Istirahatlah Gunawan Maryanto...

Jauh Hari Wawan S - detikHot
Kamis, 07 Okt 2021 12:57 WIB
gunawan Maryanto meninggal dunia
Gunawan Maryanto meninggal dunia. Foto: Jauh Hari Wawan S
Sleman -

Di gang sempit Blok E22 Karangmalang, Caturtunggal, Depok, Sleman, karangan bunga berjejeran menyampaikan kabar duka. Aktor, penulis, sekaligus sutradara Gunawan Maryanto berpulang.

Maut datang layaknya pencuri. Ia datang tiba-tiba mengambil yang tercinta. Cindhil begitu Gunawan Maryanto akrab disapa meninggal dunia Rabu (6/10) di RS Ludira Husada Tama Kota Yogyakarta sekitar pukul 20.00 WIB.

Kakak sepupu Cindhil, Agus Basuki (52) bilang almarhum meninggal karena serangan jantung. Sempat ditangani oleh dokter namun tidak tertolong lagi.

"Diagnosis dokter serangan jantung, sudah ditangani tapi pukul 8 malam almarhum sudah tidak tertolong lagi," kata Agus kepada wartawan di rumah duka, Kamis (7/10/2021).

Masa kecil Cindhil dihabiskan di Kampung Karangmalang. Ia dikenal dekat oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang punya bakat dalam dunia pertunjukan.

Menjadi sutradara pertunjukan sudah dilakoni Cindhil dari usia sekolah dasar. Mengisi pertunjukan adalah hal yang biasa dia lakukan. Ayahnya juga seorang seniman di kampung itu.

gunawan Maryanto meninggal duniaGunawan Maryanto meninggal dunia Foto: Jauh Hari Wawan S

"Kami kehilangan betul sosok Cindhil ini karena, sejak kecil sudah menghidupkan teater di kampung ini namanya Laskar Seni Amal Baik (Lasamba)," ungkapnya.

Cindhil dewasa, kemudian tinggal di Kasihan, Bantul, tepatnya di sekitar Teater Garasi, kelompok yang kemudian membesarkan namanya.

"Beliau begitu loyal sama satu profesi yaitu teater jadi aktivitasnya dihabiskan di dunia panggung," ucapnya.

Aktor sekaligus salah satu pendiri Teater Garasi Yudi Ahmad Tajudin menambahkan, sesaat sebelum dilarikan ke rumah sakit, Cindhil tengah memimpin rapat. Almarhum saat itu membahas suatu program yang dia gagas yakni podcast untuk aktor-aktor sepuh.

"Dia sedang rapat sekitar jam 3 sore rapat dengan manajemen Teater Garasi. Gunawan Maryanto ini kan direktur artistik Teater Garasi sejak Januari ini," kata.

"Dia hendak mendokumentasikan misalnya cara baca, estetikanya aktor-aktor sepuh itu juga sekaligus membantu sedikit (finansial) karena situasinya sedang sulit karena dia dapat program dari Goethe-Institut," tambahnya.

Dia ingat panggung terakhirnya bersama Cindhil terjadi pada 29 September lalu. Ia bersama Cindhil terlibat dalam pertunjukan kecil di Teater Garasi. Bahkan pertunjukan itu pun sampai saat ini belum memiliki judul.

"Pertunjukan itu merefleksikan perjalanan Teater Garasi terakhir untuk peringatan 25 tahun Prince Claus Laureate di Desember. Dia memberikan refleksi soal batas. Batas tentang seni dan bukan seni, batas antara kenyataan dan panggung, dan batas yang lain," ucapnya.

Sebagai seorang yang mendedikasikan hidupnya di dunia seni pertunjukan, sepak terjang Cindhil tak perlu diragukan. Karya-karyanya telah dikenal luas. Mungkin, yang jadi penyesalan terakhir bagi Cindhil ialah tak pernah menulis novel dalam hidupnya.

"Yang belum kesampaian menulis novel. Dulu pernah bilang ingin menulis novel tapi belum menemukan waktu untuk menulis," bebernya.

Baginya, kepergian Cindhil merupakan kehilangan besar untuk dunia pertunjukan. Dedikasinya, sikap disiplinnya dan pribadinya menjadi poin lebih.

"Dia buat saya dedikasi dan disiplinnya sebagai seniman dia akan fokus di sana, buat kami dia sosok baik pada semua orang cenderung menghindari konflik, dia perekat dinamika kelompok Teater Garasi, itu Gunawan Maryanto buat kami," pungkasnya.

Gunawan adalah seorang sutradara, aktor dan penulis yang lahir di Yogyakarta, 10 April 1976. Dia bekerja di Teater Garasi/Garasi Performance Institute sebagai Associate Artistic dan mengelola Indonesia Dramatic Reading Festival selaku penata program.

Lewat film The Science of Fictions (Hiruk Pikuk Si Alkisah), dia mendapatkan penghargaan sebagai pemeran utama Pria Terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2020.

Pada 2017, Gunawan Maryanto juga memenangkan penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Usmar Ismail Awards dalam film berjudul Istirahatlah Kata-kata. Dia berperan sebagai penyair Wiji Thukul.

Gunawan juga dikenal sebagai seorang penulis. Sejumlah karyanya di antaranya Waktu Batu (2004), Bon Suwung (2005), Usaha Menjadi Sakti (2009), dan The Queen of Pantura(2013). Selain itu ada pula Sukra's Eyes and Other Stories (2015)dan Pergi Ke Toko Wayang(2015).

Sementara di Teater Garasi sendiri, karya Gunawan di antaranya adalah Sri (adaptasi dari Yerma karya F Garcia Lorca, 1999), Repertoar Hujan(2001, 2005), Dicong Bak (2006), Gandamayu (2012) dan Krontjong Mendoet (2012).

Jenazah Gunawan Maryanto sebelumnya disemayamkan di Teater Garasi. Baru pada Kamis (7/10) pagi jenazah dibawa ke rumah duka Kampung Karangmalang, Depok, Sleman. Kini, makam Karangmalang menjadi tempat peristirahatannya.



Simak Video "Kenangan Manis Gunawan Maryanto di Panggung Teater"
[Gambas:Video 20detik]
(wes/wes)