Balada Sepasang Kekasih Gila: Kisah Cinta Tak Biasa & Kritik Sosial

Shifa Nur Fadilla - detikHot
Rabu, 01 Sep 2021 17:02 WIB
Balada Sepasang Kekasih Gila
Kritik sosial dalam film Balada Sepasang Kekasih Gila. Dok. Instagram
Jakarta -

Pandemi yang tak kunjung usai membuat semakin maraknya perilisan film pada platform streaming. Balada Sepasang Kekasih Gila menjadi salah satu film Indonesia yang Agustus 2021 ini rilis di KlikFilm. Cerita yang diadaptasi dari novel Han Gagas ini menyuguhkan kisah cinta sepasang kekasih yang tak biasa.

Film yang disutradarai oleh Anggy Umbar ini mengisahkan tentang Djarot (Denny Sumargo) dan Lastri (Sara Fajira) yang menjadi sepasang kekasih ODGJ. Balada Sepasang Kekasih Gila menghadirkan tokoh Djarot dan Lastri, keduanya merupakan orang dalam gangguan jiwa.

Saat itu Djarot baru saja dibebaskan dari RSJ dan harus hidup di jalanan karena tidak memiliki keluarga. Begitu juga dengan Lastri yang baru saja bebas dari penjara. Lastri menjalankan hukuman penjara lantaran membunuh para laki-laki yang telah memperkosanya.

Pertemuan antara Lastri dan Djarot terjadi saat Djarot hendak menyelamatkan Lastri dari kejaran anak buah Lisa. Diceritakan Lastri saat bebas dari penjara ditipu oleh Tante Lisa yang mengaku sebagai keluarganya namun justru mempekerjakan Lastri sebagai pekerja seks komersial.

Pertemuan itu yang kemudian membuat Djarot dan Lastri saling jatuh cinta. Cerita dilanjutkan dengan upaya Lastri dan Djarot untuk menikah kemudian menjalankan kehidupan sebagai sepasang kekasih ODGJ.

Film Balada Sepasang Kekasih Gila ini selain mengisahkan tentang kisah cinta yang berbeda di antara ODGJ juga menyisipkan beberapa kritik sosial yang sangat dekat dengan keadaan masyarakat. Beberapa kritik sosial yang terkandung dalam film Balada Sepasang Kekasih Gila diantaranya,

1. Perlakuan tidak manusiawi terhadap orang dalam gangguan jiwa

Di awal film diceritakan Lastri sebagai orang dalam gangguan jiwa yang selalu diolok-olok oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan pandangan negatif terhadap orang dalam gangguan jiwa membuat Lastri tidak lagi di terima di kampungnya.

Hal itu memang kerap kali ditemui dalam lingkungan masyarakat. Adegan dalam film tersebut menggambarkan keadaan lingkungan masyarakat yang tidak bisa menerima orang dalam gangguan jiwa bahkan menganggapnya sebagai sampah masyarakat.

2. Pelecehan seksual

Kritik terhadap maraknya pelecehan seksual juga hadir dalam film ini. Adegan dimana Lastri mendapatkan pelecehan seksual dari ketiga laki-laki menggambarkan bahwa pelecehan seksual bisa terjadi pada siapapun dalam keadaan apapun, sekalipun itu orang dalam gangguan jiwa layaknya Lastri.

Dijelaskan juga oleh narator dalam film Balada Sepasang Kekasih Gila bahwa tubuh wanita dalam bentuk apapun selalu menjadi korban atas kebejatan. Nafsu birahi yang tidak mengerti atas rasa simpati, sebuah kenikmatan semu sesaat namun berakibat selamanya. Hal itu jelas menjadi kritik terhadap pelecehan seksual. Pelecehan seksual bukan sekadar tentang kesalahan korban dalam berpakaian tetapi pelecehan seksual menjadi isu yang sangat serius untuk segera ditangani.

3. Kasus korupsi

Adegan dimana Djarot sedang makan makanan sisa yang ia temukan di tempat sampah, juga menyisipkan kritik terhadap korupsi. Djarot yang sedang makan sambil melihat berita di televisi terkait kasus korupsi mengenai bantuan sosial.

Hal itu mengingatkan pada kasus korupsi yang terjadi di tengah pandemi ini yaitu korupsi dana bantuan sosial covid-19. Kritik terhadap korupsi juga ditujukan karena maraknya kasus korupsi yang tidak dihukum semestinya. Bahkan hukumannya tidak sebanding dengan para maling motor ataupun maling-maling lain yang sejatinya pelaku korupsi sama halnya dengan maling.

4. Aparat keamanan yang bertindak kasar

Kritik sosial lainnya pada film ini adalah ditujukan pada aparat yang kerap kali berlaku kasar. Kritik tersebut digambarkan pada adegan ketika Djarot dan para tunawisma lainnya tiba-tiba saja dibubarkan oleh sejumlah aparat.

Tindakan yang dilakukan aparat terhadap Djarot dan kaum tunawisma sangatlah kasar bahkan sampai memukul dan menendang. Perlakuan tidak manusiawi itu memang cukup sering ditemukan pada kehidupan masyarakat. pantas saja jika kritik terhadap hal tersebut juga disisipkan dalam film ini.

Film Balada Sepasang Kekasih Gila terlihat memiliki tema yang unik tetapi juga cukup berat untuk dicerna jika tidak fokus saat menontonnya. Banyaknya kritik sosial yang terkandung di dalam alur ceritanya membuat film Balada Sepasang Kekasih Gila ini sangat menarik untuk ditonton.

[Gambas:Instagram]





Simak Video "Detik-detik Wanita ODGJ Bawa Pisau saat Masuk ke Masjid di Jaksel"
[Gambas:Video 20detik]
(ass/ass)