Melihat fakta tersebut, sejumlah seniman turun dalam sebuah pertunjukan musik Melayu untuk mengimbangi tren yang berkembang saat ini. Konser musik Melayu bertajuk 'Pagelaran Musik Melayu, Bulan Dipagar Bintang' itu dihelat di Hotel Crown Jakarta, Rabu (16/1/2013) malam.
Sederet artis yang akan tampil antara lain Sulis, Fuad Balfas, Muchsin Alatas, Hamdan ATT, Fahad Munif, Ema Lopez, Mustafa Abdullah (Balasyik), Nizar Ali, dan Hendri Lamiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, lanjutnya, lirik-lirik musik Melayu era 1960-an sebagai ungkapan kerinduan asmara, diungkapkan dengan brilian.
"Misalnya, menggunakan alusi dan metafor kuno yang makin terasa asing bagi generasi muda dewasa ini, tapi akan ditirukan dengan khidmat dan syahdu oleh generasi zaman itu karena dirasa mewakili suatu gejolak hati yang halus, suci dan penuh kasih serta pemujaan yang pantas terhadap orang yang dicintai," ujarnya beberapa waktu lalu.
Geisz yang merupakan Produser Gita Cinta Production berharap 'Pagelaran Musik Melayu, Bulan Dipagar Bintang' menjadi pengingat akar kebudayaan, sekaligus apresiasi bagi para seniman musik Melayu. Ia sadar, akan terasa berlebihan jika berharap musik Melayu bisa mengalahkan industri musik pop saat ini.
"Setidaknya monumen itu bisa hadir, dan bukan hanya untuk mengenang, tapi juga menjadi bagian yang hidup dalam lanskap musik nasional sambil menghimpun lingkaran penggemar baru, betapapun kecilnya," tandasnya.
Antusiasme penonton ternyata cukup tinggi untuk konser tersebut. Tak lama setelah penjualan tiket dibuka langsung ludes.
Harga tiket dijual mulai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu dengan kuota sekitar 300 tiket. "Umur tiketnya cuma empat hari, langsung habis," terangnya kepada detikHOT, Rabu (16/1/2013).
(ich/mmu)











































