Dian Sastro Cs Tuntut Pembubaran LSF
Rabu, 03 Jan 2007 17:05 WIB
Jakarta - Tak hanya mengembalikan Piala Citra yang pernah diterima, Dian Sastro cs yang tergabung dalam komunitas 'Masyarakat Film Indonesia' juga punya tuntutan lain. Mereka meminta lembaga sensor film dibubarkan saja. Dalam pernyataan sikapnya, komunitas yang mayoritas beranggotakan sineas muda tersebut mengaku selama ini kerap dikecewakan oleh lembaga perfilman Indonesia. Mulai dari sensor film, pelarangan film, hingga puncaknya kemenangan 'Ekskul' sebagai film terbaik 2006 yang dinilai penuh intrik.Merasa harus bertindak untuk menanggapi situasi tersebut mereka menggelar aksi pengembalian Piala FFI yang pernah diterima. Piala tersebut nantinya akan diserahkan kembali ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Berikut potongan pernyataan "Kami masyarakat film indonesia percaya harusnya FFI menjadi tolak ukur perkembangan film indonesia. Menjadi stimulasi penciptaan melalui penghargan yang sesuai dengan pencapaian film indonesia serta sarana apresiasi bagi masyarakat indonesia.Kami juga percaya bahwa FFI seharusnya mencerminkan kebijakan perfilman Indonesia, yang tanggap terhadap dinamika perkembangan dunia film.Atas dasar pemikiran tersebut, kami menyatakan protes:1. Terhadap penyelenggaraan dan hasil penjurian FFI 2006: protes ini didasarkan pada fakta Film 'Ekskul' produksi PT Indika Entertainment yang memenangi piala citra sebagai film, terbaik, menurut kami telah melakukan hak cipta dalam penggunaan ilustrasi musik film. Situasi ini membuktikan, buruknya kualitas penyelenggaraan FFI dan rendahnya kompetensi pihak penyelenggara FFI yang antara tahun 2004-2006 diselenggarakan secara tidak transparan, baik dalam sisi pelaksanaan dan finansial.2. Terhadap sistem kelembagaan perfilman Indonesia yang masih dijalankan oleh lembaga dan organisasi bentukan Departemen Penerangan di masa orde baru. Lembaga yang kami maksud adalah Lembaga Sensor Film, BP2N, oragnisasi-organisasi yang bernaung di bawahnya. Lembaga dan organisasi tersebut tidak mencerminkan semangat pembaharuan. dan tidak berpihak pada kemajuan perfilman indonesia.Untuk itu kami masyarakat film Indonesia menuntut pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwista untuk melakukan langkah-langkah sebagai berikut:1. Demi nama baik perfilman Indonesia, segera mencabut anugerah Piala Citra film terbaik dan yang berkaitan dengan film tersebut dalam FFI 2006 dan meminta penyelenggara FFI 2006 untuk melakukan pertanggungjawaban hasil penilaian terhadap film tersebut secara terbuka kepada publik.2. Menghentikan sementara penyelenggaraan FFI.3. Segera membubarkan lembaga-lembaga perfilman yang ada, dan membentuk sistem lembaga perfilman yang baru, secara demokratis dan tranparan, yang sesuai dengan perkembangan film saat ini dengan melibatkan para pelaku aktif perfilman Indonesia. 4. Mendesak DPR RI segera untuk mencabut UU no 8 tahun 1992 tentang perfilman dan mengganti dengan UU baru yang mendukung kemajuan.5. Membuat rancangan kebijakan yang bersifat strategis bagi perkembangan budaya dan ekonomi perfilman indonesia dengan melibatkan para pelaku aktif perfilman Indonesia. 6. Melakukan perubahan mendasar pada peraturan dan penyelenggaraan sensor film dengan mengganti LSF menjadi sebuah lembaga klasifikasi film.Sebagai tanda keseriusan kami, dengan ini kami mengembalikan piala citra yang telah kami terima dalam penyelenggaraa FFI 2004-2006.Apabila tuntutan di atas tidak ditanggapi, kami akan melakukan boikot terhadap penyelenggaraan FFI di masa yang akan datang, dan melakukan perlawanan secara terstruktur terhadap segala kegiatan yang diselenggarakan atau diadakan oleh badan pemerintah yang mengatasnamakan perfilman Indopnesia. Sikap ini kami ambil sebagai wujud tanggung jawab kami kepada masyarakat yang selama ini mendukung keberadaan kami dan menjadi salah satu alasan utama mengapa kami terus bekerja dan berkarya.Jakarta 3 Januari 2007, -Masyarakat film Indonesia-Selama acara berlangsung beberapa artis masih berdatangan, antara lain Tora Sudiro yang pernah terpilih sebagai aktor terbaik FFI 2004 lewat film 'Arisan!'. Namun sayangnya, bintang-bintang ini sepertinya enggan untuk berkomentar. Setelah masuk ke Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, mereka langsung keluar lewat pintu belakang. Insan film yang bisa dimintai komentarnya kebanyakan adalah para sutradara seperti Riri Riza, Hanung Bramantyo, Mira Lesmana dan Rudy Soedjarwo. (fta/fta)











































