Salah satu festival musik tertua di Indonesia, Jak Jazz usai digelar akhir pekan lalu, Jumat hingga Minggu (18-20/10). Sayangnya, acara tersebut meninggalkan sedikit 'catatan hitam'.
'Catatan hitam' itu tergores ketika beberapa kabar tak sedap menyeruak ke permukaan. Mulai dari pembatalan beberapa musisi dalam dan luar negeri hingga pengakuan sejumlah musisi tentang pembayaran honor yang tak beres.
Kabar tak sedap itu jelas menodai kemeriahan dari festival tersabut. Fakta di lapangan pun, penonton yang hadir tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bayangkan, pengurusan kontrak yang dilakukan penyelenggara terhadap beberapa musisi dilakukan sebatas kontrak 'verbal' alias dari mulut ke mulut dengan dasar kepercayaan. Mungkin, bagi musisi yang sudah lawas hal itu bisa diterima tapi banyak juga musisi yang menolak sistem tersebut.
Terhitung musisi seperti Syahrani, Once Mekel dan Indra Lesmana memilih untuk batal tampil karena hanya disodorkan kontrak verbal tersebut. Tapi ada juga musisi seperti Ireng Maulana dan Barry Likumahuwa yang terima-terima saja dengan hal itu.
Begitu juga musisi luar negeri asal Prancis, Jeremy Tordjiman yang merasa kontrak manggung tak jelas. Alhasil, meski datang Jeremy memutuskan untuk tidak manggung.
Belum lagi masalah beberapa musisi yang batal tampil. Mulai dari Lica Cecato (Brasil) dan Afronesia (Afrika Selatan).
Namun, tetap ada yang bisa dinikmati dari Jak Jazz tahun ini, sebut saja penampilan jempolan dari Barry Likumahuwa Project yang menjadi penutup.
(fkh/mmu)











































