DetikHot

music

Ramalan Masa Depan Musik dan Berbagai Eksperimennya

Jumat, 29 Des 2017 13:40 WIB  ·   Nugraha - detikHOT
Ramalan Masa Depan Musik dan Berbagai Eksperimennya Foto: Getty Images
Jakarta - Musik berubah begitu cepat, tapi bisakah manusia bertahan? Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi di masa mendatang.

Wartawan musik Paul Glynn, menulis di BBC beberapa kemungkinan tersebut:

1. Penyanyi Favorit Anda Tidak Nyata
Hatsune MikuHatsune Miku Foto: jpopasia

Salah satu bintang pop terbesar Jepang saat ini, Hatsune Miku bukanlah manusia sungguhan. Detail kecil itu sebagai bukti penyanyi humaniod itu merilis video musik baru lainnya minggu lalu.

Ia juga mungkin punya proyek besar dengan Pharrell Williams. Jika ada dari ranah J-pop yang fiktif, maka musisi Big O yang meninggal tahun 1988 adalah sosok nyata.

Meski sang musisi sudah meninggal, namun tur hologram 3D-nya bakal kembali dilakukan di Royal Philharmonic Orchestra, pada tanggal 8 April. Sang putra, Roy Orbison Jr, berharap avatar ayahnya suatu hari nanti punya tempat di Las Vegas.

"Kami sangat senang dapat kesempatan untuk melakukan ini, tur besar pertama dari seorang seniman almarhum dengan sebuah hologram," katanya.

Ia mengibaratkan, hal tersebut seperti lapisan gula pada sebuah kue. "Kue itu adalah lagu-lagu menakjubkan yang ditulis ayahku dan suaranya yang luar biasa," tuturnya.

Rapper yang juga aktivis, M.I.A percaya alter ego virtual bisa menguntungkan musisi yang masih aktif. Menurutnya teknologi tersebut sangat seksi.

"Saya bisa mengambil rute hippy dalam bernyanyi dengan bertatap muka dengan orang-orang, atau saya bisa mengalirkan pertunjukan maya saya ke kamar tidur orang-orang di seluruh dunia, sehingga Anda bisa berada di lokasi saya di mana saja berada," kata pelantun 'Bad Girls' tersebut.

James Skelly yang juga personel band rock asal Merseyside, The Coral juga punya inspirasi serupa. Ia ingin mengubah segalanya menjadi serba digital sejak bertahun-tahun yang lalu.

"Kami ingin versi holografik, ketika kami pertama kali melakukannya dengan baik tahun 2002, untuk tur ke Jepang. Jika ada kelompok yang bisa melakukan pertunjukan seperti itu, kita juga. Dan, kita bisa membagi keuntungannya, saya akan siap untuk itu," tukasnya.

2. Parameter Hidup Telah Bergeser
WoodstockWoodstock Foto: Hulton Archive/Getty Images

Dari hippies di Woodstock pada 1969, sampai kepada Ed Sheeran dengan pedal efek loop-nya di Glastonbury musim panas lalu, pengalaman festival telah benar-benar berubah.

Pada musim panas mendatang, realitas virtual serta pemetaan 3D, bisa berarti mereka lebih interaktif daripada sebelumnya. Ben Robinson, direktur kreatif Bluedot Festival di Jodrell Bank Observatory sampai pusing membayangkan hal tersebut. Itu menurutnya telah menggeser parameternya.

"Kami telah bermain Orbital yang pada 20 tahun yang lalu adalah teknologi yang sangat terdepan. Melihat laser dan menghasilkan cahaya menjadi daya tarik sehingga lebih dari sekedar pria yang berdiri di atas panggung," katanya.

Saat ini penggabungan visual dan produksi berlangsung cukup gila dengan pemetaan 3D yang memanipulasi tampilan. "Kami adalah generasi yang dimanjakan dengan kemungkinan," ujarnya.

Gorillaz telah menyelenggarakan festival satu hari penuh dengan tajuk 'Demon Dayz' di Margate, Dreamland. Co-creator Jamie Hewlett mengatakan kepada Daily Star bahwa dirinya dan Damon Albarn mungkin sudah terlalu tua. Tapi meski pun sampai kehilangan mereka, Gorillaz masih bisa berjalan.

"Di masa lalu, warisan band adalah ketika mereka meninggalkan rekaman dan video konser VHS, sekarang mereka dapat meninggalkan alat untuk orang lain dan sama efektifnya 50 tahun di masa depan."

3. Studio Rekaman di Laptop
NoelNoel Foto: Tim P. Whitby/Getty Images

Noel Gallagher mengaku kepada Radio X John Kennedy bulan lalu, bahwa ia tidak pernah benar-benar bertemu dengan pemain bass di album barunya 'Who Built The Moon?' Jason Falkner melakukan tugasnya di LA, sementara Noel berada di London.

