Pada suatu hari yang cerah, dia pergi ke dokter membawa setetes sperma dalam botol. Dia ingin punya anak, tapi tidak ingin ada pria di sampingnya. Setidaknya untuk saat ini. Sebab, hidup sendiri hanyalah gaya hidup yang dipilih untuk sementara. Sampai, seorang pria "mencuri" taksimu.
Di New York, istilah mencuri taksi mungkin memang lazim --kau merasa telah menghentikan sebuah taksi, tapi ketika masuk dan menghenyakkan tubuhmu di jok belakang, ternyata ada orang lain yang juga mencegat taksi itu dan dengan kecepatan yang sama duduk di sampingmu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bertemu, dan sudah barang tentu kemudian jatuh cinta, dengan Stand merupakan hal yang tidak disangka-sangka oleh Zoe. Dia kan baru saja membuahi rahimnya; bagaimana menjelaskannya kepada pria itu jika nanti tiba-tiba hamil?
"Back Up Plan" adalah cerita tentang kehidupan yang serba indah dari seorang perempuan lajang kota yang mandiri secara ekonomi, dengan gaya hidup yang hebat. Baru saja dia memutuskan untuk hidup sendiri, dan mengantisipasinya dengan membuat "bayi tabung", eh ternyata sudah bertemu (lagi) dengan pria idaman.Β
Stand juga punya kehidupan yang tidak kalah menyenangkan: dia seorang "petani" keju-organik-susu-kambing. Awalnya kita hanya melihat dia sebagai penjual keju kaki lima di pasar pertanian. Namun, belakangan ditunjukkan, ternyata dia punya rumah besar dengan tanah yang luas, tempat dia mengolah kejunya.
Dan, inilah adegan yang ditunggu-tunggu dari sebuah film komedi-romantis: Zoe berkunjung, dan Stand yang telanjang dada sedang mengemudikan traktor di ladang. Lalu, Stand mengajak Zoe melihat-lihat ruangan di rumahnya, dan berakhir di sebuah gudang penuh keju. Lalu, hubungan seks.Β
Tapi, formula komedi romantis yang sudah kita hafal di luar kepala mengatakan, setelah adegan yang super-romantis, akan terjadi konflik. Sumbernya, bisa saja, hanya karena salah paham dalam obrolan! Karya sutradara Alan Poul ini berjalan di atas pakemnya setepat-tepatnya, dan menontonnya seperti ikutan kuis "coba tebak adegan apa setelah ini".
Hubungan antara Zoe dan Stand berjalan di atas hukum yang selalu bisa dijumpai dalam film-film sejenis.Β
Sebagai hiburan malam Minggu, film ini tentu sudah memberikan segalanya: pasangan yang fantastis, dialog yang ringan, tempat makan malam super-romantis dan humor-humor konyol pengocok perut --apalagi?
Jennifer Lopez sebagai Zoe menjadi aset terbesar film ini, memainkan peran standar sebagai perempuan yang seolah-olah tidak pernah punya masalah sepanjang hidupnya. Alex O'Loughlin berperan sebagai pria canggung yang minder karena selain jatuh cinta pada perempuan yang lebih kaya dan mapan. Tanpa perlu bicara soal "chemistry" segala macam, penokohan yang serba mengawang-awang membuat pasangan ini lebih mudah diterima dan disukai, karena sejauh menyangkut hubungan asrama, kita memang lebih suka berfantasi.
(iy/iy)











































