One Night In Miami: Ketika Empat Legenda Berkumpul

ADVERTISEMENT

Hot Review

One Night In Miami: Ketika Empat Legenda Berkumpul

Candra Aditya - detikHot
Rabu, 27 Jan 2021 14:01 WIB
One Night In Miami
Film One Night In Miami Foto: dok ist
Jakarta -

Malcolm X, Muhammad Ali, Jim Brown dan Sam Cooke berkumpul dalam satu ruangan. Dan bukan, ini bukan awal kalimat dari sebuah lelucon. Ini adalah premis dari debut penyutradaraan aktris peraih Emmy dan Oscar Regina King yang diadaptasi dari drama teater yang ditulis oleh Kemp Powers.

Dan seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari drama teater, bersiaplah untuk menyaksikan adu akting dari aktor-aktor muda yang sangat berbakat. One Night In Miami dibuka dengan perkenalan terhadap karakter-karakternya sebelum pembuatnya memaksa mereka untuk stuck di sebuah kamar hotel di Miami. Yang pertama adalah Muhammad Ali yang waktu itu masih menggunakan nama Cassius Clay (Eli Goree).

Cassius yang menguasai pertandingan terlihat agak sedikit arogan di atas ring sebelum lawannya memukul wajahnya yang membuatnya terkejut dan terkapar. Yang kedua adalah Sam Cooke (Leslie Odom Jr.), seorang up and coming penyanyi soul yang hitsnya sudah beredar dimana-mana. Malam itu Cooke tampil di Copacabana, sebuah tempat yang biasanya menampilkan performer kulit putih. Dan seperti yang bisa ditebak, kemunculan Cooke membuat banyak pengunjung pergi.

Rasisme masih kuat di tempat tersebut dan Cooke pun tampil jelek malam itu. Yang ketiga adalah Jim Brown (Aldis Hodge) yang pergi ke rumah teman keluarga bernama Mr. Carlton (Beau Bridges) dan tidak boleh masuk ke rumah hanya karena dia berkulit hitam meskipun si pemilik rumah menyelamatinya atas prestasinya sebagai pemain NFL. Dan yang terakhir adalah Malcolm X (Kingsley Ben-Adir) yang berdiskusi dengan istrinya untuk meninggalkan organisasi yang selama ini dia dukung, Nation of Islam.

Keempat legenda ini akhirnya berkumpul dan dinding pun bergetar. Kemp Powers yang mengadaptasi naskah drama teaternya sendiri ke medium film ternyata tidak mengalami kesulitan sama sekali. One Night In Miami mengalir dengan lancar tanpa halangan apapun. Setiap karakter terlihat jelas motivasi dan semua keraguan yang mereka rasakan.

Setiap karakter mempunyai sesuatu yang ingin mereka sampaikan dengan clear. Karena ia tahu bahwa One Night In Miami akan lebih menohok di separuh akhir, Powers melenakan penonton dengan separuh pertama yang easy going. Penonton diajak untuk berkenalan dengan keempat karakter ini dengan santai. Kita diajak untuk menyaksikan hal-hal konyol yang mereka lakukan sebelum Powers mengajak penonton untuk stuck dengan berbagai kekecewaan dan amarah yang selama ini mereka simpan rapat-rapat.

Tentu saja senjata dari semua drama teater adalah dialog-dialognya. Dialog adalah rajanya. Ditransfer ke medium film, King berhasil menerjemahkan itu tanpa kehilangan sisi sinematiknya. One Night In Miami tetap terasa powerful dan penting dengan dialog-dialognya yang sangat kuat tapi pada saat yang bersamaan tetap terasa seperti sebuah film dan bukannya sebuah drama teater walaupun mayoritas adegan terjadi di sebuah kamar hotel. Ini karena Regina King menggunakan kamera sebagai teman terbaiknya.

Melalui kamera sinematografer Tami Reiker kita melihat semua aksi reaksi dari karakter-karakternya. Apa yang terjadi dengan Sam Cooke ketika Malcolm X menuduhnya sellout. Apa yang terjadi dengan Jim Brown ketika tahu bahwa Cassius Clay berniat untuk mengumumkan ke publik bahwa dia sekarang seorang Muslim? Aksi reaksi ini terekam dengan baik sehingga argumen yang kita saksikan sepanjang film terasa nyata seolah-olah kita berada di ruangan yang sama dengan mereka.

Bagian terjenius dari film ini mungkin ada di casting department. Siapapun yang akan membuat adaptasi drama teater tahu bahwa untuk membuat dialog-dialog di skrip bernyawa, mereka harus mencari aktor yang baik. Beruntunglah Regina King menemukan Kingsley Ben-Adir, Eli Goree, Aldis Hodge dan Leslie Odom Jr. karena tanpa mereka berempat mungkin film ini akan terasa biasa saja. Masing-masing aktor ini tidak hanya membuat karakter-karakter legendaris ini hidup tapi juga terasa tiga-dimensional.

Mereka semua memiliki chemistry yang kuat satu sama lain tapi ketika mereka berdiri sendiri di layar, mereka juga tetap menghipnotis. Tentu saja One Night In Miami adalah sebuah karya fiksi yang mengandai-ngandaikan apa yang sebenarnya terjadi ketika empat legendaris ini bertemu. Tapi sebagai sebuah film yang mencoba untuk memberikan cermin kepada masyarakat apa yang terjadi dengan masyarakat pada saat itu (dan juga masyarakat sekarang, khususnya di Amerika Serikat), One Night In Miami menjadi sebuah film yang sangat penting untuk ditonton. One Night In Miami adalah tontonan yang menghibur meskipun rasa sakit dan traumanya memberikan bekas di dalamnya. Dan sebagai debut penyutradaraan film panjang, Regina King siap untuk bertanding.

One Night In Miami dapat disaksikan di Amazon Prime


Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

[Gambas:Youtube]





Simak Video "'Bloodshot', Mungkin Cuma Bisa Dinikmati Fans Vin Diesel"
[Gambas:Video 20detik]
(nu2/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT