ADVERTISEMENT

Label Rekaman Alternatif (4)

Demajors Radio, Gaungkan Musik Minoritas Lewat Radio Streaming

- detikHot
Jumat, 23 Agu 2013 12:46 WIB
Aksi salah satu band indie (Dokpri)
Jakarta - Tak sekadar memproduksi album musik indie, Demajors Independent Music Industri merasa punya misi untuk memperkenalkan dan memperdengarkan karya musikusnya seluas mungkin. Maka sejak 14 Februari 2010, Demajors mengudarakan lini Demajors Radio yang berbasis situs online.

Mereka berusaha menarik keuntungan dari radio streaming ini. Maka tak heran jika pendengar mereka sampai ada di Swedia, Perancis dan Jepang.

Radio online ini mengudara 24 jam sehari semalam dengan 10 jenis program yang berjalan selama sepekan penuh. Program bertajuk Tengah Hari Bolong diputar dari Senin sampai Jumat pada pukul 12 sang sampai 3 sore.

Program ini memutar katalog musikus yang berada dalam naungan Demajors, sementara 20 persen-nya memutar lagu dari manca negara. Untuk aliran musik Rock, Demajors menyediakan program siaran sendiri setiap Senin malam.

Pada Minggu malam, Demajors Radio menyediakan program bernama Dradio 8Tracks. Ini merupakan wadah bagi para musikus lokal untuk memperkenalkan karyanya. Mereka hanya perlu mengirimkan surat elektronik ke redaksi radio, lalu 8 lagu dari 8 band yang dipilih untuk diputarkan, juga akan dibahas profilnya.

Yang unik ada program bernama Sabotage setiap Rabu malam. Musisi indie dipersilakan untuk siaran sendiri selama dua jam penuh dengan materi dari mereka sendiri.

"Kita minta mereka sabotase radio ini, mereka siaran sendiri. Disini bisa lebih ke promonya mereka, daftar lagu yang diputar itu yang pernah mempengaruhi musik mereka. Setelah itu ada live accoustic dari mereka," ujar salah satu operator di Demajors Radio, Yanuari Murdiansah, 24 tahun.

Musikus indie yang sudah pernah siaran di program ini adalah Endah n Rhesa, High Time Rebellion, Indische Party, Ade Paloh, dan lainnya. Para bintang tamu ini boleh melakukan siaran selama dua jam penuh.

Pecinta aliran musik Post-Rock, Dreampop, Ambience dan Shoegazing Sound bisa mendengarkan program Disorder Zone. Alasan aliran musik ini diangkat oleh Demajors Radio adalah karena media mainstream belum bernyali untuk menyiarkan musik-musik ini.

Bagi pecinta piringan hitam, Demajors Radio bekerja sama dengan Cafe Mondo dan Hi Fidelity Record untuk menyajikan program bernama Djarumondo. Program ini dipandu oleh David Tarigan, Shunsuke Satomata dan AK 47. "Jadi mereka datang kesini, siaran dan lagu-lagu yang diputar itu dari piringan hitam. Mau itu lagu Indonesia dari tahun 50'an hingga disko yang paling baru," jelas Yanuari.

Selain memutarkan lagu dari piringan hitam, mereka juga akan menyajikan informasi seputar sejarah piringan hitam yang diputarkan. Masih ada beberapa program lainnya, ini pun akan ditambahkan dengan siaran ekstra apabila Demajors sedang melangsungkan sebuah acara musik.

Cara siaran ini, dianggap ampuh bagi Demajors dalam memperdengarkan referensi musik yang lebih beragam kepada masyarakat. Mereka juga menjelaskan bahwa ini bisa mencakup ke daerah-daerah yang pendistribusian CD fisiknya tidak semudah di kota besar.
"Pendengarnya banyak banget, karena kita pantau dari Tweet yang masuk juga dan rata-rata dari luar daerah, seperti Lampung, Pekanbaru atau Semarang," kata Yanuari.

Demajors Radio juga telah membuat app di untuk perangkat Android, Blackberry dan Apple dan berencana akan membuat siaran TV streaming juga. Selain itu, cara mereka memperluas jaringan adalah dengan membuat versi off air, dalam beberapa waktu, dari program-program yang mengudara.

Geliat radio online di Indonesia memang sudah mulai ramai, misalnya RURU Shop Radio milik Ruang Rupa dan RadioMind. Dalam hal ini, Demajors mengakui tidak ada persaingan. "Kita enggak anggap saingan, kita anggap teman. Saling berdampingan aja," kata David Karto, Managing Director di Demajors.

(utw/utw)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT