Ivy League, Promo dan Merilis Album Sampai Ke Jepang

Label Rekaman Alternatif (5)

Ivy League, Promo dan Merilis Album Sampai Ke Jepang

Astrid Septriana - detikHot
Jumat, 23 Agu 2013 13:48 WIB
Ivy League, Promo dan Merilis Album Sampai Ke Jepang
Jakarta - Demajors bukan pemain sendirian di lahan produser musik alternatif. Masih ada Ivy League Music. Bedanya jika Demajors menitikberatkan labelnya pada pendistribusian, maka Ivy League lebih kepada promosi album.

Ivy League Music didirikan oleh eks personil band Sore, Mondo Gascaro bersama Sarah Glandosch. Sebelum membentuk Ivy League keduanya sudah telah malang melintang di industri musik independen Indonesia.
Β 
Usia Ivy League baru satu tahun, tapi keberanian mereka mengambil langkah yang berbeda untuk mengembangkan musik patut dilirik.
Sarah dan Mondo bernyali melakukan hal ini karena mereka sadar perlu ada perubahan dari cara lama yang baku untuk mempromosikan album.Β 

"Karena kita sering datang ke acara-acara musik, melihat teman-teman musikus, sepertinya harus ada perubahan. Enggak bisa pakai konsep yang sama terus, karena zamannya sudah berbeda," ujar Sarah kepada detikHOT di kedai Get Back Coffee, Fatmawati, Jakarta, Rabu (21/8/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Motto dari Ivy League Music sendiri adalah 'promo and whatever', menurut Sarah, ini karena memang mereka fokus pada promo. Namun mereka melihat kenyataan di lapangan, bahwa kerjasama dengan musikus dan pihak yang ada di sektor musik ini tidak terbatas. Masing-masing musikus, misalnya, memiliki karakter dan kebutuhan berbeda yang perlu ditangani secara utuh oleh mereka.

Kini Ivy League Music memiliki tiga katalog dari musikus lokal, diantaranya, Ayushita dengan album Morning Sugar, Darryl Wezy dengan album Maze of Fears dan Payung Teduh dengan album Dunia Batas. Juga dua katalog dari musisi internasional, yakni, The Royalties dan Mari Persen untuk dipromosikan di Indonesia.

Sebenarnya tak ada syarat artistik khusus dan sulit bagi musikus yang ingin bergabung dengan Ivy League. Karena pemilihan musiknya lebih kepada subjektivitas telinga tim di Ivy League Music."Dasarnya lebih ke musik yang kita suka aja. Tapi gue lihat harus ada karakter yang kuat dan kejujuran di musiknya. Karena kalau jujur bisa lebih long-lasting," ujar Mondo.

Perjanjian kontrak antara Ivy League Music dengan musikus pun berjangka setahun, dan bisa diperbaharui dengan perjanjian baru. Menurut mereka hal ini dibuat demi menjaga fleksibelitas kedua belah pihak.

"Perjanjian kita untuk mencapai win-win solution sebenarnya, karena kalau menargetkan musikus harus membuat tiga album bersama kita, misalnya, menurut gue ini enggak perlu. Itu zaman dulu, sekarang sudah beda. Dia mau berkarya kapan saja bebas," tutur pria berusia 37 tahun ini.

Menurut Sarah, sistem kerja mereka lebih berbasis diskusi dan bersifat setara, tidak ada hierarki yang diterapkan. "Supaya suasananya kondusif, kita ini kan sebenarnya perpanjangan dari apa yang diinginkan oleh bandnya. Jadi. bukan kita yang mengarahkan."

Akhirnya, meski Mondo juga memiliki latar belakang sebagai produser dan musikus. Ia tak mau merubah karakter dari band yang tergabung dengan Ivy League Music. Namun, dalam contoh album kedua Payung Teduh, ia menjelaskan keterlibatannya lebih dalam dibandingkan dengan katalog yang lain.

"Kita mengkonsep albumnya bareng-bareng, karena waktu ketemu mereka sudah ada album pertama, yang direkam live sendiri," jelas Mondo.

Album pertama itu menurut mereka hasilnya belum maksimal. "Karena dibandingkan penampilan live mereka, album itu enggak bisa mewakili." Maka, Mondo banyak memberi masukkan soal instrumen juga metode rekamannya. Agar karakter Payung Teduh dalam album kedua terasa lebih kental .

Sarah berharap keberadaan Ivy League Music bisa menyiarkan karya-karya musik yang bagus, yang selama ini hanya diketahui oleh sebagian orang. Sarah dan Mondo yakin, lagu bagus itu berhak untuk diperdengarkan seluas-luasnya.

Maka ia giat bekerja sama dengan banyak pihak, seperti toko pendistribusian CD, studio rekaman, event musik dan beragam lini dalam sektor musik. Termasuk dalam memproduksi sebuah merchandise.
Menurut mereka, apa yang bisa dikerjakan secara bersama dan terbuka, lebih baik dikerjakan bersama. "Jadi kita seperti membuat rantai kerjasama, untuk mengembalikan spirit independen lagi," kata Sarah.

Hasil kerjasama itu tak terbatas di Indonesia saja, Ivy League bahkan bisa menjangkau masyarakat Jepang saat promo album kedua Payung Teduh. Hingga akhirnya Payung Teduhpun bisa unjuk gigi di panggung Tokyo, Jepang.

Tak hanya Payung Teduh, bahkan CD salah satu musikus Ivy League, Darryl Wezy pun dirilis untuk pasar Jepang. "Menurut kita, materi musik Darryl Wezy akan lebih mudah diterima di pasar Jepang, jadi kita coba lemparkan kesana. Alhamdulillah bisa tembus," ujar Sarah, perempuan berusia 27 tahun itu.

Hingga kini produk yang dikeluarkan oleh Ivy League musik adalah CD fisik, CD online dan merchandise. Kedepannya mereka berharap bisa membuat versi piringan hitam dari musikus yang tergabung disini.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads