Ruang Video Musik Semakin Sempit, YouTube Jadi Penyelamat

Hari Musik Nasional

Ruang Video Musik Semakin Sempit, YouTube Jadi Penyelamat

- detikHot
Selasa, 10 Mar 2015 14:40 WIB
Ruang Video Musik Semakin Sempit, YouTube Jadi Penyelamat
RAN (Asep/detikHOT)
Jakarta - "Video killed the radio star," demikian potongan lirik lagu yang ditulis Trevor Horn, Geoff Downes dan Bruce Woolley pada 1978. Namun kini video musik dirasa kurang mendapatkan tempat di media televisi yang menjangkau masyarakat Indonesia secara luas.

Salah satunya adalah meredupnya acara musik nasional hingga terkikis ruang untuk musisi memamerkan karya musik dalam video. Topik terakhir pun memang belakangan menjadi hangat diberbincangankan.

Jika di era 90-an hingga awal 2000-an sebuah video klip menjadi sangat menarik namun di era saat ini seperti sangat jarang terlihat. "Ya sebuah video klip itu karya cipta kita juga. Tapi sekarang memang jarang dihargai khsusunya TV. Ada beberapa tapi masih kecil," ucap gitaris Nidji, Ariel kepada detikHOT belum lama ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ariel pun sedikit mengenang di mana saat masa kecil melihat sebuah video klip dalam sebuah acara musik yang rutin. Dan, kini sangat jarang hal tersebut bisa terulang.

"Sekarang susah, memang belum ada ruang aja. Gue yakin suatu saat nanti akan ada," katanya seraya menyelipkan harapan.

Televisi tentunya memiliki penyaringan dalam menampilkan video musik. Dan kriteria paling utama adalah lagu paling populer. Jika industri suka dengan Cita Citata dengan 'Skitnya Tuh Di Sini', stasiun televisi seperti berlomba-lomba mengundangnya sebagai penampil. Sementara karya baru dari musisi lain sulit mendapatkan tempat.

"Kita bersyukur ada seseorang yang menciptakan YouTube di luar sana ya. Karena agak kurang saja kalau lagu, tanpa video klip," ucap personel RAN, Rayi kepada detikHOT belum lama ini.

"Sedangkan sekarang, jarang ada stasiun televisi yang mau muterin video klip," sambungnya.

Rayi sendiri melihat para penikmat RAN memang banyak berkutat dengan internet. Hingga akhirnya, tak sulit untuk mengarahkan untuk bisa 'menjual' video klipnya dalam YouTube.

"Pasar RAN juga banyak anak-anak sekolah yang merupakan pengguna internet. Bahkan mereka lebih banyak menonton acara di internet daripada televisi. Jadi, YouTube sarana yang tepat," jelasnya.

Namun, Rayi sendiri punya keinginan suatu saat nanti ada program TV yang memberikan tempat lebih. Apalagi melihat program TV yang memang sudah tak jelas lagi konsepnya.

"Walaupun kita masih berharap ada satu saluran televisi, atau program yang mendedikasikan untuk musik," harap Rayi.

(fk/ich)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads