Review The Black Phone: Teror yang Memuaskan

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 23 Jun 2022 13:03 WIB
Adegan dalam film The Black Phone yang diperankan Ethan Hawke.
(Foto: dok. Universal Pictures) The Black Phone adalah tontonan wajib bahkan kalau pun Anda bukan pecinta horor. Film ini dramatis tapi juga ia tidak malu-malu untuk mengajak penonton tertawa.
Jakarta -

Bocah-bocah di sebuah daerah suburban di Colorado pada tahun 1978 tahu bahwa mereka sedang dalam situasi yang tidak aman. Ada penculik berkeliaran yang mengambil anak-anak seumuran mereka. Selain balon hitam, tidak ada lagi informasi yang jelas mengenai si penculik. Siapa dia, apa modus operandinya, siapa saja targetnya, tidak jelas. Tapi itu tidak membuat bocah-bocah ini absen melakukan aktivitas mereka. Orang tua mereka sibuk bekerja. Atau dalam kasus Finney (Mason Thames), ayahnya terlalu sibuk untuk mabuk.

The Black Phone memulai film langsung dengan teror. Meskipun pembukaannya adalah adegan baseball tapi saya bisa merasakan aura tidak menyenangkan. Terutama setelah van hitam muncul secara tiba-tiba. Setelah opening title yang creepy, kita kemudian bertemu dengan kakak adik Finney dan Gwen (Madeleine McGraw). Mereka adalah jenis saudara yang tahu bahwa mereka tinggal dalam kondisi yang tidak kondusif. Ayah mereka (Jeremy Davies) tidak hanya seorang alkoholik tapi juga sangat ringan tangan. Finney dan Gwen hanya punya satu sama lain.

Elaborasi soal hubungan mereka berdua ini adalah pondasi yang sangat penting. Terutama ketika film mulai masuk ke gigi dua dan karakter utama kita dihadapkan dengan situasi yang runyam: dia akhirnya menjadi korban terakhir si penculik (Ethan Hawke). Berada di sebuah ruangan bawah tanah yang kedap suara, Finney tidak mempunyai apa-apa untuk menyelamatkan diri. Yang ada di ruangan itu hanya kasur dan sebuah telepon berwarna hitam yang kabelnya sudah terputus. Namun kemudian Finney mendengar telepon tersebut berdering dan suara-suara muncul. Entah bagaimana caranya, Finney bisa berkomunikasi dengan semua korban si penculik. Sekarang dia punya peluang untuk bisa kabur.

Ada untungnya juga Scott Derrickson tidak jadi menyutradarai sekuel Doctor Strange. The Black Phone meskipun tidak seseram Sinister tapi tetap sebuah thriller yang seru dan mencekam. Film ini adalah jenis tontonan menyenangkan yang sangat saya rekomendasikan ditonton ramai-ramai bersama teman-teman. Dengan durasi yang bersahabat dan di-edit dengan mantap, The Black Phone tidak pernah lepas menggenggam penonton.

Adegan dalam film The Black Phone yang diperankan Ethan Hawke.Adegan Mason Thames dalam film The Black Phone yang juga diperankan Ethan Hawke. Foto: dok. Universal Pictures

Ditulis oleh Derrikson bersama C. Robert Cargill dari cerpen berjudul sama yang ditulis oleh Joe Hill, The Black Phone sebenarnya adalah sebuah drama yang memakai baju thriller supernatural. Salah satu hal yang kurang saya sukai dalam film horor adalah bagaimana karakter utamanya merespons situasi. The Black Phone membuat saya senang sekali karena tidak hanya penulis skripnya berhasil membuat pondasi karakter yang baik (terutama Finney dan Gwen) tapi juga set-up yang sudah dirancang, dibalas dengan baik. Ini adalah contoh penulisan skrip yang baik. Ada alasan kenapa Finney digambarkan sebagai sosok yang tidak bisa melawan sementara Gwen jauh lebih gampang untuk mengambil batu dan memukul anak-anak nakal. Keputusan-keputusan ini membuat permasalahan yang dihadapi Finney nantinya menjadi lebih nikmat untuk dilihat.

Berbeda dengan Sinister yang memang menggunakan dedemit sebagai daya tarik utama, teror dalam The Black Phone adalah si sosok penculik. Memang ada makhluk halus di sini tapi mereka justru menjadi penolong (Derrickson, meskipun begitu, tidak tahan untuk menampilkan satu jumpscare paling efektif yang ada dalam film ini). Derrickson tidak banyak menjelaskan soal motivasi si penculik meskipun Anda bisa melihat remah-remah roti yang pembuatnya berikan. Mulai dari jenis hukuman yang si penculik pilih, senjata andalan dia atau bagaimana dia siap-siap menghukum tanpa menggunakan baju. Atau ketakutannya untuk menampilkan wajah. Petunjuk Derrickson lumayan jelas sehingga kengerian yang ada terasa efektif. Dan Ethan Hawke memainkan peran ini dengan sangat baik.

Dengan suara yang menyeramkan, Ethan Hawke berhasil membuat saya merinding setiap kali dia muncul. Dia memang tidak pernah dilihatkan secara langsung menyiksa atau menyakiti korban-korbannya tapi Hawke berhasil memberikan aura menyebalkan itu. Selain Hawke, Mason Thames dan Madeleine McGraw juga memberikan penampilan yang sangat mengesankan. Mereka berdua mencuri perhatian dengan porsinya masing-masing. Sementara McGraw berhasil membuat saya cekikikan dengan beberapa celetukannya, Thames tahu bagaimana cara memainkan hati penonton.

Meskipun set The Black Phone sederhana, film ini tetap enak dilihat. Visual jadulnya terasa dan ketika penonton diajak ke wahana horor, suasananya sangat mendukung. Dengan konklusi yang memuaskan, The Black Phone adalah tontonan wajib bahkan kalau pun Anda bukan pecinta horor. Film ini menghibur dari awal sampai akhir karena ia memiliki berbagai rasa. Film ini dramatis tapi juga ia tidak malu-malu untuk mengajak penonton tertawa. Tapi yang paling penting, film ini menegangkan. Ditonton di kegelapan bioskop, The Black Phone adalah pengalaman yang sangat seru.

Adegan dalam film The Black Phone yang diperankan Ethan Hawke.Adegan Madeleine McGraw dalam film The Black Phone. Foto: dok. Universal Pictures

The Black Phone dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)