"Itu adalah kebalikan dari yang pernah saya lakukan. Ketika bersama Oasis, kita berada di sebuah ruangan dengan sekelompok orang dengan kontak mata," ungkapnya.

Butch Vig, produser Nirvana yang juga drummer Garbage menegaskan bahwa teknologi tersebut juga sangat terbuka untuk band baru yang kekurangan uang tetapi punya jangkauan dan imajinasi.

"Ada program pengeditan baru di mana Anda bisa mengerjakan lagu yang sama secara real time di berbagai kota," katanya.

"Anda harus kreatif dengan alat yang Anda miliki dan, karena teknologi digital, semua orang bisa memiliki studio rekaman yang sangat hebat di laptop Anda."

Beth Orton juga memuja cara tersebut, di album barunya, 'Kidsticks' dan dalam beberapa kasus, ternyata suara hasil rekaman komputer lebih disukai ketimbang dari instrumen yang sebenarnya.

"Kemampuan untuk memainkan keyboard dan suaranya terdengar mungkin sangat membebaskan, itu akan mempengaruhi melodi yang Anda buat," tuturnya.

4. Hubungan Langsung Antara Musisi dan Penggemar
Jack WhiteJack White Foto: Rick Diamond/Getty Images

Jack White's Third Man Records memberi penghargaan kepada pelanggan mereka dengan pengiriman edisi terbatas secara eksklusif.

DJ Gramatik melangkah lebih jauh lagi, dengan menjadi artis pertama yang 'tokenise' dirinya sendiri. Itu berarti penggemar membeli token menggunakan cryptocurrency sehingga bisa berbagi pendapatan mereka di masa depan.

Jeff Smith dari music database, DiscD percaya teknologi seperti itu akan membuat garis langsung dari pencipta ke konsumen agar bisa mengirim barang secara langsung, tanpa adanya bentuk pembajakan.

"Kita bisa melihat platform berlangganan, seperti Third Man Records, karena bisa mengirim secara eksklusif album Jack White tanpa mereka diperdagangkan atau dibagi dengan cara apa pun," katanya.

Itu bukan untuk mengatakan bahwa penggemar tak menginginkan bentuk fisik, justru sebaliknya. "Kami benar-benar melihat universal unplugging dan musik dalam bentuk fisik menjadi bagian penting bagi kehidupan orang banyak lagi," tuturnya.

5. Teknologi Musik Terbaru Bukan untuk Semua Orang
Neil HannonNeil Hannon Foto: Jim Dyson/Getty Images

Meski dihadapkan dengan teknologi, bagi banyak orang, musik selalu dan akan selalu bicara tentang manusia. Neil Hanon dari Divine Comedy mengatakan: "Saya akan tampil sebagai Luddite meski saya percaya musik semakin memburuk sehingga Anda dapat menyingkirkan manusia".

Luddite yang diungkapkannya merujuk kepada para penenun asal Inggris pada abad ke-19 yang menentang pengembangan teknologi untuk menghemat penggunaan tenaga kerja karena mesin penenun yang diperkenalkan pada masa Revolusi Industri begitu mengancam.

"Saya meramalkan, jika mereka bersikeras untuk menurunkan jalur itu, maka Anda hanya akan mendapatkan Punk lain dari beberapa deskripsi yang menulis ulang buku aturan," tuturnya.

Punk yang dimaksud seperti rocker Irlandia, The Strypes?

Pemain Bass, Peter O'Hanlon mengatakan: "Pendekatan kami adalah, kami baru saja datang dan main di sebuah pertunjukan. Semua orang terbang melintasi panggung dan kami hanya berdiri di depan Anda dan terus bermain".

"Hal itu keren, tapi cuma tipuan," timpal sang gitaris, Josh McClorey.

Musisi Lisa Hannigan juga tak akan ditemukan dengan berbagai teknologi pada penampilannya. Apalagi tampil sebagai hologram dalam waktu dekat.

"Saya bahkan hampir tidak dapat membuka aplikasi kamera di telepon saya," tuturnya.

Ia bahkan sedikit mengolok penampilan hologram yang menjadi teknologi mutakhir bagi para musisi. "Batalkan tur hologram Lisa Hannigan karena kami telah kehilangan kabelnya!"

Senada dengan Marcus Mumford yang lebih menyukai semangat suci mereka. "Saya tak tahu bagaimana masa depan musik akan terlihat seperti apa, tapi jika saya tak bermain, saya tak ingin ada bagian dari itu. Jika kedengarannya bagus dan orang bersenang-senang, maka itu cukup bagi saya".


(nu2/srs)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed