Podcast Penonton Bayaran: Kontroversi Film Cuties Netflix

Atmi Ahsani Yusron - detikHot
Selasa, 15 Sep 2020 20:44 WIB
Cuties
Foto: Podcast Penonton Bayaran detikcom episode ini mengulas Cuties (Netflix)
Jakarta -

Film Cuties selama beberapa hari terakhir jadi film Netflix yang banyak dikecam. Lantaran menampilkan anak-anak kecil yang melakukan adegan-adegan yang tidak pantas.

Cuties kemudian jadi kontroversi. Hingga akhirnya masyarakat yang merasa terganggu dengan film ini pun menyuarakan cancel Netflix.

Podcast Penonton Bayaran episode pekan ini memberi ulasan buat film arahan Maïmouna Doucouré ini. Episode Podcast Penonton Bayaran episode Cuties sudah bisa didengarkan di Spotify:

Cuties adalah film Prancis yang menghadirkan kritik terhadap seksualisasi masyarakat terhadap perempuan. Di dalam film tersebut ditampilkan banyak hal yang tidak nyaman buat dipandang. Berkisah tentang seorang anak perempuan berusia 11 tahun bernama Amy, yang lahir dari keluarga muslim Senegal.

Amy tinggal bersama ibunya, Miriam, dan tinggal di pinggiran kota Paris. Ayah Amy ada di Senegal dan berencana kembali ke Prancis. Sebuah situasi kemudian membawa Amy berada di berbagai konflik mulai dari permasalahan keluarga, budaya, hingga pergaulan dengan teman-temannya di grup bernama Cuties.

Sutradara film ini, Maïmouna Doucouré, mengaku melakukan riset panjang sebelum mengeksekusi Cuties. Kurang lebih satu setengah tahun dia habiskan buat melakukan penelitian. Dia pun bertemu dengan ratusan anak perempuan pra-remaja dan mendengarkan cerita mereka.

Dalam proses penelitiannya itu, Maïmouna Doucouré menemukan fakta bahwa perempuan-perempuan muda yang ditemuinya begitu mendewakan likes dan followers di media sosial.

Maïmouna Doucouré menampilkan film Cuties dari sudut pandang Amy. Lewat film ini, dia ingin mengajak penonton untuk melihat dunia seperti apa Amy melihatnya.

"Kita coba melihat apa yang Amy lihat dan rasakan apa yang Amy rasakan. Dalam banyak hal, Amy menjalani kehidupannya melalui tiga budaya: keluarganya, budaya barat Prancis, dan fiksi hyperrealistic dari media sosial, yang biasanya dibuat pertama di Amerika. Cobalah untuk mengalami sendiri betapa sulit dan membingungkannya untuk tumbuh dalam tiga budaya ini," katanya.

(aay/nu2)