"Semua biaya produksi ditanggung oleh Opshid. Kami menghabiskan sekitar Rp. 16 miliar," ujar koordinator marketing Opshid wilayah Surabaya Oktovan Iwan kepada detikcom, Jumat (3/11/2017).
Tak hanya untuk biaya teknis pembuatan film, biaya produksi film Wage ini juga digunakan untuk menelusuri sejarah WR Soepratman secara detail. Nantinya pada film tersebut tak hanya menceritakan perjuangan WR Soepratman membuat lagu kebangsaan, namun juga kisah masa kecilnya dan pandangan pribadinya mengenai kemerdekaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Iwan, WR Soepratman adalah sosok yang menginsipirasi dengan karyanya yang luar biasa dan kecintaannya terhadap Indonesia. Ini mengajarkan kepada masyarakat bahwa perjuangan para pahlawan tidak hanya berbentuk perang tapi juga bisa dilakukan dengan berkarya untuk negeri. Begitu cintanya terhadap tanah air, WR Soepratman mau meninggalkan zona nyamannya dan mau berjuang untuk kemerdekaan NKRI.
"Wage ini sosok yang menginspirasi. Dia mengajarkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dengan kekerasan (perang) tapi bisa juga dilakukan dengan karya. Selain itu saya juga kagum dengannya karena mau keluar dari zona nyamannya dimana dia harusnya bisa hidup enak di Makassar tapi memilih untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan," ujarnya.
Adanya film Wage ini diharapakan masyarakat bisa mengetahui lebih jauh sekaligus meneladani sosok pencipta lagu Indonesia Raya itu.
"Saya berharap film ini semakin memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai sosok Wage sekaligus meneladani teladan hidupnya," pungkas pengurus DPD Surabaya itu. (nu2/nu2)