'Life': Teror Lintah Luar Angkasa

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 24 Mar 2017 14:32 WIB
Foto: skydance media
Jakarta - 'Gravity' terbukti membangkitkan semangat para pembuat film untuk membuat film tentang luar angkasa. Setelah 'The Martian' dan diikuti dengan 'Passengers' beberapa bulan lalu, kini hadir lagi sebuah petualangan menyeramkan di luar angkasa dengan tajuk 'Life'. Bedanya dengan 'Gravity', Life adalah sebuah sci:fi drama yang menghadirkan alien sebagai musuh tokoh utamanya.

Dalam 'Life', kita bertemu dengan enam awak kru International Space Station yang tujuannya mencari sampel dari Mars sebagai bahan penelitian. Enam orang itu adalah David Jordan (Jake Gyllenhaal), Miranda North (Rebecca Ferguson), Rory Adams (Ryan Reynolds), Sho Kendo (Hiroyuki Sanada), Hugh Derry (Ariyon Bakare) dan Katerina Bolovkin (Olga Dihovichnaya). Mereka bekerja sesuai dengan keterampilan masing-masing; ada awak kapal, kapten, ilmuwan, dokter dan teknisi.

Semuanya berjalan lancar. Hugh, sang ilmuwan, berhasil melakukan eksperimen dengan sampel dari Mars tersebut. Ini membuktikan bahwa ada kehidupan lain selain di Bumi. Makhluk tersebut kemudian diberi nama Calvin. Berbentuk seperti lintah, Calvin nampak aman. Sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa Calvin mulai cerdas dan eksperimen mereka malah menjadi malapetaka.

Kini misi mereka adalah menyelamatkan diri dan memusnahkan Calvin. Namun, Calvin semakin lama menjadi semakin besar dan cerdas. Mereka mengumpulkan segala cara agar Calvin tidak turun ke Bumi, atau nasib umat manusia akan menjadi runyam.
'
Life' ditulis oleh Rhett Reese dan Paul Wernick, yang telah berkolaborasi bersama dalam sejumlah film besar seperti 'Zombieland', 'G.I. Joe: Retaliation', dan 'Deadpool'. Berbeda dengan ketiga film tersebut yang sarat dengan unsur komedi, 'Life' tidak pernah gentar dalam menunjukkan drama. Tidak ada momen bercanda dalam film ini. Semuanya dibuat agar penonton mencengkeram kursi bioskop dengan erat.

Beberapa adegan menarik, meskipun plotnya merupakan "copy paste" dari 'Alien' karya Ridley Scott. Seperti halnya 'Alien', film ini sengaja memperkenalkan Calvin secara perlahan kemudian melepasnya begitu penonton sudah menyatu dengan karakter-karakternya. Hasilnya memang efektif. Penonton jadi lebih terikat dengan semua teror yang dilakukan makhluk tersebut di dalam kapal. Ketika karakter-karakter tersebut melakukan kesalahan, keadaan justru menjadi semakin seru.

Sementara itu, sutradara David Espinosa menjalankan 'Life' dengan mencomot banyak referensi sana-sini. Pembukaan panjang tanpa jeda itu jelas terinspirasi dari 'Gravity'. Shot-shot dengan sudut pandang si Calvin sepertinya terinspirasi, lagi-lagi, dari 'Alien'. Espinosa yang sebelumnya menyutradarai 'Safe House' dan film Swedia 'Easy Money' bisa menjaga ketegangan film ini. Meskipun plot dan konfliknya bisa ditebak, penonton tetap bisa terlibat dalam horor menyeramkan.

Espinosa juga berhasil membuat aktor-aktornya bermain dengan maksimal sesuai kapasitas. Musik dalam 'Life' memang terlalu spoiler, tapi tetap bisa diandalkan untuk membuat Anda tersentak. Dengan ending yang menggigit, 'Life' menjadi sebuah sci:fi yang menarik di tengah-tengah gempuran blockbuster Disney dan 'Kong'. Luar angkasa memang sebuah tempat yang berbahaya. Apalagi jika Anda harus berhadapan dengan makhluk asing yang tak punya belas kasih.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta. (mmu/mmu)