Black Widow: Mengenal Almarhumah Black Widow Lebih Dalam

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 17 Sep 2021 08:07 WIB
Black Widow
(Foto: Dok. Marvel Studios) Black Widow adalah tontonan yang ketika disaksikan di bioskop, semua adegannya jadi terasa lebih make sense. Meski demikian film ini agak kurang menggigit.
Jakarta -

Ketika Anda membaca artikel ini, Anda pasti sudah tahu bagaimana nasib Natasha Romanoff/Black Widow (Scarlett Johansson) di akhir Avengers: Endgame. Akhir kisahnya yang lumayan menyedihkan membuat banyak penonton Marvel Cinematic Universe (MCU) bersedih. Yang lebih sedih lagi, sosoknya terlalu sensasional untuk tidak dibuatkan film solo.

Natasha Romanoff mungkin memang tidak sesakti Thor atau semagis Doctor Strange, tapi berkat masa lalunya yang misterius dan kemampuan bertarungnya yang di atas rata-rata, ia sangat mencuri perhatian. Dan sekarang, kita mendapatkan kesempatan untuk mengenal masa lalu almarhumah yang tidak kalah sedihnya.

Black Widow dibuka dengan sebuah adegan keluarga yang sangat normal dan hangat. Pembukaan ini sangat krusial dengan kepentingan cerita karena semuanya akan kembali ke kehangatan ini, momen kebersamaan ini. Black Widow mungkin dipenuhi dengan intrik, konspirasi dan berbagai jenis adegan laga yang tidak masuk akal tapi seru, tapi sebenarnya ini adalah sebuah kisah keluarga. Di pembukaannya kita bertemu dengan Natasha Romanoff remaja yang bermain dengan adiknya, Yelena kecil. Tak lama kemudian kedua orang tuanya, Melina (Rachel Weisz) dan Alexei (David Harbour) muncul dan mereka langsung segera bergerak untuk pergi.

Aksi Florence Pugh sebagai Yelena Belova di film Black WidowAksi Florence Pugh sebagai Yelena Belova di film Black Widow Foto: Dok. Marvel

Dalam sekuens yang lumayan menegangkan, Cate Shortland mengajak kita melalui adegan yang seru bahwa keluarga ini bukanlah keluarga sembarangan. Mereka ternyata adalah Agen Rusia yang pura-pura menyamar jadi keluarga untuk memata-matai Amerika. Ketika mereka semua berhasil sampai di tempat tujuan, Natasha baru tahu bahwa keluarganya adalah keluarga bohongan. Semua ini demi sebuah misi.

Beberapa tahun kemudian, setelah kejadian Captain America: Civil War, Natasha "menyepi" sebentar ketika tiba-tiba dia diserang oleh semacam manusia robot yang sakti. Tak lama kemudian dia mendapatkan pesan penting dari mantan adiknya, Yelena (Florence Pugh). Dan sekarang baik Natasha dan Yelena dikejar-kejar oleh musuh baru bernama Taskmaster, pembunuh-pembunuh canggih yang bisa menirukan gerakan lawannya.

Ditulis oleh Eric Pearson (dengan cerita dari Jac Schaeffer dan Ned Benson), Black Widow adalah sebuah proyek yang para pembuatnya tahu apa yang akan terjadi dengan nasib karakter utama sehingga mereka akhirnya fokus untuk menjadikan karakter sampingannya menjadi lebih mentereng. Dalam hal ini adalah Yelena.

Yelena yang dimainkan oleh Florence Pugh dengan sangat bagus, sangat mencuri perhatian bukan hanya karena dia mempunyai sense of humor yang sangat bagus (berbeda dengan Natasha yang jauh terkesan serius) tapi dia juga sama-sama ahli bertarung dan dia memiliki kharisma yang luar biasa. Tidak heran kalau Yelena akhirnya mendapatkan kesempatan untuk tampil bersinar di film-film MCU berikutnya (jangan lewatkan end credits-nya yang penting).

Black Widow sebagai sebuah blockbuster, kelihatan sekali bahwa ini adalah spektakel yang harus disaksikan di layar yang besar untuk menikmati keseruannya dengan maksimal. Setelah menyaksikan WandaVision, Falcon and Winter Soldier, dan Loki, kelihatan sekali MCU membedakan produk mereka untuk streaming dan untuk konsumsi bioskop.

Black Widow adalah tontonan yang ketika disaksikan di bioskop, semua adegannya jadi terasa lebih make sense. Sekuens pembukaannya, adegan Natasha ketemu Yelena untuk pertama kalinya yang akhirnya diikuti dengan chasing sequence yang tidak ada habisnya, sekuens membebaskan Alexei dari penjara sampai klimaksnya, benar-benar terasa spektakuler saat Anda menyaksikannya di kegelapan teater.

Memang, dibandingkan dengan "teman-temannya" yang lain, solo Black Widow ini agak kurang menggigit. Klimaksnya lemah (penjahatnya hanya muncul di 20 menit terakhir dengan gimmick "kekuatan" yang menggelikan). Belum lagi twist yang muncul ternyata tidak semengejutkan itu, malah cenderung mengada-ada. Ada banyak adegan yang dibuat terlalu "wow" sampai Anda akan mempertanyakan apakah Natasha manusia atau dia sebenarnya sakti mandraguna seperti Thor.

Tapi meskipun begitu, menyaksikan Black Widow adalah sebuah keharusan apabila Anda penggemar Black Widow. Meskipun ini bukan hasil yang optimal, tapi setidaknya akhirnya kita bisa berkenalan lebih dalam dengan si agen mata-mata itu.

Black Widow dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

-

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)