DetikHot

music

Perempuan di Atas Panggung, dari Perundungan hingga Tantangan

Kamis, 19 Okt 2017 14:03 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Perempuan di Atas Panggung, dari Perundungan hingga Tantangan Moderator Stanley Widianto dengan pembicara Kartika Jahja, Yacko, dan Hera Mary dalam diskusi 'Women; Gender Equality Within the Local Scene' di Archipelago 2017. Foto: Dyah Paramita Saraswati / detikHOT
Jakarta - Jika di artikel sebelumnya Kartika Jahja mengatakan pencapaian musisi perempuan saat ini bisa dikatakan berkembang dari generasi sebelumnya, tidak serta merta 'pekerjaan rumah' para perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam musik telah selesai.

"Menurut saya, harusnya kita (perempuan) bisa bersaing dengan laki-laki atau gender lainnya, bukan bersaing tapi bermain bersama-sama secara rata," ungkap Kartika Jahja dalam panel 'Women; Gender Equility Within the Local Scene' pada acara Archipelago 2017 yang berlangsung di Soehanna Hall, SCBD, Jakarta Selatan akhir pekan lalu.

Meski telah berjalan maju, para musikus perempuan yang berlaga di atas panggung sebenarnya masih menghadapi berbagai tantangan.

"Setiap kali ngobrol di scene musik soal perempuan, seringkali musisi-musisi perempuan yang ditanya nggak pernah mengalami kekerasan seksual (baik verbal maupun fisik) dari teman-teman sejawatnya," ujar Kartika Jahja.

"Tapi seringkali di mosh pit, di penonton, mereka pernah mengalami pelecehan seksual," sambung perempuan yang akrab disapa Tika itu.

Menjalani panggung demi panggung, sejumlah musisi perempuan pernah mengalami perundungan seksual dari para penontonnya. Mulai dari disentuh hingga diraba tanpa consent dan persetujuan.

Dalam panel tersebut,Tika bercerita pernah mendapati seorang penonton memperagakan hal tidak senonoh saat menonton dirinya manggung.

"Pada saat itu saya marah, tapi saya hanya bisa diam karena saya tidak berani. Menjadi berani juga merupakan proses yang panjang. Maka itu diam juga reaksi, tidak bisa dikatakan salah, tapi tidak juga bisa dikatakan benar," tuturnya.

Rapper Yacko juga pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan di atas panggung. Hal tersebut terjadi ketika ia tengah melakukan stage diving.



"Waktu itu gue stage dive, terus diraba, diremas. Impuls pertama ya gue ngamuk, gue langsung keluar kata kasar. Sempat ramai juga, sempat dihentikan juga, terus kemudian gue mencoba lanjut," kisah Yacko.

Sayangnya, kerap kali pandangan negatif justru ditimpakan kepada para penyintas perundungan seksual yang berani bicara tersebut. Menyalahkan korban rupanya masih menjadi suatu hal yang banyak dilakukan oleh masyarakat.

Hera Mary mencontohkan pengalaman yang dialaminya mengenai respons yang berdatangan padanya ketika film 'Ini Scene Kami Juga!' dirilis.

"Waktu film 'Ini Scene Kami Juga!' diangkat, ada sebaris komentar yang menyalahkan korban. Bunyinya, 'Kenapa harus stage dive, ya itu resiko kalau lo stage dive'. Justru banyak tekana dari temen-temen scene-nya sendiri," urai Hera Mary.

Konstruksi Sosial Masih Jadi Tantangan

Jika terlepas dari perundungan, perempuan yang bermusik rupanya masih harus menghadapi sejumlah tantangan lainnya yang bersumber dari adanya konstruksi sosial dari pola pikir yang patriarkal.

Tantangan tersebut bisa berupa standar ganda, bisa pula berupa diskriminasi berbasiskan gender.

"Belum lagi jika bicara mengenai umur karier musisi perempuan. Di usia tertentu, perempuan menjadi tidak produktif lagu karena stigma harus menikah, tidak boleh keluar malam, dan lain-lain," terang Tika.

Diskriminasi berbasiskan gender juga pernah dialami oleh Yacko. Ia bercerita, dalam sebuah acara dirinya ditempatkan sebagai penampil paling awal oleh penyusun rundown.

"Alasannya karena saya perempuan, jadi bisa menarik masa. Okelah kalau saya ditaruh paling awal karena musisi lainnya bobotnya lebih tinggi dari saya, misalnya, tapi kalau karena saya perempuan? Saya rasa tidak ada hubungannya dengan musik saya," keluh Yacko.

Menurut Kartika Jahja, konstruksi sosial yang menjadikan perempuan sebagai gender kedua tersebut sebenarnya bisa dibongkar bersama-sama.

"Kita terus menerus dikasih success story tanpa diberitahu dan memikirkan apa yang dihadapi anak perempuan dalam kariernya. Ini adalah sesuatu yang harus kita bongkar bareng-bareng," ujarnya optimis.

Mengenai sudah sejauh apa konstruksi sosial tersebut dibongkar kini, hari ini detikHOT akan membahas dan mempertanyakan persoalan-persoalan tersebut.



(srs/tia)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed