Ketika pertama kali mendengar, tentu kalian akan menyandingkan HAIM dengan Tegan and Sara atau The Drums yang lebih dulu populer. Tapi, jika menilik lebih jauh, maka trio asal California, Amerika Serikat itu berbeda.
Dibantu oleh produser kenamaan James Ford, Este Haim (bass,vokal), Danielle Haim (gitar,vokal), Alana Haim (gitar, piano, vokal) dan Dash Huttom (drum) menciptakan nada pop rock yang tidak biasa. Kombinasi bunyi-bunyian elektronik khas indie masa kini, kental terdengar bergantian dengan distorsi gitar serta petikan bass.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lagu kedua adalah 'Forever' yang justru mengusung aransemen disko klasik ala 'Get Lucky' dari Daft Punk. Namun, lagi-lagi HAIM dapat menggabungkan unsut distorsi kasar gitar elektrik dan membuatnya nyaman didengar.
Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa 'Forever' diberi kehormatan sebagai single hits perdana mereka yang dirilis pada bulan Oktober 2012. Ketiganya memiliki suara vokal yang sangat nyaman didengar.
Mereka bernyanyi bergantian, tidak ada banyak ornamen, tapi cukup membuat setiap pasang telinga bertahan berlama-lama mendengarkan tiap lagunya.
Terdengar lebih klasik dengan dominasi bass sebagai pembuka, HAIM mempersembahkan 'The Wire' sebagai lagu ketiganya. Di sini, mereka sedikit mengurangi perangkat digital dan lebih banyak menggunakan alat musik otentik. Bahkan, lengkingan melodi gitar cukup mendominasi di bagian-bagian akhir lagu. Baru masuk akal di lagu ini, ketika sebelumnya di berbegai wawancara mereka bertiga mengidolakan musik rock 90an ala Fletwood Mac.
Terjadi de javu di lagu keempat 'If I Could Change Your Mind'. Era klasik pop rock masih bertahan seperti lagu sebelumnya. Nah, berikutnya, 'Honey & I' yang menjadi lagu kelima, HAIM menurunkan tempo pada album yang dirilis bulan Sepetember 2013 itu. Miskin instrumen, HAIM lebih banyak mengolah vokal yang menjadikan lagu ini semakin ceria dan muda.
Ini adalah single kedua yang diyakini keluarga HAIM mampu membawa nama mereka melambung lebih tinggi. Meskipun terkadang, 'The Wire' juga kedengaran tidak kalah 'jago'. Baiklah, lagu keenam yang berjudul 'Don't Save Me', terdengar bunyi piano dan perkusi yang cukup dominan dan menjadi perhatian jika didengarkan secara seksama.
Lagipula, di lagu ini memang ada satu titik yang mempertegas arah musik HAIM yang berbeda dari Tegan and Sara, The XX ataupun The Drums yang banyak menjadi pembanding mereka.
Lagu ketujuh yang berjudul sama dengan albumnya, seakan menjadi 'theme song' dari keseluruhan materi yang tersedia. Bagaimana tiga perempuan itu ingin menggambarkan kegembiran mereka dan menyambut warna baru hidupnya dengan bernyanyi. Musik pop yang ceria, serta lirik penuh semangat menjadi saksinya.
Setelah dirasa cukup rehat, Este, Danielle dan Alana kembali membawa aransemen ajaib pada lagu kedelapan berjudul 'My Song 5'. Tidak tahu jenis alat apa yang digunakan, karena terdengar seperti trombon atau mungkin tuba atau perangkat digital yang menyerupai bunyi keduanya, yang kemudian dikombinasikan dengan melodi gitar.
Sesuai dengan judulnya, 'Go Slow', HAIM memang melambatkan lagi tempo bermusiknya. Sampai muncul lagu ke-10 berjudul 'Let Me Go' yang dibuka dengan suara 'feed back' dari perangkat elektronik yang sepertinya terlalu dekat. Tiba-tiba saja, setelah satu menit bernyanyi tanpa iringan musik, trio ini 'marah'.
Pukulan pada drum yang penuh emosional menghajar telinga yang tidak bersalah. Ditambah lagi melodi gitar yang melengking dengan efek 'delay' menghentak terus-menurus seperti tidak terkontrol. Di sini HAIM terdengar seperti The Strokes.
Sebagai penutup, lagu cinta berjudul 'Running If You Call My Name' bersuara manis dengan melodi keyboard yang tak henti dimainkan personel paling muda, Alana Haim. Tidak salah memang, ketika album ini keluar, begitu banyak orang jatuh cinta dengan mereka. Mungkin musiknya bisa jadi ada kemiripan, tapi tidak dengan musikalitas dan terutama suara vokal yang adem di hati.
(hap/fk)











































