Dangdut dan keroncong yang terkenal sebagai musik khas Indonesia memang masih disukai para pecintanya. Pertunjukan dua jenis musik itu pun masih sering dijumpai di atas panggung, misalnya saat hajatan pernikahan.
Namun dalam industri rekaman Indonesia, kuantitas produksi musik dangdut dan keroncong terus menurun. Bisa dibilang pasar musik Indonesia saat ini dikuasai genre musik pop seperti Wali, ST 12, Ungu, D'Bagindaz, d'Masiv, dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bens, salah satu cara untuk membangkitkan kembali musik dangdut dan keroncong adalah dengan memberikan karya yang lebih kreatif. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan kesuksesan pedangdut Ridho Rhoma dan penyanyi Bondan Prakoso.
Ridho bersama Sonet 2 Band merevolusi musik dangdut menjadi lagu yang terdengar lebih trendy dan 'anak muda banget'. Lagu 'Menunggu' yang dilantunkan anak Raja Dangdut Rhoma Irama itu terbukti banyak disukai.
Bondan Prakoso bersama Fade2Black juga menunjukkan kreativitasnya dengan mengeksplorasi musik keroncong. Lewat single 'Kroncong Protol', Bondan menunjukkan kalau musik keroncong juga masih enak didengar, apalagi jika disesuaikan dengan perkembangan musik saat ini.
Ngomong-ngomong soal musik Tanah Air, sejak masa pemerintahan Presiden Megawati, Hari Musik Nasional mulai diperingati setiap 9 Maret. Kenapa 9 Maret? Karena untuk memberi penghargaan kepada pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman yang lahir pada 9 Maret 1903.
Peringatan Hari Musik Nasional digagas oleh Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI). Penetapan Hari Musik Nasional juga diharapkan bisa menjadi pengingat untuk para penikmat musik agar lebih menghargai musik dalam negeri, antara lain dengan tidak membeli atau melakukan pembajakan produk musik Indonesia.
(ich/mmu)











































