Idealnya Industri Ada Untuk Melayani Seni, Bukan Sebaliknya

Label Rekaman Alternatif (6)

Idealnya Industri Ada Untuk Melayani Seni, Bukan Sebaliknya

Astrid Septriana - detikHot
Jumat, 23 Agu 2013 15:50 WIB
Idealnya Industri Ada Untuk Melayani Seni, Bukan Sebaliknya
Band Payung Teduh
Jakarta -

Musisi yang pernah tergabung dalam grup band Sore, Ramondo Gascaro, kini justru tengah aktif berada di balik layar produksi musik. Dengan label yang ia dirikan bersama Sarah Glandosch, Ivy League Music, ia berharap bisa menjadi corong bagi musik Indonesia.

"Banyak musik bagus di Indonesia dan semua itu perlu corong. Maka, kita coba jadi corongnya. Karena sayang kalau musik bagus tidak diperdengarkan," ujar pria yang akrab disapa Mondo ini, kepada detikHOT pada Rabu (21/8/2013).

Ia menceritakan cara kerja fleksibel yang diterapkan pada label miliknya ini. Meski menitik beratkan pada promosi album, namun Mondo dan Sarah tidak menutup permintaan dari band yang bergabung, untuk memenuhi kebutuhan lain. Seperti memproduseri, distribusi, juga membawa musisi yang tergabung untuk bersaing dalam kancah global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua itu sekarang mengarah ke cara kerja yang lebih fleksibel dan lebih tanggap dengan perkembangan industri dan pasar. Kalau enggak gitu, akan ketinggalan," kata Mondo.

Lebih lanjut, Mondo menjelaskan pandangannya soal kehadiran label-label alternatif. Disebut alternatif, karena pembagian label major dan indie ia anggap sudah tak lagi relevan. "Untuk sekarang sudah enggak relevan ya, pelabelan indie atau major. Yang ada adalah, modal besar dan modal kecil ha...ha...ha...," tutur Mondo.

Menurutnya, Cara kerja label indie dan major memang berbeda. Misalnya dalam tahap pendistribusian, Major label bekerja dengan cara pendistribusian konvensional. Artinya, melalui CD fisik didistribusikan melalui agen dan langsung disebarkan di toko-toko besar.

Cara konvensional ini, pernah diadaptasi oleh label rekaman indie, Aksara Label, yang kini telah tiada. Sementara label indie, mendistribusikan CD fisik ke distro, toko-toko kecil dan bahkan coffeeshop. "Kita mengkombinasikan itu, yakni melakukan cara distribusi konvensional tapi juga masuk ke toko-toko kecil, termasuk menjual secara online."

Ia kembali mengembangkan contoh, dimana manajemen untuk band-band besar di luar negeri, non-indie, sudah mulai menggunakan pendekatan indie dalam menjalankan roda bisnisnya. "Mereka melakukan pendekatan seperti indie, dengan membuat box set, piringan hitam, merchandise, dijual online juga atau membuat pre-order. Ini kan sebenarnya cara kreatif dari indie untuk ngakalin gimana bisa survive dan bisa jalan terus, sekarang cara itu dibutuhin banget."

Namun, percampuran semangat indie dengan cara-cara korporasi ini, menurut Mondo tetap sah. Selama apa yang menjadi misinya adalah untuk menyampaikan karya musik kepada seluas-luasnya pendengar. Menurutnya, ini adalah salah satu manfaat yang bisa diambil dari sebuah industri musik.

"Industri itu ada untuk melayani kesenian, bukan sebaliknya," ujarnya.

Kini, musikus-musikus indie sudah mulai memiliki banyak pilihan untuk menggaungkan karya mereka. Tak heran, sejak beberapa tahun belakangan, penikmat musik indie pun semakin muncul ke permukaan. Hubungan antara musisi dan pendengar ini tergambar dengan semakin banyaknya rilisan album indie, acara-acara musik bergengsi dengan spirit indie, dan lain sebagainya.

Menurut Mondo apa yang ditawarkan oleh band-band indie itu, spirit-nya bisa relate dengan anak-anak sekarang. Sekarang ini band-band indie punya corong untuk lebih memperkenalkan spirit mereka. Pendengarnya juga mencari sendiri, dari zaman Myspace, terus ada Last.Fm, Youtube. Jadi band-nya aktif, pendengarnya aktif."

Inilah yang menjadi salah satu faktor, berseminya skema musik indie di Indonesia sekarang ini.

Musik memang telah mendarah daging dalam jiwa Mondo, meski begitu, baginya musik adalah seni yang paling tidak memiliki manfaat. Kala drama teater bisa merepresentasikan sebuah kisah, begitu juga dengan lukisan, yang bisa menjadi citra dari sebuah keadaan.

"Seni yang lain merepresentasikan sesuatu di luar dirinya. Musik itu enggak, dia merepresentasikan dirinya sendiri. Tapi kita enggak bisa hidup tanpa itu, itu sekaligus membuktikan keesaannya ya he-he-he," kata Mondo

Untuk penjualan CD di masa digital ini Ivy League Music, masih optimis. Sarah menjabarkan alasannya. "Kalau CD fisik loe bisa buka itu sampai 50 tahun lagi. Kalau digital itu cuma ada di layar, ibarat foto yang enggak pernah lo cetak. Kalau ada kesempatan, kita pasti berusaha kasih tahu romantismenya punya CD fisik."

Sarah, yang sebelumnya bekerja di Aksara Records ini memang merupakan penikmat musik. Menurutnya bekerja di bidang musik itu adalah sebagai wujud apresiasinya, karena ia pribadi tidak bisa memainkan instrumen musik.

Ia mengharapkan para penikmat musik mau mendengarkan sebanyak-banyaknya musik dan alirannya. "Mengkotak-kotakan musik itu sudah enggak ada, karena saking ramainya. Jadi ngga ada diskriminasi, semua justru ingin membuat musik yang bagus," tuturnya.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads