Jawabannya bisa ditemukan di DjakartARTmosphere yang digelar di Kartika Expo Centre, Jalan Gatot Subroto, Jakarta selatan, Sabtu (20/11/2010) malam. Sebanyak 4 babak disajikan dengan kolaborasi musisi muda dan tua berbagai jenis musik.
Pukul 17.00 WIB pintu masuk konser yang diadakan G Production itu dibuka. Pengunjung tidak langsung disajikan konser, namun pameran foto palataran pintu masuk konser. Foto-foto tersebut merupakan potret kehidupan Ibukota Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Drummer Zeke and the Popo Leonardo Ringo di babak ke dua. Leo, sapaan akrab Leonardo, tampil bersama Utha Likumahuwa. Di atas panggung dengan megenakan jas formal hitam, Leo mengaku begitu ngefans dengan musisi era 70-80an itu. Bahkan ia punya piringan CD lengkam Utha.
Penampilan mereka seperti reuni anak dan ayah. Bagaimana tidak, penonton seakan tersihir mendengar duet mereka di lagu 'Esokan Masih ada' dan 'Masih Ada Waktu'. Tidak hanya itu lagu-lagu ciptaan Leo pun sempat dinyanyikan Utha.
Tidak terlihat jiwa tua dari Utha yang kini berumur 60-an tahun. Bahkan Utha bisa dibilang menyemangati generasi tua dan muda yang menonton. Mereka beberapa kali dibuat kaget Utha. Malam itu Utha begitu enerjik menampilkan gaya R 'n B era 80'an.
"Sebenarnya Ahmad Albar itu gila, sebenarnya Oddy Agam itu gila. Semua gila, begitu juga Sylvia Saartje. Mereka masih sehat dan kuat. Makin tua, makin gila mereka," begitu seru Utha di akhir-akhir babaknya bersama Leo.
Namun benar apa yang dikatakan Utha, kegilaan makin terlihat pada lady rocker pertama Indonesia, Sylvia Saartje. Perempuan kelahiran Arnhem, Belanda, 15 September 1957 itu masih enerjik, semangat, dan tidak terlihat raut lelah selama 1 jam teriak di panggung bersama Gugun Blues Shelter. Gugun lebih banyak bermain lagu-lagu lawas Sylvia seperti 'Jakarta' dan 'geram'.
Dengan mengenakan tanktop hitam dan jeans berwarna sama, Sylvia berhasil menyihir penonton yang hadir. Padahal malam itu tidak banyak yang tahu lagu-lagu rock ala 70-an milik rocker yang telah menelurkan 10 album itu. Bayangkan saja,hingga kini tidak banyak berbeda dengan penampilan Sylvia. Rambutnya masih keriting, teriakannya masih melengking, dan jiwa rocker-nya pun masih kental.
Selanjutnya jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB, babak akhir DjakartARTmosphere dimulai. Band indie rock Navicula kali ini ditantang berkolaborasi dengan God Bless. Sudah tidak perlu diragukan lagi, aksi mereka memang cocok ditempatkan sebagai penutup acara. Mulai dari 'Nato', 'Menjilat Matahari', 'Rumah Kita', 'Sesat', 'Kehidupan', dan 'Semut Hitam' berhasil membuat kepala penonton terus mengangguk-angguk menikmati alunan nada penuh harmoni.
Akhirnya konser ditutup pada pukul 24.00 WIB dengan kolaborasi 'Semut Hitam' dan penampilan semua pengisi acara di atas panggung. (ebi/ich)











































