'Jus Musik': OMG Hari Gini Ngomongin Musik Haram?

'Jus Musik': OMG Hari Gini Ngomongin Musik Haram?

- detikHot
Jumat, 21 Mei 2010 15:17 WIB
 Jus Musik: OMG Hari Gini Ngomongin Musik Haram?
Jakarta - "Aku meminta 3 permohonan. Jangan tertawa, jangan menangis dan jangan tertidur," kata Al-Kindi sebelum memainkan biola di depan sang khalifah.

Pada musik pertama, semua yang hadir di istana tertawa mendengarkan alunannya. Pada musik kedua, pendengar berlinang air mata. Dan pada pertengahan musik ketiga, Al Kindi meninggalkan para hadirin yang tertidur pulas.

Al-Kindi adalah seorang filsuf yang hidup pada masa Daulah Abbassiah (752-1258). Ia dikenal sebagai pakar musik pertama di kalangan intelektual Islam. Bahkan ia mendirikan akademik musik pertama di dunia Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Al-Kindi muncul dalam buku 'Jus Musik' yang ditulis Ekky Imanjaya. Ekky adalah guru SMA High/Scope Jakarta yang sudah sering menerbitkan buku tentang budaya pop untuk remaja antara lain seperti 'Why Not: Remaja Doyan Nonton'.

'Jus Musik' dibuat Ekky untuk menjawab perdebatan apakah musik itu haram. Hingga kini meski katanya dunia sudah modern, perdebatan tentang halal haramnya musik memang masih terus berdengung. "Saya ingin menjembatani antara pihak yang terang-terangan mengharamkan alat musik dengan pihak yang terang-terangan menggunakan musik sebebas-bebasnya walaupun melabrak norma dan hukum agama," kata Ekky.

Maka untuk menguatkan argumennya bila musik tidak haram, buku yang terdiri dari 112 halaman itu menyitir sejumlah hadis. Ia juga mengutip Dr Yusuf Qardhawi yang menyatakan seluruh hadis mengenai haramnya musik adalah hadis lemah.

Selain menyitir hadis, Ekky pun memaparkan sejarah musik di dunia Islam. Dan ternyata usia musik di dunia muslim itu sudah sangat tua. Sebelum Al-Khindi, pada masa Daullah Umayyah I (623-750), sudah ada ahli musik bernama Ibnu Misjah. Lantas ada Yusuf bin Sulaiman Al-Khalib yang merupakan pengarang musik pertama dalam Islam yang menjadi rujukan teoretikus musik Eropa.

Dari sejarah yang jadul itu, 'Jus Musik'juga bergerak ke perkembangan musik 'religius' yangΒ  kontemporer. Disebut misalkan Yusuf Islam, Raihan, Qatrunnada sampai GIGI dan Ungu.

Pendek kata, 'Jus Musik' menegaskan masalah halal atau haram musik tidak perlu lagi dibesar-besarkan. Dalam bab 2 buku ini misalkan ditulis, "Hari gini masih ngomongin halal haram musik? OMG PDA STD DDT (Oh my God, please dong ah standar, don't do that).

Lalu kalau musik itu tidak haram, mengapa banyak pemusik yang terjerumus ke dunia hitam seperti narkoba dan gaya hidup bebas yang melanggar agama? Ekky memberikan analogi. Musik itu ibarat pisau, yang bila digunakan secara benar akan mendatangkan manfaat. Namun sebaliknya bila digunakan secara salah akan menyebabkan mudarat.

Maka itu 'Jus Musik' juga memberi panduan agar remaja yang menyukai atau ingin terjun ke dunia musik tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Buku ini ditulis dengan bahasa remaja yang gaul dan ringan. (iy/yla)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads