Dalam setiap langkah, kedua pemain catur itu selalu menempatkan buah catur dengan tepat sesuai aturan permainan. Puluhan pengunjung mal pun tertarik dengan aksi mereka."Kami punya alat khusus seperti komputer mengurangi keterbatasan kami. Bahkan kami bisa memakai handphone dengan baik. Saya beli program handphone khusus seharga 250 dollar Amerika," kata Suryandaru menjelaskan. (try/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads