Pandemi Jadi Ujian Terberat Buat Bioskop

Devy Octafiani - detikHot
Selasa, 30 Mar 2021 12:03 WIB
Sejumlah bioskop di Jakarta tetap buka bahkan dengan kelonggaran operasional dan kapasitas maksimal 50% dari sebelumnya hanya 25%. Nyatanya, masih sepi.
Bioskop kini sepi pengunjung / Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta -

Bioskop kehilangan peminatnya sejak setahun belakangan pandemi menerjang. Sebenarnya, bukan sekali ini saja bioskop dihadapkan pada tantangan untuk tetap bertahan.

Sebelumnya, ada masa di mana bioskop meredup ketika perfilman Tanah Air sempat mati suri. Mulai dari kurangnya peminat dan hadirnya film-film bertema seks di era 70-an, juga saat Indonesia tengah memasuki fase reformasi era 1998 yang kala itu, industri film kita bersaing dengan perkembangan film yang hadir dalam bentuk CD dan DVD.

Namun diungkapkan pengusaha bioskop, momen pandemi kali ini menjadi yang paling sulit untuk diatasi.

"Ini (di momen pandemi) paling parah. Saya rasa, sampai hari ini bioskop sudah buka 5 bulanan tapi juga begitu, tidak buka semuanya. Banyak kota-kota besar yang masih menutup bioskop. Dan ada kabupaten kota yang juga begitu, karena setiap pemerintah di daerah-daerah kan punya kebijakan sendiri," ungkap Djonny Syafruddin, ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) saat dihubungi.

Jaringan bioskop XXI mengungkapkan hal senada. Pandemi menjadi tantangan terberat yang dihadapi jaringan bioskop terbesar di Indonesia ini selama 30 tahun berdiri.

"Seperti yang kita ketahui bersama, hingga saat ini, jaringan bioskop belum dapat melakukan kegiatan secara optimal. Namun serangkaian kewajiban harus tetap diselesaikan, seperti biaya sewa tempat, perawatan bioskop, biaya listrik dan air, sampai biaya gaji karyawan," ungkap XXI dalam pernyataan yang diterima detikcom.

Djonny Syafruddin mengemukakan, kerugian yang harus ditanggung bioskop tiap bulannya. Meski sudah diizinkan untuk dibuka dan beroperasional kembali, bioskop tak lantas dapat membuka keseluruhan layar karena memperhitungkan biaya operasional yang harus ditanggung.

"Kenapa mereka buka, tutup, buka? Karena merugi. Ruginya ada yang sampai Rp 150 juta per bulan. Untuk biaya listrik sendiri bisa sampai Rp 70 juta per bulannya," ungkap pengusaha yang hampir 30 tahun berkecimpung di usaha bioskop ini.

Selain hilangnya minat publik nonton ke bioskop, jumlah film yang dirilis juga menjadi salah satu faktor bioskop kesulitan untuk 'hidup' kembali.

Pandemi membuat banyak rumah produksi untuk tak merilis filmnya dalam kondisi seperti ini.



Simak Video "Cinema XXI Lakukan Penelitian soal Virus Corona di Studio Bioskop"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/dar)