Sebelum membahas bagaimana 14 lagu di dalamnya, perlu diketahui bahwa 'Paula' merupakan catatan perjalanan terburuk bagi musisi yang memulai kariernya sejak 1994 ini. 'Paula' hanya terjual sekitar 50 ribu di seluruh dunia saat minggu pertama. Jauh dengan album terakhirnya 'Blurred Lines (2013)' yang terjual hingga 177 ribu kopi di minggu pertamanya.
Ada apa dengan 'Paula'?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendengarkan 'Paula' di lagu pertama, 'You're My Fantasy', tidak banyak perubahan yang terjadi pada musikalitas Thicke, begitu juga dengan lagu berikutnya 'Get Her Back' dan 'Still Madly Crazy'. Musisi bernama asli Robin Charles Thicke masih memberikan musik-musik khas seperti enam album sebelumnya. Musik R&B yan kental, dipadu balada-balada manis dari bunyi piano.
Akan tetapi sedikit berbeda ketika solois 37 tahun itu menaikkan temponya di lagu ke-6, 'Living In New York City'. Nuansa old-school blues bertempo sedang yang dibalut karakter suara R&B Thicke, membuat lagu tersebut multigenre.
Lagu selanjutnya, 'Love Can Grow Back' cukup menarik perhatian. Tiupan seksi terumpet serta alunan organ membuat lagu tersebut semakin terdengar muram penuh pengharapan.
Sayang, lagu berjudul 'Black Tar Cloud' yang hadir selanjutnya tidak melanjutkan keindahan. Entah mengapa musiknya terdengar lagu apakah menampilkan akapela atau instrumen secara penuh. Untung, di bagian akhir lead-lead gitar bernada minor muncul bersahutan-sahutan, begitu juga dengan drum dan piano. Bisa jadi membuat siapapun urung mengutuk lagu ini.
Semakin berjalan jauh, 'Paula' terdengar semakin multigenre. Misalnya saja lagu ke-9 'Too Little Too Late' yang memainkan musik electro pop masa kini. Kemudian disusul 'Tipsy Toes' yang tiba-tiba muncul dengan irama Rock N' yang membuat seakan-akan Elvis Presley hadir.
'Something Bad' yang didaulat sebagai lagu ke-11, bau Electronic Dance Music (EDM) kembali tercium. Meski tidak kuat, setidaknya menyatakan bahwa Thicke mengikuti perkembangan zaman. Bahkan di lagu-lagu terakhirnya, pelantun hits 'Blurred Lines' itu bukannya mengembalikan khayalan pendengar pada identitas asli dirinya, malah menghadirkan 'Time of Your Life', sebuah lagu folk. Di bagian paling akhir, balada piano 'Forever Love' menutup kisah kasih 'Paula'.
Dari segi musik, seharusnya tidak sampai begitu parah sehingga membuat album ini terpuruk. Eksplorasi berlebihan? Tentu bisa dimaklumi. Dan memang, masalahnya bukan terletak pada musikalitas Robin Thicke, tapi lirik. Pendengar tentu senang akan karya idolanya, termasuk karya yang terinspirasi dari kesedihan. Tapi, tidak sebanyak ini.
(hap/mmu)











































