DetikHot

music

Bencana Galunggung, Tampomas dan Bintaro dalam Lagu Ebiet G Ade

Selasa, 04 Jul 2017 18:20 WIB  ·   Sudrajat - detikHOT
Bencana Galunggung, Tampomas dan Bintaro dalam Lagu Ebiet G Ade Foto: Kawah Dieng meletus. (Dok. Istimewa).
Jakarta - Selain lagu 'Berita Kepada Kawan' yang terinspirasi dari tragedi gas beracun Kawah Sinila di kawasan Dieng, Ebiet G Ade juga menciptakan tiga lagu lain berdasarkan bencana alam maupun kecelakaan tragis yang menimbulkan banyak korban jiwa.

"Ketiga lagu dimaksud adalah 'Sebuah Tragedi 1981', 'Untuk Kita Renungkan', dan 'Masih Ada Waktu'," kata pengamat musik Bens Leo kepada detikHOT, Selasa (4/7/2017).

'Pada Sebuah Tragedi' bercerita tentang terbakar dan tenggelamnya kapal Tampomas II di perairan Masalembo pada 24 Januari 1981. Kapal yang tergolong masih baru dioperasikan ini rupanya kapal bekas, dan saat kebakaran menelan korban jiwa hingga 431 melayang. Tapi di lagu ini Ebiet yang punya nama asli Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far lebih menyoroti aksi kepahlawanan sang nakhoda, Kapten Achmad Rivai.

"Dia nampak tegah berdiri, gagah perkasa. Berteriak tegas dan lantang, ia nakhoda. Sebentar gelap hendak turun. Asap tebal rapat mengurung. Jeritan yang panjang, rintihan yang dalam, derak yang terbakar, dia tak diam…"

Sementara 'Untuk Kita Renungkan' dibuat Ebiet terkait bencana letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat pada awal 1982. Saat itu dia prihatin karena banyak sumbangan yang tidak sampai ke para korban, dikorup oleh orang-orang yang rakus yang masih beruntung tidak menjadi korban.

Salah satu bait lagu ini secara pedih menggambarkan bagaimana penderitaan warga yang harus berjibaku menghindari muntahan abu dan lahar panas. "Anak menjerit-jerit, asap panas membakar, lahar dan badai menyapu bersih."

Tapi yang lebih memilukan Ebiet dan membuatnya sangat marah adalah kabar terjadinya korupsi dalam penanganan bantuan untuk para korban. "Dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista. Tuhan pasti telah memperhitungkan amal dan dosa yang telah kita perbuat."

Kemudian lagu 'Masih Ada Waktu' digubah Ebiet sebagai semacam introspeksi diri atas peristiwa tabrakan kereta api di Bintaro. Kecelakaan pada 19 Oktober 1987 itu merenggut 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka. Lagu ini antara lain memuat lirik: "Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya. Kita mesti tabah menjalani."

"Karena merupakan hasil refleksi dari sebuah realitas, syair lagu-lagu Ebiet begitu kuat dan menyentuh. Lagunya menjadi lestari dan kerap diputar setiap kali bencana terjadi," kata Bens.


(jat/nu2)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed