Bam Mastro Kritisi Ketidaksetaraan Warna Kulit dalam 'I Bleach My Skin'

ADVERTISEMENT

Bam Mastro Kritisi Ketidaksetaraan Warna Kulit dalam 'I Bleach My Skin'

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Senin, 11 Des 2017 14:02 WIB
Foto: dok. Bam Mastro
Jakarta - Selama ini mereka yang berkulit terang dinilai lebih superior dibandingkan dengan yang memiliki kulit berwarna gelap. Kulit putih yang dijadikan salah satu penanda kelebihan fisik juga menjadi slogan dari banyak produk perawatan tubuh.

Berangkat dari pengalaman pribadi, Bam Mastro lewat mini album terbarunya yang berjudul 'I Bleach My Skin' mencoba mengkritisi hal tersebut.

Pria yang selama ini dikenal sebagai vokalis Elephant Kind tersebut mencoba menuangkan ide-ide empowerement terhadap warna kulitnya dalam mini albumnya tersebut.

"Kata 'I Bleach My Skin' sendiri diambil sebagai tema utama dimana lirik dalam EP ini menunjukan bahwa saya menolak untuk memutihkan kulit saya dengan istilah "skin whitening" atau "lightening"," ujarnya dalam keterangan yang diterima detikHOT, Senin (11/12/2017).

"Pengalaman hidup di Indonesia selama 4 tahun belakangan ini membuat saya sadar bahwa adanya ketidaksetaraan antara orang asing dan orang lokal, dan pengalaman masa kecil yang saya rasakan memberikan kesan bahwa warna kulit yang lebih terang adalah warna kulit yang lebih baik. Semua misconception itu dipatahkan di EP ini," tuturnya lagi.

Sebelum merilis mini album, Bam Mastro telah terlebih dahulu menandakan karier bernyanyi solonya dengan merilis single 'Idols' pada April 2017.

Dalam 'I Bleach My Skin' terdapat enam nomor lagu. Di antaranya adalah 'Calling All Gods', 'Mastro', 'Fire Fore', 'Racing', 'Idols, Part 1' dan 'Idols, Part 2'.

Selain itu, Bam Mastro juga berkolaborasi dengan Matter Mos dan Ramengvrl untuk lagu 'Idols' part 1 dan 2 dalam mini album tersebut.

Secara musik, Bam Mastro berusaha menuangkan musik yang berbeda dari yang selama ini ia bawakan bersama bandnya di Elephant Kind.

"Musik ini sangat berbeda dengan gaya musik yang disajikan Elephant Kind, campuran urban, spoken words dan pop dance," ungkapnya.


(srs/doc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT